19 Agu 2014

Ayat Benteng Pertahanan Diri, Keluarga dan Harta Benda



Banyak sekali Ayat-ayat Al-Qur'an untuk melindungi Diri Sendiri, Keluarga dan Harta Benda, tetapi disini saya rangkum dan saya ambil dari beberapa ayat yang sudah dihafal dan di ketahui oleh seluruh umat Islam.

Al-Quran memang merupakan pendinding dan pelindung daripada segala keburukan, Al-Quran Kalamullah, Allah Ta’ala memerintahkan apabila kita diganggu oleh syaitan maka kita memohon perlindungan kepadaNya, sebagaimana firmanNya:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
 
Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Fussilat 41:36 )
Ada beberapa Ayat Al-Qur'an sebagai benteng pertahanan diri, keluarga dan harta benda. Dan saya rangkum beberapa Ayat Al-Qur'an;
1. Al-Muawwizat
2. Ayatul Kursi
3. Ayat 1 hingga 9 Surah Yaasin

1.0 Al-Muawwizat ( Pelindung-pelindung )
Al-Muawwizat yaitu;
1. Surah Al-Ikhlas
2. Surah Al-Falaq
3. Surah An-Naas

Cara:
1. Lunjurkan kaki ke arah Qiblat.
2. Mengangkat dua tangan seperti berdoa
3. Baca ayat-ayat Muawwizat sehingga selesai ( tidak termasuk membaca Surat Al-Fatihah).
4. Tarik nafas kemudian tiup pada telapak tangan sehingga habis nafas.
5. Tarik sedikit nafas, kemudian tahan nafas sambil menyapu telapak tangan ke seluruh anggota badan yang dapat diraih.
6. Lakukan sekali sebelum tidur dan selelas shalat Subuh.

2.0 Ayatul Kursi

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Terjemahan:
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Surat Al-Baqarah ayat 255).

CARA:
1. Untuk melindungi diri sendiri: selepas baca ayatul kursi tiup disekeliling mengikut pergerakan tawaf kaabah, dengan niat melindung diri.
2. Untuk melindungi rumah: baca ayatul kursi sambil berjalan mengelilingi rumah (mengikut pergerakan seperti tawaf kaabah). Berjalan didalam atau diluar rumah.


3.0 Surat Ya-Sin ayat 1 sampai 9
يسٓ
(1) Yaa Siin.

 وَٱلْقُرْءَانِ ٱلْحَكِيمِ
(2) Demi Al Qur’an yang penuh hikmah

إِنَّكَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
(3) sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul

عَلَىٰ صِرَ‌ٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ
 (4) (yang berada) di atas jalan yang lurus

تَنزِيلَ ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ
(5) (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang

لِتُنذِرَ قَوْمًۭا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمْ فَهُمْ غَـٰفِلُونَ
(6) agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai

لَقَدْ حَقَّ ٱلْقَوْلُ عَلَىٰٓ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
(7) Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman

إِنَّا جَعَلْنَا فِىٓ أَعْنَـٰقِهِمْ أَغْلَـٰلًۭا فَهِىَ إِلَى ٱلْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ
(8) Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah

 وَجَعَلْنَا مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّۭا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّۭا فَأَغْشَيْنَـٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
(9) Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

CARA
1. Untuk memegar diri, keluarga dan harta benda.
2. Berdiri disatu penjuru rumah (katakan dihadapan rumah sebelah kanan) sambil menghadap penjuru rumah satu lagi iaitu dikiri rumah. Baca surah Al-fatihah diikuti Surah Yaasin ayat 1~9. Sambil baca, sambil berjalan menuju kepenjuru rumah satu lagi. (Ikut arah Tawaf Kaabah). Baca kombinasi ini di setiap penjuru iaitu sampai bertemu penjuru yang mula-mula. Jumlahnya 4 kali. Akhir sekali baca kombinasi ini sambil mengisyarat mendinding keseluruhan bumbung rumah.
Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua terutama saya sendiri

18 Agu 2014

Kedahsyatan Shalat Sunnah Dhuha

Shalat Dhuha adalah salah satu amalan sunah orang cerdas. Apalagi ibadah ini dilakukan di saat badan sedang segar-segarnya, sinar matahari juga sedang sehat-sehatnya buat badan manusia. Shalat sunah Dhuha dikerjakan saat matahri tengah naik ( sekitar pukul 07.00-10.00 )dengan jumlah rakaat shalat dhuha minimal 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat. Dan dilakukan dalam satuan 2 rakkat sekali salam.

Shalat Dhuha begitu besar keutamaannya, begitu tinggi kedudukannya, serta hampir syariat islam mewajibkannya. Makannya termasuk Sunah Muakkadah, dalilnya antara lain : “ Allah azza wa zalla berfirman: Wahai anak Adam jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada permulaan siang (yaitu shalat dhuha), nanti akan Ku-cukupi kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim dan Thabrani, dalam Saiyid Sabiq, Fiqi Sunah II, Terjamahan MahyudinSyaf, PT Al-Ma’arif, Bandung,1994, Hal. 66).

Karena ada shalat Dhuha maka ada juga shalat tahajud, kenapa ada tahajud? Karena jarak Isya dan Shubuh begitu panjang, Allah ingin agar kita tidak lalai, tidak berlebihan, Dia minta kita bangun sampai-sampai Dia Yang Maha Rahman, Maha Pengampun, Maha Kuasa mau turun ke langit pertama untuk menyapa kita.

Bangunya kita walau sesaat untuk shalat Tahajjud, membaca Kalam-Nya, dan banyak-banyak istighfar disaat sahur sangatlah bermakna untuk perubahan hidup kita di dunia dan akhirat.

Demikian juga untuk Shalat Dhuha, karena jarak antara Shubuh dan Dzuhur begitu panjang, Dia tidak mau kita lalai dalam mencari dunia dan mencari rizki, melalui Rasulullah SAW kita dikenalkan dengan Shalat Dhuha untuk lebih mengenal dan lebih dekat kepada Allah, Pemilik dunia dan Pemberi rizki yang sesungguhnya.

Banyak kisah sukses dari ahli Dhuha yang Allah hadiahkan kepadanya dunia dan rizki yang melimpah. Mengapa kita tidak mencari ridha, rahmat dan berkah dari Allah lewat jalur ibadah? Hingga Ia hadirkan dunia-Nya tanpa harus kita bersusah payah, lelah bahkan sampai ngoyo mencarinya.

Berikut ini adalah kedahsyatan atau kehebatan Dhuha (silakan dipahami):

1. Dua rakaatnya bila rutin dilaksanakan maka akan menghapus dosa-dosa walau sebanyak buih dilautan. Jadi ini amalan pengiring taubat disamping Shalat Taubat dan Istighfar. Hadiah apalagi yang lebih istimewa yang Allah berikan selain ampunan dan ridha dari- Nya?

2. Dengan Shalat Dhuha pahala haji dan umroh dengan sempurna kita bisa dapat. Buat yang belum punya uang, belum punya kesempatan, belum ada panggilan ke Baitullah, maka bisa meraih pahala haji dan umroh bahkan sempurna, sempurna dan sempurna.

Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, beliau berkata, rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan Shalat Fajar (Shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat 2 rakaat (Dhuha) ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umroh, sempurna, sempurna, sempuna.” ( HR. Tirmidzi)

3. Dua rakaatnya setara dengan sedekah untuk 360 persendian. Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi yang atasnya masing-masing ia bersedekah.

Para sahabat bertanya: siapa yang sanggup melakukan itu ya Rasulullah?
Beliau berkata: menghilangkan dahak (kotoran) di masjid, atau membuang sesuatu yang mengganggu di jalan, maka apabila tidak sanggup cukup diganti dengan dua rakaat Shalat Dhuha yang pahalanya serupa dengannya.

Rasulullah bersabda: “Di setiap sendi dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha sebanding dengan pahala semua itu.”

4. Ingin punya usaha, punya bisnis, punya kerjaan yang tempatnya dekat dengan rumah, penghasilannya besar, omzetnya besar dan berkah dan cepat pulangnya, bahkan sewayah-wayah bisa??

Rasulullah mengirim sebuah pasukan perang. Nabi berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya).

Lalu Rasulullah berkata: “Maukah kalian Aku tunjukan kepada tujuan paling dekat dengan mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimahnya, dan cepat kembalinya? Mereka menjawab: “Ya!” Rasul berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu, kemudian masuk kedalam masjid untuk melakukan Shalat Dhuha, dialah yang paling dekat dengan tujuannya, lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Demikianlah sederet kedahsyatan, keutamaan atau manfaat dari Shalat Dhuha. Mungkin masih banyak lagi keutamaanya yang masih belum ditelusuri lebih lanjut.

Semoga kita diberi oleh Allah keistiqomahan dalam mengerjakan Shalat Dhuha serta semua amalan, ampunan, dan hajat kita diterima oleh Allah SWT. Amin.. Wallahu ‘alam bi showab.

-----
Our Ordinary Family

15 Agu 2014

Sepuluh tahun aku membenci suamiku

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku.

Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar- benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senan g dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya .

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.

Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya. “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.

Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai.

Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu- tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.

Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara. Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya.

Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman- temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari- hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari- jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikanny a, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia- nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit.

Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.

Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang, Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti.

Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak- anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini.

Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu.

Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya , tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?” Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny a atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hamper sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus

=====

Source: http://goo.gl/XmtX5K


12 Agu 2014

Lelaki

Lelaki adalah...

Kalau lah ada keberanian yang harus ada pada seseorang maka hal itu seharusnya akan mudah kau temukan pada diri seorang lelaki…

Lelaki yang berani menjadi seorang pemimpin, berani berkata benar dan berani mengambil keputusan. Menjadi pemimpin atas dirinya sendiri, juga atas keluarganya. Berkata benar pada dirinya
sendiri juga pada orang lain. Dan berani mengambil keputusan yang tak hanya baik untuknya tapi juga baik untuk orang lain
bahkan untuk umat.

Kau tahu mengapa bahu seorang lelaki itu harus kuat? Itu tak lain karena ia memikul beban yang begitu berat. Andai kau tahu, menjadi lelaki itu tak mudah. Bukankah ia harus menjaga anak istrinya dari api neraka? Dan bukankah hal itu sudah menjadi amanah yang teramat berat bagi tiap lelaki di dunia?

Ya, itulah mengapa seorang lelaki harus memiliki bahu yang kuat, karena ia memikul amanah berat. Dan tahu kah kau bahwa bahu itu tak hanya harus kuat tapi sekaligus lembut? Karena di bahu itulah ada seorang istri yang menjadikannya sandaran, menjadikan bahu itu sebagai tempat ternyaman untuknya meredam gundah dan kesedihan. Di bahu itulah nanti, akan ada anak-anak yang akan bergelendot manja, meminta kasih sayang. Pun, begitu pula dengan tangannya.

Tangan seorang lelaki haruslah kuat, karena dari hasil kerja tangan itulah ia menafkahi anak dan istrinya. Ia yang harus selalu berusaha, agar apa yang ia bawa pulang ke rumah adalah rizqi yang halal. Ia pula yang harus memastikan bahwa ada barokah pada tiap tetes peluhnya, hingga ia mampu memberikan kehidupan yang baik dan layak untuk mereka yang setia menanti kepulangannya dengan rindu yang membuncah.

Tangan lelaki itu selalu menyediakan dekapan lembut penuh sayang untuk anak-anaknya, tangan yang akan menjadi pegangan bagi jemari-jemari kecil itu belajar berjalan, belajar naik sepeda juga belajar hal lainnya. Tangan yang tak akan pernah melukai, tapi tangan itu selalu menyediakan belaian lembut untuk anak dan istri terkasihnya. Dan lelaki itu, memiliki hati sebening embun hingga ia bisa mencintai anak dan istrinya dengan sebenar-benarnya ketulusan jiwa.

Seorang lelaki, sungguh tak mudah menjadi dirimu. Dan kami tahu itu, bahwa engkau punya sekian banyak gelar yang juga adalah amanah bagimu. Kau lah yang menjadi imam kami, yang harus menunjukkan pada kami jalan kebaikan hingga kau bisa mendekatkan kami pada apa-apa yang dicintaiNya.

Kau lah seorang suami, dan kau jua lah yang akan dipanggil ayah. Maka, jadilah dirimu yang terbaik, hingga semua gelar itu akan mampu kau raih.

-----
Source : Bidadari dunia mencari bekal untuk akhirat

26 Jul 2014

Mamaku Tersayang

Air peluh itu menetes dari dahi seorang wanita berusia sekitar empatpuluh enam tahun. Dengan penuh rasa semangat, dia melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Membersihkan rumah, memasak—semua itu dilakukan hanya karena untuk menyambut kedatangan sang suami terkasih.

Ya, wanita itu adalah mamaku. Mama yang telah susah payah melahirkanku, yang telah memelihara dan merawatku hingga sebesar ini, mendidikku dengan baik. Mama yang tak pernah mengeluh dan selalu bijaksana dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupannya.

Aku memperhatikan mama yang sedang memasak di dapur. Terkadang, hatiku merasa terharu melihat pengorbanan mama kepada keluarga selama ini—terutama kepada papa—suaminya. Namun sayangnya, papa sama sekali tidak pernah menghargai pengorbanan mama tersebut.

Kulangkahkan kaki secara perlahan mendekati mama yang saat itu tengah sibuk memasak—lalu aku memeluknya dari belakang. Mama terperanjat kaget akan kehadiranku yang tiba-tiba itu.

“Ira, bikin kaget saja,” celetuk mama kaget. “Baru datang, Nak?,” tanyanya kemudian.

“Udah, Ma, barusan,” jawabku seraya mencium tangan mama sebagai tanda hormatku—dan mama mencium kedua pipiku dengan hangat.

“Bagaimana sekolah hari ini?”

“Seperti biasa, Ma. Matematika membuatku pusing…”

Mama tertawa. “Tapi kamu harus tetap rajin belajar, biar ujian kamu lancar nanti.” Suaranya yang khas sebagai seorang ibu membawakan ketenangan dalam hatiku.

Aku tersenyum. “Masak apa, Ma?”

“Oh, ini, mama masak sayur lodeh kesukaan papa kamu. Dia pulang malam ini,” jawab mama sambil melanjutkan aktivitas memasaknya.

Aku mengerenyitkan alis. “Memangnya papa pulang hari ini, Ma?”

“Bilangnya sih begitu, maka dari itu mama kerja keras bersihin rumah sama masak, deh.”

Aku terdiam. Memangnya benar papa akan pulang hari ini? Aku sangat ragu saat itu. Aku rasa papa nggak mungkin pulang, karena dia memang jarang di rumah. Dari hari Senin kemarin hingga hari Jumat saat ini—papa bilang bahwa ada banyak urusan di kantor—namun aku kurang yakin akan hal itu.

“Tapi, Ma, apa Mama…”

“Kita positive thinking saja, Nak,” potong mama sebelum aku selesai melanjutkan perkataanku. “Mama tahu papa seperti apa, mama sangat tahu itu. Tapi, apa salah kalau kita mempersiapkan diri untuk kepulangan papa?”

“Tapi, Ma…” Aku berhenti saat melihat kedua mata bulat mama yang penuh dengan sinar keyakinan dan harapan seketika itu. Aku tidak ingin membuat mama terluka, sekalipun itu harapannya yang terluka. Aku tidak ingin melihat airmata mama menetes lagi karena hal itu membuat hatiku merasa sakit sekali.

“Nak…?”

“Eh, iya, Ma…”

“Tapi apa?”

Aku tersenyum. “Nggak, Ma, nggak apa-apa,” telakku.

“Oh iya, Ma, sini Ira bantuin masaknya, ya?” Aku melihat beberapa irisan tempe mentah yang belum digoreng. “Ini Ira yang goreng, Ma, ya…”

“Kamu nggak istirahat dulu, Nak? Kan kamu capek baru pulang sekolah, mandi dulu sana.”

“Nggak apa-apa, Ma, lebih capek Mama dari pagi tadi kerja sendiri. Adik nggak mau bantuin juga.” Aku menuangkan minyak goreng secukupnya di atas penggorengan.

Mama tersenyum menatapku. Dengan perlahan, dia mendekatiku—kemudian mengecup keningku dengan penuh kasih sayang.

“Mama sayang sama kamu, Nak…,” ucapnya dengan lembut. “Mama sayang kalian semua, Anak-anakku.”

# # # #

Jika ada yang bertanya kepadaku—siapakah orang terhebat dalam hidupku—pastinya satu jawabanku—“Mama”.

Ya, mama adalah orang yang sangat hebat yang pernah ada dalam hidupku. Mama seorang wanita yang kuat dan sabar. Kesabarannya sangat melebihi batas normal kesabaran wanita pada umumnya—terutama untuk seorang istri—kesabaran mamaku luar biasa besarnya. Entah terbuat dari apa hati mamaku itu sehingga beliau bisa menjadi kuat dalam menghadapi masalah apapun. Wanita lain belum tentu menjadi sekuat dan sesabar mama jika mereka melihat suami mereka sedang “terbelenggu cinta” oleh pihak ketiga—bahkan sampai tepat di depan mata—aku rasa mereka tidak akan sekuat mama dalam menahan emosi.

Sebenarnya jika kalian menelusuri lebih ke dalam hati mamaku, kalian akan tahu dan mengerti bahwa mamaku juga hanyalah seorang wanita biasa, yang mempunyai rasa sakit dan kecewa jika dilukai hatinya. Namun, mama tetap bertahan menghadapi semua itu. Beliau tidak ingin nampak lemah di depan papa, meskipun terkadang sering juga mama menitikkan airmata tiap kali menumpahkan uneg-unegnya tentang papa kepadaku.

Dan hatiku kerap kali merasa sakit saat melihat airmata mama terjatuh.

# # # #

Nada tergopoh-gopoh menghampiriku yang sedang membaca buku pelajaran di ruang tamu. Adik perempuanku yang satu ini masih duduk di bangku kelas satu SMP ketika aku masih duduk di bangku akhir SMA.

“Ada apa, Dik?”

“Mbak, mama nangis tuh, di kamarnya!”

Aku terperanjat. Buku yang aku pegang tadinya, jatuh di atas lantai.

“Hah?! Kenapa sama mama?,” tanyaku sedikit cemas.

Nada mengangkat bahu. “Nggak tahu, Mbak. Tadi kayaknya abis nerima telepon, mama langsung nangis gitu.”

Aku pun langsung berlari menuju kamar mama. Ternyata benar, mama sedang tersimpuh di samping tempat tidurnya sambil terisak keras. Jarang sekali aku melihat isakan tangis mama yang sebegitu keras dan histerisnya.

Aku berjalan menghampiri mama. “Ada apa, Ma? Mama kenapa?,” tanyaku semakin cemas. Isakan mama semakin menjadi. Kemudian beliau memelukku dengan erat.

“Papa kamu, Nak…,” jawab mama sedikit kurang lancar. Nafasnya masih tersengal-sengal akibat dari isakan tangisnya.

“Papa kenapa, Ma?,” tanyaku penasaran. Perasaanku mulai tidak enak.

“Dia…” Mama menundukkan kepala. Airmata itu terus menetes membasahi lantai kamar.

“Jahat sekali papamu itu… Mama hubungi nggak bisa… Telepon nggak diangkat, pesan nggak dibalas…,” cerita mama sedikit terbata-bata. Aku mengelus-elus bahu mama, berusaha untuk menenangkannya.

“Katanya hari ini dia pulang, mana? Dasar pembohong!!!,” jerit mama semakin histeris. Aku sangat takut sekali melihat keadaan mama seperti itu, tapi aku masih berusaha menenangkannya dalam pelukanku.

“Sabar, Ma, tenang… Apa perlu Ira yang telepon papa?”

Mama masih terisak. Aku mengerti. Kemudian aku menyuruh Nada untuk mengambil handphoneku yang tergeletak di atas meja ruang tamu.

“Ini, Mbak.”

“Thanks.”

Aku segera memasuki daftar buku telepon dalam handphoneku itu untuk mencari nomor telepon papa. Beberapa detik kemudian, aku berusaha menghubungi papa.

“Dik, tolong jagain mama,” pintaku kepada Nada. Adikku itu hanya mengangguk. Aku sedikit menjauh dari kamar mama untuk menelepon papa.

Sekali aku telepon, tidak ada jawaban Aku telepon lagi, masih tetap tidak ada jawaban. Aku telepon terus, hasilnya pun sama saja. Aku mulai merasa jengkel dalam hati. Akhirnya aku mengirim pesan kepada papa.

“Papa ada dmn? Katanya plg? Kok gak ada balasan telp? Mama nungguin Papa tuh, tp Papa kyk gak peduli!”

Pesan terkirim. Aku segera kembali ke kamar untuk melihat keadaan mama—dan, syukurlah, mama sudah kelihatan agak tenang—meskipun isakan tangisnya masih sedikit terdengar.

“Mama…,” kataku sambil mendekati mama pelan-pelan. “Maafin Ira, Ma. Ira berusaha menghubungi papa tapi juga nggak ada jawaban.”

Kedua mata mama yang basah dan sembab, menatap tajam ke arah luar pintu kamarnya.

“Biarkan saja, Nak, papa kamu berkelakuan seperti itu kepada mama, kepada kita. Mama tahu, papamu sekarang nggak lagi di kantor. Mama sangat yakin, pasti dia sekarang ada di rumah wanita itu,” ujar mama dengan suara tertahan karena emosi.

Aku hanya diam, membiarkan mama mengeluarkan uneg-unegnya terlebih dahulu, dan aku memperhatikannya dengan seksama

“Papamu memang benar-benar keterlaluan! Dia nggak pernah melihat pengorbanan mama sampai sejauh ini, dia nggak pernah tahu dan nggak mau tahu bagaimana keadaan keluarganya di rumah selama ini. Papamu itu, dia hanya mementingkan diri sendiri saja!” Mata mama menyorot emosi saat menumpahkan uneg-unegnya itu.

“Iya, Ma, Ira tahu…”

“Dia itu! Mama jengkel sama dia! Mana pernah papamu menyerahkan keuangan sepenuhnya kepada mama? Sama sekali nggak! Ngasih uang buat kebutuhan keluarga seperti ngasih uang saku buat anak sekolah! Papamu nggak pernah tahu kesulitan kita di rumah, dia nggak pernah tahu! Yang dia tahu hanyalah dunia luar bersama wanita-wanitanya itu!!!” Airmata mama meledak kembali, mengalir membanjiri wajahnya.

Aku merasa sedih sekali melihat keadaan keluargaku yang seperti ini—terutama melihat keadaan mama jika sedang tersakiti. Ingin rasanya aku membawa mama pergi dari rumah ini dan tinggal bersamaku. Ingin rasanya aku membahagiakan mama, membuat mama melupakan segala tentang kesedihannya selama beliau hidup bersama papa, tapi apalah daya, aku masih belum mampu untuk melakukannya. Aku masih duduk di bangku kelas tiga SMA dan tak dipungkiri juga bahwa aku masih membutuhkan bantuan orangtua—walaupun sebenarnya ingin sekali aku hidup mandiri.

“Mama, maafin Ira, ya… Ira masih belum bisa berbuat apa-apa untuk membantu ekonomi keluarga. Ira merasa sangat sedih melihat keadaan kelurga kita seperti ini. Maafin Ira, Ma…”

Tanpa terasa airmataku menetes. Mama memelukku dengan hangat, kemudian membelai rembut ikal panjangku dengan penuh kasih sayang.

“Jangan begitu, Nak. Justru mama yang minta maaf kepada kalian karena selama ini sebagai orangtua, mama belum bisa membahagiakan kalian, Anak-anakku. Mama sangat sayang kalian…”

Aku semakin menangis mendengar ucapan mama tersebut. Bukan Mama yang harus minta maaf, tapi aku, Ma. Aku sebagai seorang anak belum bisa membalas kasih sayang dan pengorbanan Mama selama ini.

Mama melihat adikku duduk di sampingnya. Tangannya yang lembut itu juga memeluk adikku dengan hangat. Adikku yang sedari tadi hanya diam memperhatikan keadaan kami—kini menjatuhkan airmata juga.

“Maafin Nada juga ya, Ma… Nada selama ini bikin Mama jengkel, bikin Mama marah. Nada hanya menyusahkan Mama saja. Maafin Nada, Ma…,” ucapnya semakin menangis—sama sepertiku.

Senyuman mama mengembang secara perlahan disela-sela airmatanya “Sebenarnya mama udah nggak kuat menghadapi kelakuan papamu yang seperti itu…” Mama melepaskan pelukannya. Tatapannya yang lembut itu memasuki mata kami berdua.

“Jika mama mau, mama bisa saja minta cerai kepada papamu itu.”

Aku tertegun mendengar apa yang mama katakan barusan. Begitu juga dengan Nada—adikku.

“Tapi mama nggak akan pernah melakukannya karena kalian.”

“Karena kita, Ma?,” tanyaku heran.

“Iya. Mama akan tetap bertahan hidup dengan papa hanya demi kalian. Kamu dan Nada. Mama tahu, kalian masih butuh banyak biaya. Meskipun seperti itu, kalian masih membutuhkan papa untuk hidup kalian, dan mama harap kalian jangan sampai berani kepada papa, karena kalau nggak ada papa, nggak akan ada kalian, anak-anak mama yang sangat mama cintai.”

Mataku kembali berkaca-kaca. “Mama…”

“Memang mama belum mendapatkan kebahagiaan sama sekali sejak awal mama menikah dengan papa, hidup mama selalu sengsara. Namun, ada satu hal yang membuat mama bahagia menikah dengan papa, yaitu kalian, Anak-anakku. Kalianlah anugrah terindah yang diberikan papa kepada mama. Bukan emas, ataupun harta benda lainnya, hanya kalian. Dan mama sangat bahagia mepunyai anak-anak seperti kalian.

Airmataku semakin mengalir deras mendengar ucapan mama tersebut. Demikian juga dengan Nada. Perasaan bahagia, haru, bahkan sedih, bercampur-aduk menjadi satu dalam dada kami—hingga kami tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Mama harap kalian, terutama Ira, jangan sampai mengecewakan mama, ya…”

“Iya, Ma, terima kasih…”

Mama kembali mendekap kami dengan penuh kasih sayang—sementara kami masih tetap menangis dalam dekapannya.

# # # #

Aku telah berjanji dalam hati, aku akan membahagiakan mama semampuku. Mungkin belum untuk saat ini, tapi aku yakin, suatu saat nanti aku pasti akan bisa membahagiakannya.

# # # #

Tiga bulan sebelum aku menghadapi ujian nasional—aku semakin sibuk dengan sekolahku, dengan pelajaran tambahanku setiap sore setelah pulang sekolah, dan tentunya semakin sibuk dengan buku-buku pelajaranku. Sebenarnya aku merasa jenuh dan lelah, tapi aku tidak menyerah. Aku harus terus belajar agar aku bisa lulus dengan nilai baik dan tidak mengecewakan orangtua, terutama mama.

Namun, akhir-akhir ini suasana di rumah sedang tidak baik. Mama dan papa selalu berseteru—mempermasalahkan kelanjutanku setelah tamat sekolah ini. Papa ingin aku masuk ke dunia pramugari karena saat itu ada koneksi dari anak wanita simpanannya yang juga bekerja sebagai pramugari di salah satu maskapai penerbangan swasta. Memang, pramugari merupakan cita-citaku sejak masih SMP, tapi apakah dengan cara seperti ini? Dengan cara menerima bantuan belas kasihan dari wanita itu? Aku rasa, tidak.

Tanpa diduga, ternyata mama sependapat denganku juga. Mama tidak ingin aku menjadi pramugari bukan karena tidak suka, tapi karena mama tidak menyukai caranya. Sebenarnya mama lebih ingin aku kuliah jika memang ada dananya. Sementara papa tidak menyetujui hal itu.

Pusing kepalaku mendengarkan perdebatan tersebut. Saat itu aku memang sedang dilema—antara menerima tawaran dari papa atau tidak. Aku sendiri juga tidak ingin menyakiti hati mama, karena dengan aku menerima tawaran itu, berarti keluarga kami mempunyai hutang budi kepada wanita tersebut. Aku tidak ingin menambah beban hati mama yang telah tersakiti akan hal itu.

“Mama nggak ingin jauh dari kamu, Nak. Karena kalau sudah jadi pramugari, kamu nggak akan pulang selama kontrak ikatan kerja, apalagi kamu harus ke Jakarta. Maaf, Sayang, mama nggak bisa,” jawab mama ketika aku bertanya “Kenapa?”. Aku tahu, mama hanya menutupi alasan yang sebenarnya dariku—walaupun sebenarnya aku telah mengetahuinya.

“Iya, Mama, Ira ngerti…”

# # # #

Mama menatap wajahku dengan air muka serius. Sepertinya beliau ingin membicarakan sesuatu yang penting kepadaku. Aku hanya duduk dengan kepala tertunduk di hadapannya.

“Ada apa, Ma,” tanyaku memberanikan diri.

“Ada yang ingin mama bicarakan sama kamu dan ini penting, jadi tolong dengarkan mama dengan seksama.”

Serius sekali. Aku hanya bisa mengangguk pelan—takut jika ada hal yang buruk menimpa kepadaku.

“Kemarin mama habis ditelepon sama nenekmu yang ada di Batam.” Mama terlihat sangat serius—membuatku semakin takut.

“Nenek bilang, kalau rumah yang ada di Surabaya udah terjual dan hasilnya udah dibagi,” ucapnya.

Aku menghela nafas lega. Aku kira ada sesuatu hal buruk yang terjadi, tapi ternyata hanya memberitahukan hal tersebut.

“Alhamdulillah, Ma. Jadi mama bisa nabung dong buat umroh nanti?”

Mama terdiam. Raut muka yang tadinya serius, kini berubah menjadi sayu. Aku jadi bingung dan heran melihatnya.

“Ma, ada apa?,” tanyaku.

Mama kembali menatapku dengan lembut. Beliau tersenyum kepadaku.

“Mama pending dulu umrohnya, Nak,” jawabnya begitu tenang.

“Kenapa begitu, Ma?” Aku mulai cemas. “Bukannya itu impian mama selama ini? Meskipun masih belum mampu untuk naik haji, tapi mama selalu berangan untuk pergi umroh. Sekarang ada kesempatan itu, kenapa malah dipending?”

Mama masih tetap bersikap tenang setelah mendengar pertanyaan-pertanyaanku itu. “Mama tahu, Nak. Tapi, bagaimanapun juga, tetap anak yang paling utama,” jawabnya penuh wibawa. Aku semakin bingung. Apa maksudnya?

Kemudian mama menjelaskan semuanya kepadaku. Rumah nenek—ibunya mama—yang ada di Surabaya telah laku terjual, itu berarti uang warisan mama telah keluar. Mama telah membicarakan ini kepada nenek, bahwa uang warisan bagian mama ingin digunakan untuk biaya kuliahku nanti setelah aku tamat SMA. Mama membujuk nenek agar beliau setuju dengan permintaan mama, dan alhamdulillah—nenek menyetujuinya.

Aku sangat sedih melihat pengorbanan mama yang satu ini. Mama rela mengorbankan keinginannya hanya demi masa depanku. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Saat itu, yang aku rasakan hanya sedih dan terharu. Aku berusaha membendung arimataku agar tidak jatuh, namun akhirnya jatuh juga. Aku menangis di depan mama.

“Kenapa begitu, Ma?,” tanyaku dengan suara lemas—bahkan hampir tak bersuara. Aku benar-benar tidak bisa membendung airmataku.

“Semua demi kamu, Nak, demi masa depan kamu. Umroh mama bisa dipending sampai nanti ada rejeki lagi.”

“Tapi, Ma, Ira bisa nggak kuliah dulu. Ira bisa bekerja setamat SMA nanti, kuliah bisa nanti, Ma.” Aku membenamkan wajahku ke dalam kedua telapak tanganku dan menangis di dalamnya.

Mama tersenyum. Tangannya yang lembut itu membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahku. Saat itu, wajahku benar-benar banjir oleh airmata.

“Jangan menangis, Sayang. Mama lakukan ini semua untuk masa depanmu nanti. Mama tidak suka kamu hanya lulusan SMA saja karena mama nggak mau kamu nanti menjadi seperti mama yang tidak bekerja dan hanya bergantung sama laki-laki saja. Pastinya kamu juga tidak ingin hidup seperti ini, bukan?,” jelas mama dengan sangat bijaksana. Aku menggeleng pelan sambil mengusap airmataku sendiri.

“Makanya, kamu harus bekerja, tapi sebelum itu kamu harus kuliah terlebih dahulu agar kamu mendapatkan pekerjaan yang layak.”

Aduh, airmataku masih belum berhenti mengalir juga? Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Hanya menangis yang bisa kulakukan saat itu.

“Mama, Ira nggak tahu harus berbuat apa untuk Mama. Maafin ira, Ma, selama ini selalu merepotkan Mama, hingga sekarang pun Mama harus mengorbankan keinginan Mama untuk Ira. Sebenarnya Mama nggak perlu repot-repot untuk seperti itu. Maafin Ira yang belum bisa membahagiakan Mama,” ucapku panjang lebar.

Mama hanya tersenyum lembut mendengarku. Kemudian aku rasakan mama memelukku dengan penuh kasih sayang.

“Mama tidak minta apa-apa, Nak. Kebahagiaanmu juga merupakan kebahagiaan Mama. Tapi, mama hanya minta satu hal dari kamu, tolong jangan mengecewakan Mama, ya? Mama selalu berdoa yang terbaik buat kamu. Kalaupun papamu merasa keberatan untuk membiayai kelanjutan pendidikanmu, nggak masalah, Nak, selalu ada mama yang mendukung kamu.”

Entah mengapa, mendengar ucapan mama barusan, airmataku tak kunjung berhenti juga—malah semakin mengalir deras. Aku merasa berdosa selama ini belum bisa membahagiakan mama. Rasa sedih dan haru bercampur jadi satu dalam dadaku.

Namun, rasa senang, bahagia, dan bangga juga melingkupi diriku. Aku senang mempunyai seorang ibu seperti mama. Aku merasa bangga dengan mamaku sendiri meskipun beliau hanya seorang ibu rumahtangga. Aku tidak akan malu dan takkan pernah malu untuk menyanding nama mama dalam dadaku.

Lihatlah, mamaku sangat cantik! Walaupun secara fisik nampak biasa saja, namun, telusurilah ke dalam hatinya—mamaku merupakan seorang wanita yang sangat istimewa. Seorang wanita yang sabar, setia, dan penuh pengorbanan.

Aku berjanji dalam hati kepadamu, Ma. Aku akan selalu membahagiakanmu dengan caraku sendiri. Aku akan membuatmu bangga, seperti aku bangga kepadamu, Mama. Hanya tunggu waktu, aku akan membawa kebahagiaan untukmu.

Mamaku tersayang…

-----
Source : Tulizanqu