Tampilkan postingan dengan label Kisah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islam. Tampilkan semua postingan

20 Mei 2015

Mengapa Nabi Muhammad diutus di Arab?


Usia bumi telah tua. Lebih tua dari masa pertama saat Adam dan istrinya, Hawa, menginjakkan kaki di permukaannya. Silih berganti zaman dan keadaan. Manusia yang hidup di atasnya pun bergiliran. Allah utus rasul-rasul untuk mereka. Menyempurnakan fitrah yang telah dibawa. Hingga akhirnya diutus Muhammad bin Abdullah ﷺ di Jazirah Arab.
Lalu timbul pertanyaan, “Mengapa Arab?” “Mengapa tanah gersang dengan orang-orang nomad di sana dipilih menjadi tempat diutusnya Rasul terakhir ini?” Tidak sedikit umat Islam yang bertanya-tanya penasaran tentang hal ini. Mereka berusaha mencari hikmahnya. Ada yang bertemu. Ada pula yang meraba tak tentu arah.
Para ulama mencoba menyebutkan hikmah tersebut. Dan dengan kerendahan hati, mereka tetap mengakui hakikat sejati hanya Allah-lah yang mengetahui. Para ulama adalah orang yang berhati-hati. Jauh lebih hati-hati dari seorang peneliti. Mereka jauh dari mengedepankan egoisme suku dan ras. Mereka memiliki niat, yang insya Allah, tulus untuk hikmah dan ilmu.
Zaid bin Abdul Karim az-Zaid dalam Fiqh as-Sirah menyebutkan di antara latar belakang diutusnya para rasul, khusunya rasul terakhir, Muhammad ﷺ, di Jazirah Arab adaalah:
Pertama: Jazirah Arab adalah tanah merdeka.
Jazirah Arab adalah tanah merdeka yang tidak memiliki penguasa. Tidak ada penguasa yang memiliki kekuasaan politik dan agama secara absolut di daerah tersebut. Berbeda halnya dengan wilayah-wilayah lain. Ada yang dikuasai Persia, Romawi, dan kerajaan lainnya.
Kedua: Memiliki agama dan kepercayaan yang beragam.
Mereka memang orang-orang pagan penyembah berhala. Namun berhala mereka berbeda-beda. Ada yang menyembah malaikat. Ada yang menyembah bintang-bintang. Dan ada pula yang menyembah patung –ini yang dominan-.
Patung yang mereka sembah pun bermacam ragam. Setiap daerah memiliki patung jenis tertentu. Keyakinan mereka beragam. Ada yang menolak, ada pula yang menerima.
Di antara mereka juga terdapat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan sedikit yang masih berpegang kepada ajaran Nabi Ibrahim yang murni.
Ketiga: Kondisi sosial yang unik mungkin bisa dikatakan istimewa tatkala itu. Mereka memiliki jiwa fanatik kesukuan (ashabiyah).
Orang Arab hidup dalam tribalisme, kesukuan. Pemimpin masyarakat adalah kepala kabilah. Mereka menjadikan keluarga sendiri yang memimpin suatu koloni atau kabilah tertentu. Dampak positifnya kentara saat Nabi ﷺ memulai dakwahnya. Kekuatan bani Hasyim menjaga dan melindungi beliau dalam berdakwah.
Apabila orang-orang Quraisy menganggu pribadi beliau, maka paman beliau, Abu Thalib, datang membela. Hal ini juga dirasakan oleh sebagian orang yang memeluk Islam. Keluarga mereka tetap membela mereka.
Keempat: Jauh dari peradaban besar.
Mengapa jauh dari peradaban besar merupakan nilai positif? Karena benak mereka belum tercampuri oleh pemikiran-pemikiran lain. Orang-orang Arab yang tinggal di Jazirah Arab atau terlebih khusus tinggal di Mekah, tidak terpengaruh pemikiran luar. Jauh dari ideologi dan peradaban majusi Persia dan Nasrani Romawi. Bahkan keyakinan paganis juga jauh dari mereka. Sampai akhirnya Amr bin Luhai al-Khuza’I kagum dengan ibadah penduduk Syam. Lalu ia membawa berhala penduduk Syam ke Jazirah Arab.
Jauhnya pengaruh luar ini, membuat jiwa mereka masih polos, jujur, dan lebih adil menilai kebenaran wahyu.
Kelima: Secara geografi, Jazirah Arab terletak di tengah dunia.
Memang pandangan ini terkesan subjektif. Tapi realitanya, Barat menyebut mereka dengan Timur Tengah. Geografi dunia Arab bisa berhubungan dengan belahan dunia lainnya. Sehingga memudahkan dalam penyampaian dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia. Terbukti, dalam waktu yang singkat, Islam sudah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ke Eropa dan Amerika.
Keenam: Mereka berkomunikasi dengan satu Bahasa yaitu bahasa Arab.
Jazirah Arab yang luas itu hanya memiliki satu bahasa untuk komunikasi di antara mereka, yaitu Bahasa Arab. Adapun wilayah-wilayah lainnya memiliki banyak bahasa. Saat itu, di India saja sudah memiliki 15 bahasa resmi (as-Sirah an-Nabawiyaholeh Abu al-Hasan an-Nadawi, Cet. Jeddah: Dar asy-Syuruq. Hal: 22).
Bayangkan seandainya di Indonesia, masing-masing daerah berbeda bahasa, bahkan sampai ratusan bahasa. Komunikasi akan terhambat dan dakwah sanag lambat tersebar karena kendala bahasa saja. Dalam waktu yang lama, dakwah Islam mungkin belum terdengar ke belahan dunia lainnya karena disibukkan dengan kendala ini.
Ketujuh: Banyaknya orang-orang yang datang ke Mekah.
Mekah telah menjadi tempat istimewa sejak masa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam. Oleh karena itu, banyak utusan dari wilayah Arab lainnya datang ke sana. Demikian juga jamaah haji. Pedagang. Para ahli syair dan sastrawan. Keadaan ini mempermudah untuk menyebarkan risalah kenabian. Mereka datang ke Mekah, lalu kembali ke kampung mereka masing-masing dengan membawa berita risalah kerasulan.
Kedelapan: Faktor penduduknya.
Ibnu Khladun membagi bumi ini menjadi tujuh bagian. Bagian terjauh adalah kutub utara dan selatan. Inilah bagian yang ia sebut dengan bagian satu dan tujuh. Kemudian ia menyebutkan bagian dua dan enam. Kemudian bagian tiga dan lima. Kemudian menunjuk bagian keempat sebagai pusatnya. Ia tunjuk bagian tersebut dengan mengatakan, “wa sakanaha (Arab: وسكانها).
Penduduk Arab adalah orang-orang yang secara fisik proporsional; tidak terlalu tinggi dan tidak pendek. Tidak terlalu besar dan tidak kecil. Demikian juga warna kulitnya. Serta akhlak dan agamanya. Sehingga kebanyakan para nabi diutus di wilayah ini. Tidak ada nabi dan rasul yang diutus di wilayah kutub utara atau selatan. Para nabi dan rasul secara khusus diutus kepada orang-orang yang sempurna secara jenis (tampilan fisik) dan akhlak. Kemudian Ibnu Khaldun berdalil dengan sebuah ayat:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS. Ali Imran: 110). (Muqaddimah Ibnu Khaldun, Cet. Bairut: Dar al-Kitab al-Albani. Hal: 141-142).
Karena pembicaraan pertama dalam ayat tersebut ditujukan kepada orang Arab, yakni para sahabat. Kemudian barulah umat Islam secara umum.
Secara realita, kita juga meyakini, memang ada bangsa yang unggul secara fisik. Contohnya ras Mongoloid. Sebuah istilah yang pernah digunakan untuk menunjuk karakter umum dari sebagian besar penghuni Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar di lepas pantai timur Afrika, beberapa bagian India Timur Laut, Eropa Utara, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania. Memiliki ciri mata sipit, lebih kecil, dan lebih pendek dari ras Kaukasoid.
Ras Kaukasoid adalah karakter umum dari sebagian besar penghuni Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Pakistan dan India Utara. Walaupun penelitian sekarang telah merubah steorotip ini. Namun hal ini bisa kita jadikan pendekatan pemahaman, mengapa Ibnu Khladun menyebut Timur Tengah sebagai “sakanaha”.
Artinya ada fisik yang lebih unggul. Mereka yang sipit ingin mengubah kelopak mata menjadi lebih lebar. Mereka yang pendek ingin lebih tinggi. Naluri manusia menyetujui bahwa Kaukasia lebih menarik. Atau dalam bahasa lain lebih unggul secara fisik.
Namun Allah Ta’ala lebih hikmah dan lebih jauh kebijaksanaannya dari hanya sekadar memandang fisik. Dia lengkapi orang-orang Kaukasia yang ada di Timur Tengah dengan perangai yang istimewa. Hal ini bisa kita jumpai di buku-buku sirah tentang karakter bangsa Arab pra-Islam. Mereka jujur, polos, berkeinginan kuat, dermawan, dll. Kemudian Dia utus Nabi-Nya, Muhammad ﷺ di sana.
Mudah-mudahan bermanfaat…
Daftar Pustaka:
– Az-Zaid, Zaid bin Abdul Karim. 1424 H. Fiqh as-Sirah. Riyadh: Dar at-Tadmuria.
Sumber: Kisah MuUsia bumi telah tua. Lebih tua dari masa pertama saat Adam dan istrinya, Hawa, menginjakkan kaki di permukaannya. Silih berganti zaman dan keadaan. Manusia yang hidup di atasnya pun bergiliran. Allah utus rasul-rasul untuk mereka. Menyempurnakan fitrah yang telah dibawa. Hingga akhirnya diutus Muhammad bin Abdullah ﷺ di Jazirah Arab.
Lalu timbul pertanyaan, “Mengapa Arab?” “Mengapa tanah gersang dengan orang-orang nomad di sana dipilih menjadi tempat diutusnya Rasul terakhir ini?” Tidak sedikit umat Islam yang bertanya-tanya penasaran tentang hal ini. Mereka berusaha mencari hikmahnya. Ada yang bertemu. Ada pula yang meraba tak tentu arah.
Para ulama mencoba menyebutkan hikmah tersebut. Dan dengan kerendahan hati, mereka tetap mengakui hakikat sejati hanya Allah-lah yang mengetahui. Para ulama adalah orang yang berhati-hati. Jauh lebih hati-hati dari seorang peneliti. Mereka jauh dari mengedepankan egoisme suku dan ras. Mereka memiliki niat, yang insya Allah, tulus untuk hikmah dan ilmu.
Zaid bin Abdul Karim az-Zaid dalam Fiqh as-Sirah menyebutkan di antara latar belakang diutusnya para rasul, khusunya rasul terakhir, Muhammad ﷺ, di Jazirah Arab adaalah:
Pertama: Jazirah Arab adalah tanah merdeka.
Jazirah Arab adalah tanah merdeka yang tidak memiliki penguasa. Tidak ada penguasa yang memiliki kekuasaan politik dan agama secara absolut di daerah tersebut. Berbeda halnya dengan wilayah-wilayah lain. Ada yang dikuasai Persia, Romawi, dan kerajaan lainnya.
Kedua: Memiliki agama dan kepercayaan yang beragam.
Mereka memang orang-orang pagan penyembah berhala. Namun berhala mereka berbeda-beda. Ada yang menyembah malaikat. Ada yang menyembah bintang-bintang. Dan ada pula yang menyembah patung –ini yang dominan-.
Patung yang mereka sembah pun bermacam ragam. Setiap daerah memiliki patung jenis tertentu. Keyakinan mereka beragam. Ada yang menolak, ada pula yang menerima.
Di antara mereka juga terdapat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan sedikit yang masih berpegang kepada ajaran Nabi Ibrahim yang murni.
Ketiga: Kondisi sosial yang unik mungkin bisa dikatakan istimewa tatkala itu. Mereka memiliki jiwa fanatik kesukuan (ashabiyah).
Orang Arab hidup dalam tribalisme, kesukuan. Pemimpin masyarakat adalah kepala kabilah. Mereka menjadikan keluarga sendiri yang memimpin suatu koloni atau kabilah tertentu. Dampak positifnya kentara saat Nabi ﷺ memulai dakwahnya. Kekuatan bani Hasyim menjaga dan melindungi beliau dalam berdakwah.
Apabila orang-orang Quraisy menganggu pribadi beliau, maka paman beliau, Abu Thalib, datang membela. Hal ini juga dirasakan oleh sebagian orang yang memeluk Islam. Keluarga mereka tetap membela mereka.
Keempat: Jauh dari peradaban besar.
Mengapa jauh dari peradaban besar merupakan nilai positif? Karena benak mereka belum tercampuri oleh pemikiran-pemikiran lain. Orang-orang Arab yang tinggal di Jazirah Arab atau terlebih khusus tinggal di Mekah, tidak terpengaruh pemikiran luar. Jauh dari ideologi dan peradaban majusi Persia dan Nasrani Romawi. Bahkan keyakinan paganis juga jauh dari mereka. Sampai akhirnya Amr bin Luhai al-Khuza’I kagum dengan ibadah penduduk Syam. Lalu ia membawa berhala penduduk Syam ke Jazirah Arab.
Jauhnya pengaruh luar ini, membuat jiwa mereka masih polos, jujur, dan lebih adil menilai kebenaran wahyu.
Kelima: Secara geografi, Jazirah Arab terletak di tengah dunia.
Memang pandangan ini terkesan subjektif. Tapi realitanya, Barat menyebut mereka dengan Timur Tengah. Geografi dunia Arab bisa berhubungan dengan belahan dunia lainnya. Sehingga memudahkan dalam penyampaian dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia. Terbukti, dalam waktu yang singkat, Islam sudah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ke Eropa dan Amerika.
Keenam: Mereka berkomunikasi dengan satu Bahasa yaitu bahasa Arab.
Jazirah Arab yang luas itu hanya memiliki satu bahasa untuk komunikasi di antara mereka, yaitu Bahasa Arab. Adapun wilayah-wilayah lainnya memiliki banyak bahasa. Saat itu, di India saja sudah memiliki 15 bahasa resmi (as-Sirah an-Nabawiyaholeh Abu al-Hasan an-Nadawi, Cet. Jeddah: Dar asy-Syuruq. Hal: 22).
Bayangkan seandainya di Indonesia, masing-masing daerah berbeda bahasa, bahkan sampai ratusan bahasa. Komunikasi akan terhambat dan dakwah sanag lambat tersebar karena kendala bahasa saja. Dalam waktu yang lama, dakwah Islam mungkin belum terdengar ke belahan dunia lainnya karena disibukkan dengan kendala ini.
Ketujuh: Banyaknya orang-orang yang datang ke Mekah.
Mekah telah menjadi tempat istimewa sejak masa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam. Oleh karena itu, banyak utusan dari wilayah Arab lainnya datang ke sana. Demikian juga jamaah haji. Pedagang. Para ahli syair dan sastrawan. Keadaan ini mempermudah untuk menyebarkan risalah kenabian. Mereka datang ke Mekah, lalu kembali ke kampung mereka masing-masing dengan membawa berita risalah kerasulan.
Kedelapan: Faktor penduduknya.
Ibnu Khladun membagi bumi ini menjadi tujuh bagian. Bagian terjauh adalah kutub utara dan selatan. Inilah bagian yang ia sebut dengan bagian satu dan tujuh. Kemudian ia menyebutkan bagian dua dan enam. Kemudian bagian tiga dan lima. Kemudian menunjuk bagian keempat sebagai pusatnya. Ia tunjuk bagian tersebut dengan mengatakan, “wa sakanaha (Arab: وسكانها).
Penduduk Arab adalah orang-orang yang secara fisik proporsional; tidak terlalu tinggi dan tidak pendek. Tidak terlalu besar dan tidak kecil. Demikian juga warna kulitnya. Serta akhlak dan agamanya. Sehingga kebanyakan para nabi diutus di wilayah ini. Tidak ada nabi dan rasul yang diutus di wilayah kutub utara atau selatan. Para nabi dan rasul secara khusus diutus kepada orang-orang yang sempurna secara jenis (tampilan fisik) dan akhlak. Kemudian Ibnu Khaldun berdalil dengan sebuah ayat:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS. Ali Imran: 110). (Muqaddimah Ibnu Khaldun, Cet. Bairut: Dar al-Kitab al-Albani. Hal: 141-142).
Karena pembicaraan pertama dalam ayat tersebut ditujukan kepada orang Arab, yakni para sahabat. Kemudian barulah umat Islam secara umum.
Secara realita, kita juga meyakini, memang ada bangsa yang unggul secara fisik. Contohnya ras Mongoloid. Sebuah istilah yang pernah digunakan untuk menunjuk karakter umum dari sebagian besar penghuni Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar di lepas pantai timur Afrika, beberapa bagian India Timur Laut, Eropa Utara, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Oseania. Memiliki ciri mata sipit, lebih kecil, dan lebih pendek dari ras Kaukasoid.
Ras Kaukasoid adalah karakter umum dari sebagian besar penghuni Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Pakistan dan India Utara. Walaupun penelitian sekarang telah merubah steorotip ini. Namun hal ini bisa kita jadikan pendekatan pemahaman, mengapa Ibnu Khladun menyebut Timur Tengah sebagai “sakanaha”.
Artinya ada fisik yang lebih unggul. Mereka yang sipit ingin mengubah kelopak mata menjadi lebih lebar. Mereka yang pendek ingin lebih tinggi. Naluri manusia menyetujui bahwa Kaukasia lebih menarik. Atau dalam bahasa lain lebih unggul secara fisik.
Namun Allah Ta’ala lebih hikmah dan lebih jauh kebijaksanaannya dari hanya sekadar memandang fisik. Dia lengkapi orang-orang Kaukasia yang ada di Timur Tengah dengan perangai yang istimewa. Hal ini bisa kita jumpai di buku-buku sirah tentang karakter bangsa Arab pra-Islam. Mereka jujur, polos, berkeinginan kuat, dermawan, dll. Kemudian Dia utus Nabi-Nya, Muhammad ﷺ di sana.
Mudah-mudahan bermanfaat…
Daftar Pustaka:
– Az-Zaid, Zaid bin Abdul Karim. 1424 H. Fiqh as-Sirah. Riyadh: Dar at-Tadmuria.slim
Sumber: Kisah Muslim

13 Mei 2015

Kekerasan Massa Budha Terhadap Muslim


Biksu Budha menarik seorang gadis muslimah muda dan menempelkan pisau ke lehernya.

“Jika Anda mengikuti kami, aku akan membunuhnya,” ejek biksu kepada polisi, menurut saksi, massa Buddha bersenjatakan parang dan pedang mengejar hampir 100 Muslim yang berada di kota ini di pusat Myanmar.

Pada hari Kamis yang lalu , tanggal 21 Maret. Hanya dalam beberapa jam, 25 Muslim tewas. Massa Buddha menyeret tubuh mereka yang berlumuran darah di sebuah bukit di lingkungan yang disebut Mingalarzay Yone dan mereka bakar jenazah muslim tersebut. Beberapa muslim lainnya ditemukan telah dibantai dalam rawa . Seorang juru kamera Reuters melihat sisa tubuh dua anak, berusia 10 tahun atau bahkan lebih muda.

Kebencian etnis di Myanmar tak terkendali sejak kondisi aman 49 tahun kekuasaan militer yang berakhir pada Maret 2011. Dan itu menyebar ke seluruh negeri, dan mengancam transisi sejarah demokrasi negara itu. Tanda-tanda pembersihan etnis telah jelas, dan jelas pula siapa mereka yang menghasut itu.

Selama empat hari, setidaknya 43 orang tewas di kota berdebu dan hampir 100.000 penduduknya , hanya 80 km sebelah utara dari ibukota Naypyitaw. Hampir 13.000 orang, sebagian besar umat Islam, diusir dari rumah mereka dan bisnis. Pertumpahan darah yang dilakukan dan dipimpin oleh biksu Buddha yang dengan kekerasan massa , termasuk setidaknya 14 desa lainnya terancam di pusat Myanmar dan terdapatminoritas Muslim di tepi di salah satu negara Asia yang paling beragam etnis.

Berdasarkan wawancara dengan lebih dari 30 saksi, mengungkapkan pembantaian di waktu fajar menewaskan 25 Muslim di Meikhtila dipimpin oleh biksu Budha – dimana tokoh biksu itu sering dijadikan ikon demokrasi di Myanmar. Pembunuhan terjadi terlihat jelas bahwa polisi tidak melarang dan tiadanya intervensi oleh pemerintah daerah maupun pusat. Kalimat berupa grafiti tertulis di salah satu dinding menyerukan “pemusnahan Muslim.”

Kerusuhan yang terjadi di kota-kota lain, hanya berjarak beberapa jam dari ibukota komersial Yangon, pembantaian yang terorganisir dengan baik, bersekongkol dengan polisi yang hanya menutup mata. Bahkan setelah pembunuhan pada tanggal 21 Maret, menteri utama untuk wilayah tersebut tidak menghentikan kerusuhan yang berkecamuk. Menteri itu hanya menyerahkan kendali kota untuk biksu Budha radikal. Truk pemadam kebakaran di tahan,dan petugas penyelamat diintimidasi.

Pembantaian yang terorganisir

Namun, pembantaian Meikhtila oleh Buddha sangat terorganisir dan juga  kelambanan pemerintah dipantau oleh Reuters pada kejadian di barat Myanmar tahun lalu. Kali ini, pertumpahan darah melanda sebuah kota strategis di jantung negara itu, menimbulkan pertanyaan mengenai apakah reformis Presiden Thein Sein memiliki kontrol penuh atas pasukan keamanan Myanmar mengalami perubahan yang paling dramatis sejak kudeta tahun 1962.

Di negara mayoritas-Buddha dikenal sebagai “Tanah Emas” untuk pagoda yang berkilauan, kerusuhan tersebut menelanjangi kebenaran yang sering tersembunyi: Biksu Budha telah memainkan peran sentral dalam kerusuhan anti-Muslim selama dekade terakhir. Meskipun 42 orang telah ditangkap sehubungan dengan kekerasan, biarawan terus memberitakan gerakan cepat menyambut Buddhis nasionalis yang dikenal sebagai “969” yang memicu banyak masalah.

Pemeriksaan juga menunjukkan motif  ekonomi dan agama. Di salah satu negara termiskin di Asia, kaum Muslim Meikhtila dan bagian lain dari pusat Myanmar umumnya lebih makmur daripada kaum Buddha mereka. Di Myanmar secara keseluruhan, Muslim mencapai 5 persen dari rakyat myanmar. Dalam Meikhtila, mereka terdiri dari sepertiga. Mereka memiliki real estate utama, toko elektronik, toko-toko pakaian, restoran dan dealer sepeda motor, penghasilan muslim sangat baik dibandingkan  mayoritas Buddha, yang hanya bekerja keras sebagian besar sebagai buruh dan pedagang kaki lima.

Aung San Suu Kyi , Pemenang nobel perdamaian yang Diam Seribu bahasa

Kegagalan pemenang Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, pemimpin oposisi saat ini di parlemen, untuk meredakan ketegangan lebih lanjut merusak citranya sebagai kekuatan moral pemersatu. Suu Kyi, seorang Buddhis yang taat, mengatakan sangat sedikit dan kurang berperan terhadap kerusuhan ini. Dan

Suu Kyi menolak untuk diwawancarai untuk tragedi ini.

Kronologi kejadian kerusuhan

Awal kerusuhan sebenarnya bermula sangat sederhana.

Aye Aye Naing, 45-tahun wanita Buddha, ingin membuat persembahan makanan untuk biarawan lokal. Tapi dia tidak punya uang, dia ingat, Pada sekitar 9 pagi pada tanggal 20 Maret, sehari sebelum pembantaian, ia membawa jepit rambut emas ke kota. Dia itu mencoba menawarkan jepit rambut emas itu seharga 140.000 kyat ($ 160). Bersama suami dan adiknya, ia masuk New Waint Sein, toko emas milik seorang Muslim , pedagang muslim itu menawar 108.000 kyat nya. Sedang Aye ingin setidaknya 110.000 kyat untuk jepit rambutnya.

Pekerja toko emas melihat jepit rambut itu, ternyata jepit itu sedikit rusak, maka Pemilik took muslim itu, seorang wanita muda berusia 20-an, karena rusak maka ia menawar hanya 50.000 kyat. Aye protes, menyebut pemilik tidak masuk akal. Karena hinaan Aye maka pemilik toko muslim itu menamparnya, kata saksi. Aye Aye dan suaminya berteriak di toko tersebut dan segera tiga staf toko muslim itu menarik mereka keluar toko, menurut pengakuan sepihak suami isteri budha itu mereka dipegangi dan dipukuli oleh tiga staf toko.

Akibat itu, massa berkumpul. Polisi tiba di lokasi, menahan Aye Aye Naing dan pemilik toko. Massa yang sebagian besar Buddha berkumpul dan berubah menjadi kekerasan, melemparkan batu, berteriak anti-Muslim dan penghinaan dan mendobrak pintu toko itu, menurut beberapa saksi. Tidak ada yang tewas atau terluka, namun bangunan perumahan Muslim milik toko emas dan beberapa rumah muslim yang lain hampir hancur.

“Toko ini memiliki reputasi buruk di lingkungan,” kata Khin San, yang mengatakan dia menyaksikan kekerasan dari toko umum nya di seberang jalan. “Mereka tidak membiarkan orang memarkir mobil mereka di depan toko mereka” .

Kemudian aroma kebencian dipicu oleh selebaran ditandatangani oleh kelompok yang menyebut dirinya “umat Buddha yang merasa tidak berdaya” yang dibagikan beberapa minggu sebelumnya. Dalam lembaran itu dikatakan bahwa Muslim di Meikhtila berkonspirasi melawan umat Buddha, dibantu oleh uang dari Arab Saudi, dan mengadakan pertemuan rahasia di masjid-masjid. Surat itu ditujukan kepada para bhiksu yang berpengaruh di daerah itu.

Ketegangan meningkat. Sekitar 5:30 pm hari itu, empat pria Muslim sedang menunggu di suatu persimpangan. Seorang biarawan berlalu di belakang dengan sepeda motor, mereka menyerang. Satu memukul pengemudi dengan pedang, menyebabkan dia terjatuh, kata saksi. Pukulan kedua di bagian belakang kepala biarawan itu. Salah satu laki-laki menyiram dia dalam bahan bakar dan membuatnya terbakar, kata Soe Thein, seorang mekanik yang melihat serangan itu. Biarawan itu meninggal di rumah sakit.

Soe Thein, seorang Buddhis, berlari ke pasar. “Seorang biksu telah dibunuh , biksu telah tewas!” dia menangis. Saat ia berlari kembali, massa mengikuti dan kerusuhan mulai. Rumah Muslim dan toko-toko habis terbakar.

Soe Thein mengidentifikasi penyerang dengan nama dan mengatakan ia melihat beberapa hari masih berada di desa setelah sang biksu dibunuh. Polisi menolak mengatakan apakah mereka termasuk di antara 13 orang yang ditangkap dan diselidiki terkait dengan kekerasan Meikhtila.


“KAMI HANYA INGIN MUSLIM”

Malam itu, api melahap banyak Mingalarzay Yone, bangsal sebagian besar Muslim di timur Meikhtila. Api meratakan masjid, panti asuhan, dan beberapa rumah. Ratusan muslim melarikan diri. Beberapa bersembunyi di rumah teman-teman Buddhis ‘, kata saksi. Sekitar 100 muslim lari ke dalam rumah kayu bertingkat milik Maung Maung, seorang sesepuh Muslim.

Win Htein, seorang anggota parlemen di Liga Nasional nya Suu Kyi untuk Demokrasi, mencoba menahan kerumunan . “Seseorang mengambil lenganku dan berkata hati-hati atau Anda akan menjadi korban,” katanya.

Sekitar 200 petugas polisi hanya menyaksikan kerusuhan di lingkungan tersebut sebelum meninggalkan sekitar tengah malam, katanya.

Sekitar jam 4 pagi, orang-orang Muslim di dalam rumah Maung Maung mengaji  dalam bahasa Arab dan kemudian bertakbir, di tengah kerumunan hampir seribu massa  Buddha yang berada di luar rumah.

Ketika fajar menyingsing, sekitar pukul 6 pagi, kehadiran polisi  di daerah itu hanya ada sekitar 10 petugas. Bahkan mereka (polisi) perlahan-lahan mundur, yang memungkinkan massa untuk menyerang, kata Hla Thein, 48, seorang sesepuh Buddhis.

Kaum Muslim melarikan diri melalui samping rumah, dikejar oleh pria dengan pedang, tongkat, batang besi dan parang. Beberapa dibantai dalam rawa di dekatnya, kata Hla Thein, yang menceritakan kejadian bersama empat saksi lainnya, baik Buddha dan Muslim.

Lainnya ditebas saat mereka berlari menuju jalan puncak bukit. “Mereka mengejar muslim seperti mereka berburu kelinci,” kata anggota parlemen NLD Win Htein.

Polisi menyelamatkan 47 kaum muslimin, sebagian besar wanita dan anak-anak, dengan mengepung mereka dengan perisai mereka dan menembakkan tembakan peringatan ke udara, Hla Thein mengatakan. “Kami tidak ingin menyerang Anda,” teriak seorang biarawan kepada polisi, menurut polisi mereka berteriak, “Kami hanya ingin umat Islam.”

Ye Myint, menteri kepala daerah Mandalay yang mencakup Meikhtila, mengatakan kepada wartawan hari itu situasi sudah “stabil.” Tetapi nyatanya semakin parah. Biarawan bersenjata dan massa Buddha meneror jalan-jalan selama tiga hari berikutnya, kata saksi.

Mereka mengancam Thein Zaw, seorang pemadam kebakaran mencoba untuk memadamkan sebuah masjid terbakar. “Beraninya kau memadamkan api ini,” kenangnya satu teriakan biksu. “Kami akan membunuhmu.” Sekitar 30 biksu menghancurkan tanda yang tergantung di luar stasiun pemadam kebakaran dan mencoba untuk memblokir truknya.

“Seorang bhiksu dengan pisau berayun ke arah saya,” kata Kyaw Ye Aung, seorang petugas pemadam kebakaran .

Tiga hari kemudian, di bukit di mana mayat muslim dibakar, reporter ini menemukan sisa-sisa campuran jenazah dewasa dan anak-anak: potongan tengkorak manusia, tulang dan tulang lainnya, dan ransel anak yang sudah gosong itu.

Terdekat dari situ, truk kota membuang mayat di sebidang tanah di sebelah krematorium di pinggiran Meikhtila itu. Mereka dibakar dengan ban bekas.

Gerakan 969

Di jalan-jalan Meikhtila, saksi melihat biarawan dari biara terkenal . Mereka juga melihat biarawan dari Mandalay, kota kedua terbesar di negara itu dan pusat kebudayaan Burma sekitar 100 mil ke utara. Salah satu pengunjung tersebut adalah Wirathu biksu nasionalistis.

Wirathu dibebaskan tahun lalu dari sembilan tahun penjara selama amnesti bagi ratusan tahanan politik, di antara reformasi paling terkenal pasca-kekuasaan militer Myanmar. Dia dahulu dikurung karena menghasut kerusuhan anti-Muslim pada kerusuhan tahun 2003.

Saat ini, ia yang berumur 45 tahun adalah kepala biara di Biara Masoeyein Mandalay, sebuah kompleks luas di mana ia memimpin sekitar 60 biksu dan memiliki pengaruh atas lebih dari 2.500 umat budha berada di sana. Dari basis kekuatannya, ia memimpin sebuah gerakan cepat yang dikenal sebagai “969,” yang mendorong umat Buddha untuk memboikot bisnis Muslim dan masyarakat muslim.

969 , Tiga angka mengacu pada berbagai atribut Buddha, ajarannya dan kerahiban tersebut. Dalam prakteknya, nomor telah menjadi merek bentuk radikal anti-Islam secara nasionalisme yang berusaha untuk mengubah Myanmar menjadi seperti negara apartheid .

“Kami memiliki slogan: Ketika Anda makan, makan di 969, ketika Anda pergi, pergi ke 969, ketika Anda membeli, membeli ke 969,” kata Wirathu dalam sebuah wawancara di kuilnya di Mandalay. Terjemahan: Jika Anda makan, bepergian atau membeli sesuatu, melakukannya dengan seorang Buddhis. Menikmati reputasi ekstremis nya, Wirathu menggambarkan dirinya sebagai “Osama bin Laden nya Burma.”

Dia mulai memberikan serangkaian pidato kontroversial 969 sekitar empat bulan yang lalu. “Tugas saya adalah untuk menyebarkan misi ini,” katanya. Ini sangat efektif: stiker 969 dan tanda-tanda yang berkembang biak – sering disertai dengan kekerasan.

Perusuh mengecat “969”. Gerakan massa Anti-Muslim berkecamuk di Kawasan Bago, dekat Yangon, meletus setelah bepergian biarawan berkhotbah tentang gerakan 969. Stiker bertuliskan warna pastel disalut dengan angka 969 yang muncul di warung pinggir jalan, sepeda motor, poster dan mobil di seluruh pusat-pusat pusat.

Dalam Minhla, sebuah kota sekitar 100.000 penduduk berjarak beberapa jam dari Yangon, 2.000 umat Buddha berdesakan dalam sebuah pusat komunitas pada tanggal 26 -27 Februari untuk mendengarkan Wimalar Biwuntha, seorang kepala biara dari Negara Mon. Dia menjelaskan bagaimana biarawan di negara itu mulai menggunakan 969 untuk memboikot perusahaan-Muslim.

Setelah pidato, suasana di Minhla menjadi rusuh, kata Tun Tun, 26, seorang pemilik toko teh-Muslim. katanya. Sebulan kemudian, sekitar 800 umat Buddha bersenjata dengan pipa logam dan palu menghancurkan tiga masjid dan 17 rumah Muslim dan tempat bisnis, menurut polisi. Tidak ada yang tewas, tapi dua-pertiga dari Muslim yang melarikan diri dari Minhla belum kembali, kata polisi.

“Sejak pidato itu, orang-orang di desa kami menjadi lebih agresif , kami kehilangan pelanggan,” kata Tun Tun, yang tokonya dan rumah yang hampir hancur oleh Buddha pada 27 Maret. Salah satu penyerang bersenjata dengan gergaji mesin, katanya.

Seorang pejabat polisi setempat membuat kesepakatan dengan massa: Para perusuh diizinkan 30 menit untuk merampok sebuah masjid sebelum polisi akan membubarkan kerumunan massa, menurut dua orang saksi. Polisi setempat membantah telah membuat kesepakatan seperti ketika ditanya oleh Reuters.

Dua hari sebelumnya di Gyobingauk, sebuah kota dari 110.000 orang di utara Minhla, massa menghancurkan sebuah masjid dan 23 rumah setelah tiga hari dari pidato oleh seorang biksu berkhotbah 969. Saksi mata mengatakan mereka muncul terorganisasi dengan baik, meratakan beberapa bangunan dengan buldoser.

Wirathu membantah mengorganisir para biarawan di Meikhtila dan di tempat lain. Dia mengakui hanya menyebarkan 969 dan memperingatkan bahwa Muslim menipiskan identitas negara Buddhis. Itu adalah komentar yang telah dilakukan berulang-ulang dalam pidato dan media sosial dan melalui telepon dalam beberapa pekan terakhir.

“Dengan uang, mereka menjadi kaya dan menikahi wanita Budha Burma dan mengalihkan ke Islam, menyebarkan agama mereka. Bisnis mereka menjadi lebih besar dan mereka membeli lebih banyak lahan dan rumah, dan itu berarti tanah ini akan lebih sedikit kuil Buddhanya,” katanya.

“Dan ketika mereka menjadi kaya, mereka membangun masjid yang tidak terbuka, tidak seperti pagoda dan biara-biara,” tambahnya. “Mereka seperti stasiun basis musuh bagi kita. Masjid lebih berarti markas musuh, jadi itu sebabnya kita harus mencegah adanya markas musuh lebih banyak.”

Wirathu takut Myanmar akan mengikuti jalan seperti Indonesia setelah Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13. Pada akhir abad ke-16, Islam telah menggantikan Hindu dan Buddha sebagai agama dominan di pulau-pulau utama Indonesia.

Wirathu mulai memberitakan  969  akan keyakinan dirinya pada tahun 2001, ketika Departemen Luar Negeri AS melaporkan “peningkatan tajam dalam kekerasan anti-Muslim” di Myanmar. Sentimen anti-Muslim didorong pada bulan Maret tahun lalu  ketika Taliban hancurkan patung Buddha di Bamiyan, Afghanistan.

Biarawan itu akhirnya ditangkap pada 2003 dan dihukum 25 tahun penjara karena menyebarkan pamflet anti-Muslim yang menghasut kerusuhan komunal di tempat kelahirannya dari Kyaukse, sebuah kota dekat Meikhtila. Setidaknya 10 Muslim tewas dalam Kyaukse oleh gerombolan Buddha, menurut laporan Departemen Luar Negeri AS.

Wirathu memberikan komentar terhadap penyebab awal kerusuhan tersebut , mengenai wanita Buddhis yang mencoba untuk menjual jepit rambut. “Dia seharusnya tidak melakukan bisnis dengan Muslim.”

(Tambahan pelaporan oleh Min Zayer Oo,. Editing oleh Andrew Marshall RC, Michael Williams dan Bill Tarrant./reuters/dz)

Sumber: http://goo.gl/NLsVdm

20 Jan 2015

Kepemimpinan Rasulullah SAW


Nabi Muhammad SAW, adalah pemimpin dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Karena hanya dalam waktu 23 tahun (kurang dari seperempat abad), dengan biaya kurang dari satu persen biaya yang dipergunakan untuk revolusi Perancis dan dengan korban kurang dari seribu orang. Beliau telah menghasilkan tiga karya besar yang belum pernah dicapai oleh pemimpin yang manapun di seluruh dunia sejak Nabi Adam as. sampai sekarang.

Tiga karya besar tersebut adalah:
I. Mengesakan Tuhan
Nabi Besar Muhammad SAW. telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semula mempercayai Tuhan sebanyak 360 (berfaham polytheisme) menjadi bangsa yang memiliki keyakinan tauhid mutlak atau monotheisme absolut.

II .Kesatuan ummat
Nabi Besar Muhammad SAW, telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semua selalu melakukan permusuhan dan peperangan antar suku dan antar kabilah, menjadi bangsa yang bersatu padu dalam ikatan keimanan dalam naungan agama Islam.

III. Kesatuan pemerintahan
Nabi Besar Muhammad SAW, telah berhasil membimbing bangsa Arab yang selamanya belum pernah memiliki pemerintahan sendiri yang merdeka dan berdaulat, karena bangsa Arab adalah bangsa yang selalu dijajah oleh Persia dan Romawi, menjadi bangsa yang mampu mendirikan negara kesatuan yang terbentang luas mulai dari benua Afrika sampai Asia.

Kunci dari keberhasilan perjuangan Beliau SAW, dalam waktu relatif singkat itu adalah terletak pada tiga hal:
1. Keunggulan Agama Islam
2. Ketepatan sistem dan metode yang beliau pergunakan untuk berda’wah.
3. Kepribadian beliau.

1. Keunggulan Agama Islam terletak pada delapan sifat yang tidak dimiliki oleh agama-agama lainnya di seluruh dunia ini, yaitu:
A. Agama Islam itu adalah agama fitrah.
B. Agama Islam itu adalah mudah, rational dan praktis.
C. Agama Islam itu adalah agama yang mempersatukan antara kehidupan jasmani dan rohani dan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.
D. Agama Islam itu adalah agama yang menjaga keseimbangan antara kehiduan individual dan kehidupan bermasyarakat.
E. Agama Islam itu adalah merupakan jalan hidup yang sempurna.
F. Agama Islam itu adalah agama yang universal dan manusiawi.
G. Agama Islam itu adalah agama yang stabil dan sekaligus berkembang.
H. Agama Islam itu adalah agama yang tidak mengenal perubahan.

2 A. Sistem dakwah yang dipergunakan oleh Nabi Besar Muhammad SAW adalah:
A. Menanamkan benih iman di hati umat manusia dan menggemblengnya sampai benar-benar mantap.
B. Mengajak mereka yang telah memiliki iman yang kuat dan mantap untuk beribadah menjalankan kewajiban-kewajiban agama Islam dengan tekun dan berkesinambungan secara bertahap.
C. Mengajak mereka yang telah kuat dan mantap iman mereka serta telah tekun menjalankan ibadah secara berkelanjutan untuk mengamalkan budi pekerti yang luhur.

2 B. Metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah:
A. Hikmah, yaitu kata-kata yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil.
B. Nasihat yang baik.
C. Menolak bantahan dari orang-orang yang menentangnya dengan memberikan argumentasi yang jauh lebih baik, sehingga mereka yang menentang dakwah beliau tidak dapat berkutik.
D.Memperlakukan musuh-musuh beliau seperti memperlakukan sahabat karib.

Keempat metode dakwah beliau di atas, disebutkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an al Karim dalam surat:

An Nahlu ayat 125:
اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ، وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ ؛ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ ، وَهَوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ .

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Surat Fushshilat ayat 34:
وَلاَ تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ؛ اِدْفَعْ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ .

“Dan tiadalah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”.

3. Kepribadian Nabi Besar Muhammad saw, yang sangat menunjang dakwah beliau disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut:
A. Bersikap lemah-lembut.
B. Selalu mema’afkan kesalahan orang lain betapapun besar kesalahan tersebut selama kesalahan tersebut terhadap pribadi beliau.
C. Memintakan ampun dosa dan kesalahan orang lain kepada Allah swt., jika kesalahan tersebut terhadap Allah SWT.
D. Selalu mengajak bermusyawarah dengan para sahabat beliau dalam urusan dunia dan beliau selalu konsukuen memegang hasil keputusan musyawarah.
E. Jika beliau ingin melakukan sesuatu, maka beliau selalu bertawakkal kepada Allah SWT dalam arti: direncanakan dengan matang, diprogramkan, diperhitungkan anggarannya dan ditentukan sistem kerjanya.

Kelima kepribadian Nabi Besar Muhammad SAW, tersebut di atas, dituturkan oleh Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ ، وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ، فَاعْفُ عَنْهَمْ .وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الاَمْرِ ، فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ ؛ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ .

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

17 Nov 2014

Dahsyat nya membaca Shalawat Nabi



Diceritakan, ada seorang pemuda di zaman Nabi Musa AS yang bandelnya bukan main. Segala bentuk kejahatan dia lakukan, tanpa memandang bulu. Sikat sana, sikat sini. Halal-haram, hantam saja.

Ulah pemuda ini sangat melampaui batas dan meresahkan warga. Maka akhirnya warga yang kesal berencana untuk menghakimi pemuda tersebut.

Tibalah saatnya pemuda itu dihakimi massa sampai ajal merenggutnya. Tidak cukup sampai di situ, mayat si pemuda pun dilemparkan ke dalam bak sampah.

Beberapa waktu kemudian, aneh bin ajaib, bak sampah yang berisikan tumpukan sampah yang sehari-harinya mengeluarkan bau tak sedap itu berubah menjadi semerbak mewangi.

Keajaiban ini menjadi perhatian warga. Dan karena begitu besar keingintahuan warga, mereka akhirnya membongkar bak sampah itu.

Apakah gerangan yang telah terjadi? Ternyata semerbak wangi yang keluar dari bak sampah tersebut, sumbernya adalah jasad pemuda nakal yang mati dihakimi massa itu.

Mengapa mayat seorang penjahat yang mati mengenaskan dan dibuang di bak sampah mengeluarkan wangi semerbak? Ketahuilah, sesungguhnya pemuda tersebut, walaupun preman jahat, masih punya hati dan ta’zhim kepada Nabi Muhammad SAW. Inilah kemuliaan dan keagungan yang ada pada dirinya.

Pemuda tersebut, ketika membuka dan membaca kitab Taurat, menemukan tulisan Ahmad. Lalu ia amati secara seksama sampai jatuh hati kepada tulisan tersebut. Diterangkan dalam kitab Taurat, yang bernama “Ahmad” inilah nabi terakhir yang akan membawa keselamatan bagi seisi alam.

Dalam keterangan lain disebutkan, tulisan tersebut dirobek sang pemuda dari kitab Taurat kemudian disimpannya sebagai jimat.

Karena telah jatuh hati pada nama tersebut, kemanapun ia pergi, lembar yang bertuliskan Ahmad itu selalu dibawanya, tak pernah lepas dari tangannya sampai ajal menjemputnya. Kisah ini diceritakan dalam kitab Hujatullah ’ala al-’Alamin karya Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani.

Seorang pemuda yang nakal dan mati mengenaskan, jasadnya mengeluarkan wangi semerbak, karena begitu besarnya perasaan cinta pada lembaran yang bertuliskan Ahmad. Apalagi kita, sebagai umat Nabi yang mengamalkan ajaran dan mau bershalawat terhadap beliau.

Sebagai umat Islam,  kita sangat dianjurkan untuk mengamalkan shalawat. Dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 56 disebutkan, ”Innallaha wa Malaikatahu yushalluna ’alannabi, ya ayyuhalladzina amanu shallu ’alaihi wasallimu taslima”, Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, maka bershalawatlah”.

Betapa dahsyatnya nilai dan kedudukan shalawat atas Nabi Muhammad SAW. Bahkan Allah SWT dan para malaikat-Nya pun bershalawat atas Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu, mari kita perbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

Sumber : Faranisa Azni

4 Okt 2014

Aku Menikahimu karena Aku Mencintainya




Pukul 05:30Langkahku kini kian ringan, menjelang detik-detik hari pernikahanku. Aku seolah memiliki kekuatan baru untuk menyongsong masa depan. Keraguan itu kini tak lagi menyelimuti hatiku, meski tak dapat ku pungkiri aku masih setengah hati mencintainya. Tapi toh dia mampu meyakinkan ku untuk menerima pinangannyaMalam itu, adalah pertemuan terakhir kami mejelang hari H akad nikah, ia katakan banyak hal yang membuatku merenung dan ikhlas menerimanya untuk jadi suamiku.

“Mungkin, buatmu aku bukanlah sosok laki-laki yang kau harapkan Nay… pertemuan yang cukup singkat, dengan pendekatan yang seadanya… aku yakin, saat ini pasti ada perasaan ragu di hatimu” tak seperti biasanya, kala itu ia berani memegang kedua tanganku, memegang erat jari jemariku sambil menatap wajahku ia pun melanjutkan apa yang ia ingin katakan padaku

“Hanya sebuah niat tulus untuk mengajakmu lebih dekat kepada Allah, yang aku punya. Apapun yang terjadi aku siap menerima, jika kau ingin mengurungkan pernikahan kita 1 minggu ke depan aku ikhlas Nay…”Matanya begitu redup dan penuh dengan kelembutan, saat itu ia terlihat begitu tampan tak seperti biasanya. Raut mukanya terlihat sedikit memelas. Aku pun hanya terdiam, entah kenapa tiba-tiba hatiku seolah menangis, “inikah jalan hidupku Ya Allah?”Kutundakkan kepala sejenak, sembari berusaha untuk menahan air mata yang akan keluar dari kedua mataku.“Jodoh, mati, rejeki sudah ada yang mengatur, kita manusia hanya berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita disertai doa, kita jalani saja apa yang sudah sampai saat ini kita usahakan mas…”Sambil tersenyum, ku ucapkan kata-kata itu, dengan raut muka yang memberikan pengharapan padanya.

Tak ada yang salah dengan status dudanya, sosoknya yang begitu ramah membuat dia memiliki banyak teman. Pekerjaannya sebagai pengusaha bengkel saat ini juga cukup lumayan untuk menghidupiku dan anak-anak kami kelak. Postur tubuhnya tinggi besar, dengan sedikit lesung pipit di pipinya. Fisiknya cukup lumayan untuk ukuran laki-laki tampan, tapi entah kenapa aku tak juga bisa mencintainya sepenuh hati. Mungkin karena beberapa sifatnya yang tidak aku suka, benar yang ia katakan “dengan pendekatan yang cukup singkat, aku yakin pasti kau memiliki rasa ragu di hati mu saat ini Nay…” hmmm… dia sedikit kasar, tidak beraturan, dan “kisruh” kalau kata orang jawa. Dia memang tak pernah membentakku, tapi nada bicaranya selalu lantang dan ga ada halus-halusnya sama sekali. Bukan hanya itu, aku paling tidak suka dengan sikapnya yang semaunya sendiri.

Pernah suatu ketika, saat kami keluar bersama untuk sekedar makan malam di warung pinggir jalan. Selesai dari warung “Nasi Bebek Pak No”, kami tak langsung pulang, mampir di sebuah tempat penjualan terang bulan dan martabak daging, dalam penantian matangnya terang bulan dan martabak, kami bertemu dengan mantan istrinya yang sekarang bekerja di surabaya.

Maksudku menghampiri mantan istrinya, hanya sekedar mengobrol dan berkenalan sambil menanti jajanan pesanan kami matang. Namun dengan nada bicara yang tak bisa halus, ia mencegahku. Bukan hanya itu, ia bahkan menarik pergelangan tanganku dengan kuat, hingga hampir saja aku jatuh di tengah kerumunan pembeli lainnya. Saat itu, aku mulai menyadari. Sifat egois dan kasarnya begitu melekat di dirinya, aku begitu jengkel dan kesal rasanya. Belum pernah aku diperlakukan yang menurutku kasar seperti itu oleh laki-laki yang mengaku cinta kepadaku. Tiga kali menjalin hubungan dekat dengan laki-laki, dialah laki-laki yang paling kasar di antara tiga itu, dan bisa di bilang hanya dia yang kasar, sedangkan 2 teman dekat lelakiku terdahulu, begitu sopan lembut dan sangat perhatian kepadaku meskipun endingnya tiada keseriusan dari mereka. Hmmm.. mungkin memang inilah jalan hidupku. Ya Rabb.. tak seharusnya aku menghitung-hitung kekurangannya menjelang detik Ijab Qabul yang akan dia ucapkan 3 jam lagi, dan tak terasa air mataku mengalir begitu saja di pipi.

“Lho kog malah melamun… Inayah kamu menangis nak?” Ibuku datang, dan membuyarkan segala lamunanku“Kamu bahagia kan Nak?”(dengan sedikit terisak sambil tersenyum) “hiks.. hiks… bahagia bu, bahagiaaa banget ternyata jodohku mas rahmat, (penuh tawa canda namun ada yang disembunyikan) di tunggu-tunggu dari Jakarta eh dari daerah surabaya juga”“Ibu ga pernah ajarkan kamu bohong, semoga apa yang kamu ucapkan itu benar-benar yang kamu rasakan saat ini ya Nak…” sambil memeluk dan mencium keningku

Pukul 08.20Mas rahmat ucapkan ikrar suci itu, di balik kamar aku mendengarkan suaranya yang cukup lantang, dengan rasa nervous yang ga karu-karuan.“Saya Terima Nikahnya Inayah Maghfirah binti Muhammad Ali dengan mas kawin sebuah Tafsir Al Qur’an di bayar tunai”

Air mata kembali mengalir membasahi pipiku yang telah terpoles dengan aneka bedak dan make up, ada rasa haru, bahagia, juga nelangsa. Ku tepis rasa sesal dan nelangsa, ku yakinkan diri bahwa dialah jodoh yang sudah Allah tentukan untukku. Aku percaya lewat dia aku akan bisa lebih dekat kepada Allah dan RosulullahInilah akhir dari penantian panjangku, tiga tahun sudah aku tak menjalin hubungan dekat dengan laki-laki, dan 21 Januari 2003 ku tutup masa lajangku di usia 26 tahun bersama dengannya, mas rahmat. Duda 32 tahun, tanpa anak yang dikenalkan oleh temanku, bercerai dengan istrinya pada tahun pertama pernikahan karena ia mengalami PHK dari kantornya. Di awal perkenalan memang ada sedikit ragu di hati orang tuaku, tapi sikapnya yang mudah bergaul dengan keluargaku, membuat orang tuaku simpatik dan yakin kepadanya bahwa dia akan menjadi imam yang baik untuk putrinya kelak.Biarlah, ku niati semua ini sebagai ibadah, bagian dari usahaku untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Serapi apapun rencana hidup seorang manusia dengan segala usahanya, jika Tuhan tidak pernah menghendaki maka takkan pernah terjadi. Karena kekuasaan tertinggi ada pada Nya.

Pukul 22.30Suara keriuhan di rumahku sedikit demi sedikit mulai menghilang. Mungkin semua telah mulai lelah dan kecape’an dengan acara pernikahanku ini. Terlebih lagi ibuku yang dari 3 minggu kemarin sudah mencicil membuat kue-kue kering sebagai buah tangan para undangan di hari pernikahanku tadi. Aku sendiri pun merasa pegal yang tak terkira, mulai dari kepala yang harus menyandang jilbab dengan balutan bunga melati asli selama seharian, pipiku yang kram karena harus tersenyum tiap kali ada yang memberiku ucapan selamat, hingga tubuhku yang kesal bukan main karena seharian duduk berdiri-duduk berdiri.

Dan malam ini ada yang berbeda dikamarku, ada sesosok manusia laki-laki yang akan selalu menemani tidurku. Hmmm.. Muhammad Rahmat, akhirnya hari ini kau resmi jadi suamiku.Sambil kubersihkan sisa-sisa make up yang ada, aku mulai pembicaraan pertama dengan suamiku“Di ambilin makan mas?”“Engga’ usah, masih kenyang”“Oh.. ya sudah” (dengan melanjutkan menyapu pipi)“Dek…”Aku sedikit terkaget, kupalingkan tubuhku ke arahnya, tumben-tumbennya mas duda panggil aku dek“Apa…? Aku..?”“Ya iyalah, kan disini cuma ada kita berdua, masa aku panggil Dek Faris, adikmu itu”Huhhh… lagi-lagi dengan nada kasarnya, apa dia ga bisa ngomong biasa aja, ga pake’ lantang, batinku.“iya.. iya.. apa?”“kamu masih belum shalat ya?”Haduh Ya Allah, aku jadi gemetar dengar pertanyaan itu, tapi inilah hidup, lahir, tumbuh dewasa, menikah, berkeluarga kemudian mati. Ga mungkin juga aku memilih hidup melajang selamanya, pastilah keluarga terutama orang tua akan geram kepadaku.Entah wajahku terlihat nervous atau tidak, tapi dengan sedikit senyum takut ku katakan padanya kalau aku masih belum suci dari haid.“aku masih belum suci dari haid mas…”“Ehmm… mas cuma tanya kok. Mas capek banget, adek juga pasti capek kan? (ia beranjak dari ranjang dan menghampiriku yang tengah duduk di depan cermin) Mas tidur duluan, kalau bersihin make up ga usah lama-lama tetep cantik kok, baca ini dulu ya sebelum tidur sayang” (hmmm… dia kecup ubun-ubun kepalaku setelah menyodorkan amplop putih yang bertuliskan “Untuk Istriku tercinta”).

Pukul 11.48Akhirnya selesai sudah membersihkan diri, kurebahkan punggungku di atas bantal dengan posisi yang sedikit terduduk, ku lihat amplop itu, kemudian ku lihat wajah mas rahmat yang tengah tidur pulas disampingku, ku buka dengan sedikit gemetar, jantungkupun berdegup kencang, batinku berkata tumben-tumbennya duda ini jadi romantis, pakai panggil-panggil dek segala, ada sayangnya lagi. Kubuka dengan perlahan dan mulai ku baca satu demi satu kalimatanya.

“Surabaya, 20 Januari 2003,Bismillahirrahmanirrahim, Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha PenyayangKu tulis surat ini ketika kau masih menjadi calon istriku, dan insya Allah ketika kau baca, kau telah sah sebagai istrikuBesok jum’at pagi, kan ku ucapkan ikrar suci itu untuk kedua kalinya. Kepada mu Inayah Maghfirah, aku menaruh banyak harapan untuk masa depan kita kelak.Meski engkau bukan yang pertama untukku, tapi aku sangat berharap kau menjadi yang terakhir hingga ajal menjemputku nantinya. Menjadi seseorang yang akan terus setia disampingku dalam setiap tawa dan tangisku.

Perkenalan kita di rumah yanti 6 bulan lalu, membuatku menaruh rasa suka kepada mu. Aku juga tak tahu pasti, apa engkau benar-benar mempunyai rasa yang sama denganku atau hanya sekedar kasihan kepadaku. Entahlah… Yang pasti aku masih ingat betul kalimat yang pernah kau kirimkan lewat sms, ketika minggu 26 November 2002, ku minta kau untuk menikah denganku
“aku akan menikah dengan mu karena aku mencintai Nya”.

Ada rasa senang bercampur bingung, kenapa “karena aku mencintai Nya?” bukankah seharusnya “karena aku mencintaimu mas…?”Jujur, sms mu saat itu membuatku tak bisa tidur semalaman. Aku berfikir, mungkinkah aku menikah dengan seorang wanita tanpa cinta? Sekasar dan sebrutalnya aku, tak pernah sedikitpun ada keinginan untuk memaksa seorang wanita menikah denganku.Namun sedikit demi sedikit aku mulai mengerti apa yang kau maksud Nay, maka dari itu aku tak pernah ingin mengurungkan niatku untuk menikahimu, kecuali jika engkau yang menolak. Bukan karena aku tak tahu diri dengan status dudaku, tapi karena aku yakin, bersamamu… cintaku kepada Nya akan dapat lebih dalam lagi.

Nay… aku bukanlah laki-laki yang bisa lembut kepada wanita, tapi aku akan berusaha untuk menjadi lembut kepadamu, aku juga tidak sebegitu paham dengan agama yang aku anut, tapi aku akan berusaha untuk memahami agamaku, agar kehidupan rumah tangga kita lebih baik kedepannya, aku juga tidak begitu mengerti tentang mencintai Nya, tapi aku akan berusaha mencintai Nya lebih dari apapun, bukan karena mu tapi “karena memang aku ingin lebih mencintai Nya lagi”Inayah Maghfirah, kamu mau kan, mendekat kepada Nya bersama-sama denganku? Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alamAkhirnya lega juga, twlah ku tuliskan segala yang mengganjal di hati selama 2 bulan, setelah kau kirimkan sms itu.Semoga setelah kau baca suratku ini, tak ada lagi rasa ragu yang menyelimuti hati mu untuk menjadi teman hidup terbaikku. Kau tak perlu berusaha untuk memaksakan diri mencintaiku, karena dengan semakin cintanya engkau kepada Dia Sang Maha Berkuasa, sudah pasti ada cinta di hatimu untukku.

Lewat rumah tangga yang mulai kita bina ini, kita sama-sama berusaha untuk lebih mencintai Nya lagi ya sayang… hehehe. Maaf kalau ada kata-kata yang terkesan berlebihan, sssst… aku ga bisa romantis “DEK”, untuk mengatakan semua ini secara langsung saja aku tak punya nyali, makanya aku pilih media surat. Terkesan jadul sich, tapi ga apalah dari pada sms, jempol mas pegel hehehe…
Semoga kejujuran ini menjadi salah satu jalan untuk kebaikan kehidupan baru kita amin.
Yang kini menjadi teman hidupmu
Muhammad Rahmad

Kututup kertas surat itu dengan membasahinya, seperti biasa wanita tak pernah luput dari air mata. Ada haru bercampur bahagia setelah ku membacanya, sisi baik dari pribadiku mulai up kembali. Jika dia sudah percaya diri seperti itu kenapa aku harus ragu?Tak ada lagi yang perlu aku khawatirkan, memang itulah dia, mas rahmad tak pernah menjadi orang lain, dia menjadi dirinya sendiri, dan aku tak perlu menuntutnya untuk menjadi orang lain. Yang pasti kita punya misi dan visi yang sama dalam pernikahan baru kita ini, karena kita sama-sama ingin lebih mencintai Nya.Kuletakkan surat itu di atas meja, matakupun mulai merasa kelelahan. Sebelum ku pejamkan mata, ku kecup kening suamiku sambil ku bisikkan kata “aku mencintaimu mas..”

Pernikahan seharusnya mendatangkan kebaikan, bukanlah sebuah keraguan. Jika dengan menikah, membuatku semakin mudah untuk dekat kepada Nya, kenapa aku harus ragu?
Heningnya malam semakin hening, saat denting jam dinding seolah mengalun tanpa nada. Hembusan angin meniup sejuk, merayap membangunkan sosok wanita yang terbaring pulas. Mila.

“Subhaanallah”, ucap Mila. Kemudian mengambil wudhu dan segera mengerjakan shalat malam.Dengan kusyuk ia manghadap Allah, berdoa dan memohon kepada-Nya. Menetes air mata seketika dari celah-celah mata yang penuh dengan harap. Berkali-kali ia memohon ampun, meminta petunjuk serta hidayah dari-Nya.

“Ya Allah Yang Maha Pengampun, sudikah kiranya Engkau mengampuni segala dosa yang telah ku buat? Berkali-kali hamba mendustai-Mu, mengingkari-Mu, juga berpaling dari-Mu. Hamba hanyalah kecil di hadapan-Mu. Bahkan sekalipun hamba beribu kali memohon ampun, tak lantas cukup untuk menebus segala dosa hamba. Hanya saja hamba yakin bahwa Engkau menyayangi hamba-Mu tanpa terkecuali. Hamba bukan hanya kecil ya Rabb, tapi juga lemah. Hamba tak berdaya tanpa-Mu. Apa yang hamba lakukan rasanya percuma jika tanpa ridha dari-Mu. Ya Allah Yang Maha Penentu Takdir, tempatkanlah hamba dalam ruang yang penuh oleh cahaya-Mu. Jika hamba jatuh cinta, maka jangan biarkan hamba mencintai makhluk melebihi hamba mencintai-Mu. Takdirkanlah hamba dengan jodoh yang benar-benar Engkau pilih. Yang mampu membawa rumah tangga kami ke dalam bahagia dunia maupun akhirat nanti. Aamiin.”

Keesokan harinya pertemuan dirinya dengan Ramlan pilihan kedua orang tuanya berlangsung. Ini adalah kali pertama Mila menjalani ta’aruf. Setelah menyambut kedatngan Ramlan dan keluarga, Mila bergegas ke dapur untuk menyiapkan jamuan, kemudian disusul sang ibu.

“Gimana Ndok? Kamu cocok?” tanya ibu.“Apapun dan siapapun pilihan ibu dan ayah, cocok cocok saja. Tapi jika ditanya benar-benar cocok atau tidak, Mila belum tahu”, ucapnya

Sambil tersenyum.“Ya sudah ayo jangan lama-lama di dapur!”“Iya Bu.”
Beberapa saat kemudian Milapun menuju ke ruang tamu dengan membawa makanan dan minuman yang telah ia siapkan untuk menjamu Ramlan dan keluarga.

“Subhanallah cantik dan anggun sekali kamu Ndok!” ucap Umi Aminah (Ibunda Ramlan) kepada Mila.“Terima kasih Umi”, jawab Mila dengan ramah, “Silahkan diminum!” lanjut Mila.
Ramlan yang datang dengan ibu dan pamannya terlihat gugup. Sang paman yang mewakili mendiang ayahnya menyampaikan maksud dari kedatangan mereka kepada keluarga Mila.
“Nak Mila, perkenalkan ini Ramlan. Ramlan, ini Mila. Walaupun Ramlan sebelumnya tidak pernah bertemu dan mengenal nak Mila. Tapi dengan niat karena Allah, kami datang ke hadapan keluarga Pak Imran, selain semata-mata ingin bersilaturahim juga bermaksud untuk melamar Nak Mila. Sudikah kiranya Bapak dan keluarga menerima lamaran kami terhadap putri Bapak?”“Keputusan ada di tangan Mila. Bagaimana Ndok?” ucap sang ayah kepada Mila.“Insya Allah, dengan niat ibadah kepada Allah, Mila menerima lamaran Mas Ramlan dan keluarga”, jawabnya.

Rona bahagia pun tampak seketika di wajah mereka. Terutama ayah dan ibu Mila, juga Umi Aminah. Umi Aminah kemudian memesangkan cincin pada jari manis Mila. Di susul ucapan “Alhamdulillah” dari mereka.

Satu minggu kemudian akad nikah dan pesta pernikahanpun berlangsung. Acara berlangsung dengan hikmat. Sanak saudara, kerabat dekat, majelis pengajian Umi Aminah, menghadiri acara tersebut dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Mempelai wanita tampak sangat cantik dengan terbalut gaun pengantin warna putih dan jilbab yang menutup aurat kepalanya. Serasi dengan mempelai pria yang juga berpakaian warna senada. Dalam hati Mila bergumam.
“Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mempertemukan hamba dengan jodoh hamba. Dengan laki-laki soleh, baik, dan tampan yang saat ini sedang duduk di samping hamba. Atas ridha-Mu, hamba jatuh cinta pada-Nya. Setelah penantian yang panjang, kini Kau anugerahi hamba perasaan yang indah ini. Semoga keindahan dari rasa ini akan senantiasa membawa berkah, bukan sebaliknya. Puji syukur atas segala nikmat dan karunia-Mu ya Allah.”
Pada malam harinya, mereka ditempatkan pada ruang kamar yang sama. Kamar dimana mereka akan mengalami kisah dan merajut cinta di dalamnya.

“Sebaiknya kamu tidur dulu saja Mila! Aku belum mengantuk.”“Bukankah Mas juga capek?”“Iya, tapi aku belum ingin tidur.”“Ya sudah kalau begitu Mas berbaring saja dulu!”“Tidak Mil, kamu tidur saja dulu ya! Aku mau menghirup udara di luar”, Ramlan pun beranjak dari kamar.Sementara itu Mila tampak heran dengan sikap suaminya. Karena begitu lelah, Milapun akhirnya tertidur pulas. Keheranan Mila semakin besar saat mendapati suaminya hampir tiap malam tidak ingin tidur satu ranjang dengannya, melainkan di sofa.

Satu bulan kemudian Ramlan membeli rumah yang letaknya tidak jauh dari kediaman Umi Aminah.“Umi, kami pamit ya”, ucap Mila kepada Umi.“Iya Ndok, kalian hati-hati ya di sana. Maafkan Umi tidak bisamengantar. Insya Allah setelah pangajian selesai Umi sempatkan mampir.”“Iya Umi, tidak apa-apa. Umi hati-hati ya.”“Oh iya sebentar! Umi ada sesuatu untuk kalian.”Umi pun beranjak dan datang kembali dengan membawa bingkisan.“Terima kasih Umi!” ucap Mila.“Terima kasih Umi. Kalau begitu kami pamit ya”, ucap Ramlan.“Asalamualaikum Umi”, Mila berucap salam sambil mencium tangan Umi.“Waalaikumsalam”, jawab Umi.“Asalamualaikum Umi”, Ramlan mencium tangan ibunya.“Waalaikumsalam”, jawab Umi lagi.

Sesampainya di rumah baru mereka.“Alhamdulillah, akhirnya kita sudah tidak bergantung pada Umi lagi yaMas? Semoga di rumah ini, apa yang kita sama-sama kerjakan selalu dirahmati Allah SWT”, ucap Mila.“Aamiin. Oh iya Mila, ini kamar kamu.”“Loh?” Mila terkejut dan heran, “Kok kamar Mila Mas? Bukannya kamar kita berdua?” tukas Mila.“Tidak. Kamarku yang itu!” sambil menunjuk ke arah kamar depan kamar Mila.“Ada apa sih Mas sebetulnyaa? Tolong jelaskan! Jangan seperti ini!” lirih Mila.“Nanti akan ku jelaskan jika waktunya tepat ya. Lebih baik sekarang kamu shalat asar dulu! Tadi belum shalat asar kan?” Ramlan kemudian beranjak dari kamar Mila sambil mengucapkan, “Asalamualaikum.”“Waalaikumsalam”, jawab Mila lirih.
Hingga pada suatu malam, Mila mendapati suaminya sedang ingin melaksanakan shalat malam. Mila pun bergegas mengambil wudhu. Ramlan yang shalat di kamarnya tak manyadari, bahwa pintu kamarnya tidak ia tutup kembali sekembalinya ia dari wudhu. Sedangkan Mila yang baru saja selesai wudhu, sengaja membuka sedikit pintu kamarnya agar ia bisa menjadi makmum suaminya. Sementara Ramlan tak menyadari hal itu. Di sela-sela doa, terdengar isakkan tangis Ramlan yang begitu meluap. Sehingga membuat Mila ikut larut dalam isakkan itu. Ramlan berdoa di dalam hati.

“Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa hamba. Hamba bagai tak tahu diri. Hamba bak mengotori jiwa dan raga hamba sendiri dengan kebodohan hamba. Ya Allah tunjukkanlah jalan-Mu. Keputusan hamba untuk menikah bukanlah langkah hamba untuk berbuat dosa. Tapi karena hamba ingin berbakti kepada kedua orang tua hamba. Rasanya ilmu yang hamba miliki terbuang sia-sia, karena untuk menjadi imam keluarga saja hamba tidak bisa. Hamba tahu bagaimana tersiksanya istri hamba. Apa yang harus hamba lakukan Ya Allah? Hamba belum juga memberikannya nafkah bathin yang mungkin telah lama dia tunggu. Hamba tidak ingin terlalu larut menykiti hatinya yang lembut itu. Hamba telah keras mencintainya, hamba telah lama menunggu anugerah rasa itu dari-Mu untuk aku memberikannya kepada Mila, istri hamba. Tuntun hamba Ya Allah. Agar ibadahku selama ini tidak sia-sia. Agar hamba tidak tersesat dalam kelabu hati hamba. Ya Allah ajari hamba mencintai Mila. Mila yang baik, Mila yang soleha, yang pandai harusnya mendapatkan pasangan yang benar-benar bisa membahagiakannya. Amnpuni hamba Ya Allah, atas dusta hamba kepada orang-orang yang bahagia atas pernikahanku dengan Mila. Atas ingkarku kepada-Mu Ya Rabb, ampuni hamba. Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaa ban naar. Aamin Ya Robbal ‘alamin.”

Mila berdoa agar apa yang suaminya panjatkan, dikabulkan Allah SWT. Beningnya air mata turut membasahi pipinya. Yang ia harapkan ialah agar air mata yang suaminya teteskan bukanlah air mata duka yang disebabkan olehnya. Mila sangat mencintai Ramlan, sehingga ia selalu berusaha untuk tidak menyakiti Ramlan. Hatinya memang berkecamuk, tapi cinta suci yang ia miliki masih benar-benar tersimpan untuk sang suami. Lambat pagi seraya menyentakkan bathinnya. Bathin yang selama ini telah mengeram, semakin tenggelam.

“Sarapan dlu Mas!” ucapnya kepada Ramlan, lembut.“Iya, terima kasih”, jawab Ramlan.“Mas Ramlan sehat bukan?” tanyanya.“Alhamdulillah sehat.”“Lalu kenapa wajahmu pucat Mas?”“Tak usah merisaukanku Mila! Mungkin hanya karena kurang tidur saja.”Mila tersenyum.“Ada yang ingin ku katakan Mila”, seru Ramlan.“Apa itu Mas?”“Minggu depan aku bertugas ke luar kota”“Boleh Mila tahu, berapa lama?”“Delapan bulan Mil.”

Seketika itu juga Mila menangis. Setelah bathin yang menjerit sakit karena belum tersentuh kasih suaminya, kini Mila harus menerima kenyataan suaminya akan pergi dari pandangnya delapan bulan. Selama ini bathin yang terluka telah terobati dengan keindahan mata yang mampu menatap suami tercinta, keindahan itu tersapu kelu karena sang suami harus pergi untuk beberapa waktu.

“Kenapa kamu menangis Mil?”“Cukup berat beban bathin yang selama ini Mila pendam Mas! Tapi bebanitu hilang seketika saat Mila mendapatimu setiap pagi dan sepulangmu dari kerja. Untuk seorang istri tentunya berat melepaskan suaminya pergi, walau untuk beberapa saat saja. Mila bahagia bisa bersuamikan kamu, Mas. Sekalipun Mas belum pernah sedikitpun menyentuh Mila. Sekalipun Mila sering bertanya-tanya akan perasaan Mas terhadap Mila. Tapi Mila selalu yakin bahwa Mas mencintai Mila. Entah apa yang sebenarnya kau rencanakan Mas. Mila hanya ingin selalu berada di sisimu. Mila tidak sanggup menahan sakitnya bathin yang belum kau nafkahi dan kini Mila harus menanggungnya sendiri. Mila sudah terlalu sering mendustai Ibu, Ayah, dan Umi. Memang Mila bahagia, tapi bahagia yang seperti ini tak sedikitpun Mila harapkan. Jika pernikahan ini hanya melukain hatimu Mas, kenapa tak kau sudahi saja? Mila hanya ingin kita sama-sama bahagia”, ucap Mila dalam isak.“Maafkan aku Mil. Aku tak bermaksud melukaimu. Hanya saja cinta yang selama ini ku tunggu belum juga hadir untukmu. Aku memang telah melukaimu juga melukai kedua orang tua kita. Aku sudah berusaha keras untuk bisa mencintaimu. Tapi… entahlah Mil, aku bingung. Aku tidak ingin mengecewakan Umi dan mendiang Abi.”“Mas, kamu itu suamiku. Seorang suami bukan hanya berkewajiban untuk mencintai istri. Tapi juga berkewajiban untuk menafkahi istrinya lahir dan bathin. Beban apa yang memberatkanmu? Katakanlah! Aku berhak tahu, kita bisa selesaikan bersama. Tidak seperti ini. Yang akhirnya semakin memberatkan salah satu di antara kita. Ayo kita bawa rumah tangga ini ke jalan-Nya.”“Aku tidak bisa memberiknmu nafkah bathin, karena aku takut melukaimu Mila.”“Melukaiku? Maksud Mas apa?”“Aku takut, aku melakukannya hanya karena nafsu semata, bukan atas dasar cinta.”“Kalau begitu lakukanlah dengan niat karena Allah. Mas, semua sudah menanyakan kehamilanku.”“Maafkan aku Mila.”

Mila beranjak dengan kesedihan yang amat dalam. Di benaknya hanya kosong. Ia benar-benar tidak ingin suaminya pergi. Di setiap doanya, ia selalu meminta agar rumah tangganya bahagia. Agar cinta yang selama ini bertepuk sebelah tangan segera terlangkapi. Senjanya seakan hilang entah kemana. Wanita solaha itu kini benar-benar tiada daya. Pasrah dan iba selalu ia pasrahkan pada-Nya.

Tiga hari kemudian, malam yang cerah dengan keindahan bulan dan bintang. Bak terpercik tetes embun di gunung Sahara, hati Mila dipenuhi kesejukan. Bagaimana tidak, peluh penantian telah tertambatkan. Malam itu menjadi saksi peraduan cintanya dengan sang suami. Subhanallah.

Pernikahan adalah komitmen seumur hidup untuk mencintai seseorang meskipun mereka tidak layak dicintai, memaafkan seseorang meskipun mereka mungkin tidak layak dimaafkan, untuk menghormati seseorang bahkan ketika mereka berada dalam kondisi yang paling buruk dan untuk tidak pernah menyerah terhadap satu sama lain.

Tepat pada dua hari sesudahnya, Mila harus merelakan kepergian suaminya bertugas ke luar kota. “Hati-hati ya Mas. Kalau ada waktu luang, Mila mohon sempatkan untuk memberi kabar. Doakan Mila agar Mila di sini kuat dan tabah tanpamu Mas”, ucapnya lantas tersenyum.“Insya Allah Mila. Jangan lupa mendoakanku ya. Semoga sepulangku nanti, aku bisa memperbaiki keadaan kita. Selain urusan pekerjaan, akan ku jadikan perjalananku nanti sebagai waktu untuk aku merenung. Aku pamit ya, asalamualaikum.”“Waalaikumsalam”, jawab Mila sambil mencium tangan Ramlan.

Pagi itu ia tetap mempertahankan senyum simpul yang terpahat disudut bibirnya. Ia tak ingin menampakkan kesedihan pada sang suami. Hatinya memang diburui kehancuran, tapi ia pun tak ingin menjadi egois. Ia tau kepergian suaminya di jalan yang baik. Untaian doa dan kasih sayang senantiasa ia curahkan untuk sang suami. Cintanya mengikis sakit yang diembannya. Cinta yang hanya sebelah tangan bertepuk, setidaknya telah sedikit merajuk. Malam indah yang telah lalu, menjadi saksi bisu kebersamaan mereka di persinggahan cinta.

“Ya Allah, dalam derai air mata ini hamba mohon perbaiki iman dan akhlak hamba. Teguhkan setiap langkah hamba untuk mencari ridha-Mu. Dalam setiap rintihan taubatku, hamba mohon ampuni segala dosa-dosa hamba. Lindungilah suami hamba dalam setiap langkah dan tuturnya Ya Rabb.”

Suatu pagi ia merasakan mual yang teramat kuat. Sehingga mengharuskannya memeriksakan diri ke Dokter.

“Selamat ya Bu Mila. Anda tengah hamil. Usia kehamilan Anda hampir sudah mencapai satu bulan”, ucap Dokter kepada Mila.“Alhamdulillah. Jadi saya tidak sakit Dok?”“Tidak, yang penting Bu Mila banyak-banyak istirahat ya! Serta menjaga pola makan yang baik, agar Bu Mila tetap sehat dan janin yang di kandung pun ikut sehat.”“Baik Dok. Terimakasih! Kalau begitu saya permisi. Asalamualaikum.”“Waalaikumsalam.”

Mila beranjak dengan sumringah. Mimpinya untuk menjadi seorang ibu akan terwujud. Ucap syukur tak henti-hentinya ia panjatkan. Setelah kehamilannya mencapai empat bulan, ia memberitahukan kabar bahagia itu kepada orang tua dan mertuanya. Hanya saja sangat disayangkan ia belum bisa mengabari sang suami. Sampai saat ini belum juga ada kabar dari Ramlan. Ia menunggu Ramlanlah yang terlebih dahulu menghubunginya. Ia tak ingin mengganggu suaminya, sehingga ia pun berkeras untuk menunggu telepon dari sang suami.Rindu yang berkalut semakin membuatnya berada dalam sudut. Sudut jiwa yang seolah tanpa nyawa. Dalam simpuh ia kembali mengadu.

“Ya Allah Yang Maha Pengasih, dalam lemah aku menengadah. Berharap Kau Sang Maha Pemberi Hidup memberikan kami umur yang panjang. Agar kami memiliki kesempatan untuk memperbaiki hilaf kami. Ampuni dosa-dosa kami Ya Rabb. Sampaikan rindu ini menyentuh hatinya, siratkan kasih hamba membelai kalbunya. Ya Allah, jadikanlah aku sebagai wanita terbaik di hatinya setelah ibunya, dan jadikanlah aku ibu yang terbaik untuk anak ku di hatinya. Pada-Mu aku mengadu, lindungilah kami di bawah naungan-Mu. Aamiin”

Setelah shalat, Mila beranjak ke tempat tidur. Namun raga yang ia baringkan, tak kunjung terlelap. Hatinya terus digedor-gedor pucuk rindu. Tergelantung asa dalam relung. Lantas ia mengambil secarik kertas. Jemarinya yang lentik begitu lihai menari dengan pena yang menggores kertas putih.

Untuk Mas Ramlan yang Mila cintai.Asalamualaikum.Wr.Wb,dengan rindu dan ketulusan kasih Mila kepada Mas Ramlan, Mila ajak pena ini mengisi kekosongan hati Mila. Untuk sekedar mencurahkan segala apa yang Mila pendam dalam. Mas Ramlan di sana apa kabar? Mila sungguh merindukanmu Mas. Ada banyak hal yang bisa Mila sesali, tapi lebih banyak hal yang bisa Mila syukuri di sini. Ada banyak hal yang tak sesuai dengan keinginan Mila, mungkin Allah ingin Mila lebih banyak menengadahkan tangan. Mila belum sepat mengabarimu kalau Mila sekarang sedang mengandung. Maafkan Mila. Bukannya Mila tidak ingin memberitahumu, tapi Mila tidak ingin mengganggu konsentrasi kerjamu Mas. Hati Mila sungguh berbunga-bunga ketika Mila tahu bahwa Mila sedang mengandung. Mila tidak merasa begitu kesepian lagi. Setidaknya ada anak kita yang menemani Mila. Walaupun dia belum terlahir di dunia, tapi Mila sudah merasakan kehadirannya. Mila sungguh bahagia Mas. Dua minggu lagi tepat 7 bulan usia kandungan Mila. Tidak terasa ya Mas? Sudah 7 bulan juga kamu meningalkanku. Mila tidak sabar menunggu satu bulan lagi, untuk bisa melihatmu lagi Mas. Rencananya, Ayah, Ibu, dan Umi akan mengadakan syukuran tujuh bulan kehamilan Mila. Alangkah lebih bahagianya Mila jika Mas juga ada di sisi Mila. Tapi sekali lagi Allah menginginkan Mila lebih banyak bersabar. Doakan saja ya Mas, agar acara berjalan lancar doakan juga semoga anak kita kelak menjadi anak yang soleh, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Mila sungguh mencintaimu Mas.

Bagai mimpi yang panjang, ingin sekali Mila mendengarmu mengucapkan kata-kata itu padaku. Sekalipun hanya sekali saja seumur hidup Mila Mas mengucapkannya, sudah cukup membuat hati Mila teduh seteduh-teduhnya. Aku benar-benar mencintaimu Mas. Begitu indah anugerah ini yang Dia beri untuk Mila. Sehingga Mila akan menjaganya hingga akhir hayat Mila. Bahkan ingin sekali Mila abadikan rasa ini hingga ke Surga. Insya Allah. Mila rasa sudah cukup Mila mengukir lembar kertas ini. Ingin sekali rasanya saat ini juga sejenak berlabuh di bahumu.
Semoga rindu ini tersampaikan padamu. Mila pamit Mas.Wassalamualaikum.Wr.Wb.Istri yang mencintaimu, yang lemah tiada daya,Mila

Milapun melipat secarik kertas itu kemudian menyimpannya di laci samping tempat tidurnya.
Tepat delapan bulan sudah Ramlan di luar kota. “Alhamdulillah. Akhirnya hari ini aku aku bisa kembali menemui istri dan keluargaku. Rasanya bagai terkurung dalam penjara. Mila, maafkan aku tidak sempat menghubungimu. Tapi hari ini aku janji akan meneleponmu, aku janji Mila”, gumam Ramlan.

Dengan semangat Ramlan mengambil ponsel yang selama ini ditahan perusahaan, karena selama bekerja semua karyawan benar-benar tidak boleh memegang alat komunikasi apapun. Akan tetapi berkali-kali Ramlan menelepon istrinya, tidak satu kalipun ada jawaban.

“Mila, tolong angkat teleponku!” ucapnya tampak cemas, “Ah mungkin Mila tidak di rumah dan lupa membawa ponselnya. Lebih baik sekarang aku kemas-kemas. Aku sudah tidak sabar berjumpa dengannya”, gumam Ramlan lagi. Ramlan pun menyempatkan diri membeli camilan kesukaan Mila sebagai buah tangan.

Sesampainya di rumah,
“Asalamualaikum!”
Berkali-kali Ramlan mengucap salam namun tidak ada satu kalipun jawaban salam dari Mila. Dia melihat ke seluruh ruangan tak juga ia dapati keberadaan sang istri. Lalu ia beranjak ke kamar Mila. Melihat-lihat keadaan di dalamnya. Ya, sepi! Sepi dan senyap. Sampai akhirnya ia menemukan secarik kertas yang dipenuhi tulisan Mila dalam laci. Ramlan tiba-tiba tenggelam dalam isak saat membaca tulisan itu. Berkali-kali ia mengucap istighfar dan maaf kepada Mila.
“Astaghfirullahaladzim. Maafkan aku Mila, maafkan aku! Aku berjanji mulai detik ini aku tidak akan lagi menyia-nyiakan cintamu. Maafkan aku Mila! Kamu di mana?” Ramlan larut dalam sedu, kemudian bergegas menghubungi orang tua Mila. Dari orang tua Mila, ia mendengar kabar bahwa istrinya sedang terbaring di rumah sakit dan akan melahirkan. Ramlan segera beranjak ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit.
“Asalamualaikum”, salam Ramlam.“Waalaikumsalam”, jawab Ayah, Ibu, dan Umi bersamaan.“Bagaimana keadaan Mila?” tanyanya.Tiba-tiba keluarlah Dokter dari ruangan.“Selamat! Bayinya laki-laki”, ucap Dokter.“Alhamdulillah”, kata mereka serentak.“Sebaiknya jika ingin mengadzankan, sekarang saja! Bayinya sedang dibersihkan, lalu akan segera dibawa ke inkubator, karena bayi lahir prematur.”“Lalu bagaimana keadaan istri saya Dok?”“Keadaan Bu Mila sangat lemah. Beliau mengalami pendarahan berat.”

Di wajah mereka terpancar suka dan kedukaan. Ramlan segera mengadzani sang bayi dan menghampiri Mila.

“Mila, kamu dengar aku? Aku pulang Mila. Sekarang aku ada di sisimu”, ucap Ramlan lirih.
Sementara Mila hanya bisa sayup membuka mata. Pandangannya lemah ke arah Ramlan. Sambil sesekali mencoba menegarkan diri dengan tersenyum.

“Mila, jangan kau khawatir dan bersedih. Sesungguhnya Allah jadi yang ketiga di antara kita berdua”, Ramlan menggenggam erat tangan Mila,“Janganlah berhenti bersabar Mila, sungguh Allah bersama yang bersabar. Allah tiada tidur dan senantiasa mendengar segala pinta. Ia mengabulkan doa-doamu selalu, maka banyaklah berdoa Mila! Aku di sampingmu. Aku sungguh mencintaimu”, Ramlan semakin tak bisa membendung air mata,“Mila, aku mencintaimu.”

Namun ternyata kata-kata itu benar-benar sekali saja Mila dengar. Allah begitu sayang kepadanya, sehingga Dia menginginkan Mila cepat-cepat kembali ke sisi-Nya. “Inalillaahiwainailaihiraji’un. Mila, aku mencintaimu”, ucap ramlan semakin mengisak.

Kedatangan tiada lepas dengan kepergian. Kutipan cinta Mila mengantarkannya hingga ke akhir senja. Suasana seketika menjadi kelam. Kesedihan begitu terpancar di wajah mereka. Mila yang lembut hati, yang solehah, yang cantik jelita, yang berwibawa, sabar dan ramah telah pergi dengan damai. Ia membawa dan meninggalkan cinta. Namun kepergiannya menggoreskan duka yang mendalam di hati yang mencintainya. Sepenggal kisah dari wanita sejati yang mengaja dan menanti cinta hingga akhir hayatnya. Subhanallah. Tidak ada yang sempurna. Jika seseorang mengerti dan mencintai kita apa adanya, mengerti dan cintailah ia seperti sebaliknya karena kita dan dia pantas bersama. Jangan mengumpat dari seseorang yang sedang menunjukkan arti cinta, karena kita akan menyesal dan merasa kehilangan ketika ia pergi meninggalkan kita