Pukul 05:30Langkahku kini kian ringan, menjelang
detik-detik hari pernikahanku. Aku seolah memiliki kekuatan baru untuk
menyongsong masa depan. Keraguan itu kini tak lagi menyelimuti hatiku, meski
tak dapat ku pungkiri aku masih setengah hati mencintainya. Tapi toh dia mampu
meyakinkan ku untuk menerima pinangannyaMalam itu, adalah pertemuan terakhir
kami mejelang hari H akad nikah, ia katakan banyak hal yang membuatku merenung
dan ikhlas menerimanya untuk jadi suamiku.
“Mungkin, buatmu aku bukanlah sosok laki-laki yang kau harapkan Nay… pertemuan
yang cukup singkat, dengan pendekatan yang seadanya… aku yakin, saat ini pasti
ada perasaan ragu di hatimu” tak seperti biasanya, kala itu ia berani memegang
kedua tanganku, memegang erat jari jemariku sambil menatap wajahku ia pun
melanjutkan apa yang ia ingin katakan padaku
“Hanya sebuah niat tulus untuk mengajakmu lebih dekat kepada Allah, yang aku
punya. Apapun yang terjadi aku siap menerima, jika kau ingin mengurungkan pernikahan
kita 1 minggu ke depan aku ikhlas Nay…”Matanya begitu redup dan penuh dengan
kelembutan, saat itu ia terlihat begitu tampan tak seperti biasanya. Raut
mukanya terlihat sedikit memelas. Aku pun hanya terdiam, entah kenapa tiba-tiba
hatiku seolah menangis, “inikah jalan hidupku Ya Allah?”Kutundakkan kepala
sejenak, sembari berusaha untuk menahan air mata yang akan keluar dari kedua
mataku.“Jodoh, mati, rejeki sudah ada yang mengatur, kita manusia hanya
berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita disertai doa, kita jalani
saja apa yang sudah sampai saat ini kita usahakan mas…”Sambil tersenyum, ku
ucapkan kata-kata itu, dengan raut muka yang memberikan pengharapan padanya.
Tak ada yang salah dengan status dudanya, sosoknya yang begitu ramah membuat
dia memiliki banyak teman. Pekerjaannya sebagai pengusaha bengkel saat ini juga
cukup lumayan untuk menghidupiku dan anak-anak kami kelak. Postur tubuhnya
tinggi besar, dengan sedikit lesung pipit di pipinya. Fisiknya cukup lumayan
untuk ukuran laki-laki tampan, tapi entah kenapa aku tak juga bisa mencintainya
sepenuh hati. Mungkin karena beberapa sifatnya yang tidak aku suka, benar yang
ia katakan “dengan pendekatan yang cukup singkat, aku yakin pasti kau memiliki
rasa ragu di hati mu saat ini Nay…” hmmm… dia sedikit kasar, tidak beraturan,
dan “kisruh” kalau kata orang jawa. Dia memang tak pernah membentakku, tapi
nada bicaranya selalu lantang dan ga ada halus-halusnya sama sekali. Bukan
hanya itu, aku paling tidak suka dengan sikapnya yang semaunya sendiri.
Pernah suatu ketika, saat kami keluar bersama untuk sekedar makan malam di
warung pinggir jalan. Selesai dari warung “Nasi Bebek Pak No”, kami tak
langsung pulang, mampir di sebuah tempat penjualan terang bulan dan martabak
daging, dalam penantian matangnya terang bulan dan martabak, kami bertemu
dengan mantan istrinya yang sekarang bekerja di surabaya.
Maksudku menghampiri mantan istrinya, hanya
sekedar mengobrol dan berkenalan sambil menanti jajanan pesanan kami matang.
Namun dengan nada bicara yang tak bisa halus, ia mencegahku. Bukan hanya itu,
ia bahkan menarik pergelangan tanganku dengan kuat, hingga hampir saja aku
jatuh di tengah kerumunan pembeli lainnya. Saat itu, aku mulai menyadari. Sifat
egois dan kasarnya begitu melekat di dirinya, aku begitu jengkel dan kesal
rasanya. Belum pernah aku diperlakukan yang menurutku kasar seperti itu oleh
laki-laki yang mengaku cinta kepadaku. Tiga kali menjalin hubungan dekat dengan
laki-laki, dialah laki-laki yang paling kasar di antara tiga itu, dan bisa di bilang
hanya dia yang kasar, sedangkan 2 teman dekat lelakiku terdahulu, begitu sopan
lembut dan sangat perhatian kepadaku meskipun endingnya tiada keseriusan dari
mereka. Hmmm.. mungkin memang inilah jalan hidupku. Ya Rabb.. tak seharusnya
aku menghitung-hitung kekurangannya menjelang detik Ijab Qabul yang akan dia
ucapkan 3 jam lagi, dan tak terasa air mataku mengalir begitu saja di pipi.
“Lho kog malah melamun… Inayah kamu menangis nak?” Ibuku datang, dan
membuyarkan segala lamunanku“Kamu bahagia kan Nak?”(dengan sedikit terisak
sambil tersenyum) “hiks.. hiks… bahagia bu, bahagiaaa banget ternyata jodohku
mas rahmat, (penuh tawa canda namun ada yang disembunyikan) di tunggu-tunggu
dari Jakarta eh dari daerah surabaya juga”“Ibu ga pernah ajarkan kamu bohong,
semoga apa yang kamu ucapkan itu benar-benar yang kamu rasakan saat ini ya
Nak…” sambil memeluk dan mencium keningku
Pukul 08.20Mas rahmat ucapkan ikrar suci itu, di balik kamar aku mendengarkan
suaranya yang cukup lantang, dengan rasa nervous yang ga karu-karuan.“Saya
Terima Nikahnya Inayah Maghfirah binti Muhammad Ali dengan mas kawin sebuah
Tafsir Al Qur’an di bayar tunai”
Air mata kembali mengalir membasahi pipiku yang telah terpoles dengan aneka
bedak dan make up, ada rasa haru, bahagia, juga nelangsa. Ku tepis rasa sesal
dan nelangsa, ku yakinkan diri bahwa dialah jodoh yang sudah Allah tentukan
untukku. Aku percaya lewat dia aku akan bisa lebih dekat kepada Allah dan
RosulullahInilah akhir dari penantian panjangku, tiga tahun sudah aku tak menjalin
hubungan dekat dengan laki-laki, dan 21 Januari 2003 ku tutup masa lajangku di
usia 26 tahun bersama dengannya, mas rahmat. Duda 32 tahun, tanpa anak yang
dikenalkan oleh temanku, bercerai dengan istrinya pada tahun pertama pernikahan
karena ia mengalami PHK dari kantornya. Di awal perkenalan memang ada sedikit
ragu di hati orang tuaku, tapi sikapnya yang mudah bergaul dengan keluargaku,
membuat orang tuaku simpatik dan yakin kepadanya bahwa dia akan menjadi imam
yang baik untuk putrinya kelak.Biarlah, ku niati semua ini sebagai ibadah,
bagian dari usahaku untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Serapi apapun
rencana hidup seorang manusia dengan segala usahanya, jika Tuhan tidak pernah
menghendaki maka takkan pernah terjadi. Karena kekuasaan tertinggi ada pada
Nya.
Pukul 22.30Suara keriuhan di rumahku sedikit demi sedikit mulai menghilang.
Mungkin semua telah mulai lelah dan kecape’an dengan acara pernikahanku ini.
Terlebih lagi ibuku yang dari 3 minggu kemarin sudah mencicil membuat kue-kue
kering sebagai buah tangan para undangan di hari pernikahanku tadi. Aku sendiri
pun merasa pegal yang tak terkira, mulai dari kepala yang harus menyandang
jilbab dengan balutan bunga melati asli selama seharian, pipiku yang kram
karena harus tersenyum tiap kali ada yang memberiku ucapan selamat, hingga
tubuhku yang kesal bukan main karena seharian duduk berdiri-duduk berdiri.
Dan malam ini ada yang berbeda dikamarku, ada sesosok manusia laki-laki yang
akan selalu menemani tidurku. Hmmm.. Muhammad Rahmat, akhirnya hari ini kau
resmi jadi suamiku.Sambil kubersihkan sisa-sisa make up yang ada, aku mulai
pembicaraan pertama dengan suamiku“Di ambilin makan mas?”“Engga’ usah, masih
kenyang”“Oh.. ya sudah” (dengan melanjutkan menyapu pipi)“Dek…”Aku sedikit
terkaget, kupalingkan tubuhku ke arahnya, tumben-tumbennya mas duda panggil aku
dek“Apa…? Aku..?”“Ya iyalah, kan disini cuma ada kita berdua, masa aku panggil
Dek Faris, adikmu itu”Huhhh… lagi-lagi dengan nada kasarnya, apa dia ga bisa
ngomong biasa aja, ga pake’ lantang, batinku.“iya.. iya.. apa?”“kamu masih
belum shalat ya?”Haduh Ya Allah, aku jadi gemetar dengar pertanyaan itu, tapi
inilah hidup, lahir, tumbuh dewasa, menikah, berkeluarga kemudian mati. Ga
mungkin juga aku memilih hidup melajang selamanya, pastilah keluarga terutama
orang tua akan geram kepadaku.Entah wajahku terlihat nervous atau tidak, tapi
dengan sedikit senyum takut ku katakan padanya kalau aku masih belum suci dari
haid.“aku masih belum suci dari haid mas…”“Ehmm… mas cuma tanya kok. Mas capek
banget, adek juga pasti capek kan? (ia beranjak dari ranjang dan menghampiriku
yang tengah duduk di depan cermin) Mas tidur duluan, kalau bersihin make up ga
usah lama-lama tetep cantik kok, baca ini dulu ya sebelum tidur sayang” (hmmm…
dia kecup ubun-ubun kepalaku setelah menyodorkan amplop putih yang bertuliskan
“Untuk Istriku tercinta”).
Pukul 11.48Akhirnya selesai sudah membersihkan diri, kurebahkan punggungku di
atas bantal dengan posisi yang sedikit terduduk, ku lihat amplop itu, kemudian
ku lihat wajah mas rahmat yang tengah tidur pulas disampingku, ku buka dengan
sedikit gemetar, jantungkupun berdegup kencang, batinku berkata
tumben-tumbennya duda ini jadi romantis, pakai panggil-panggil dek segala, ada
sayangnya lagi. Kubuka dengan perlahan dan mulai ku baca satu demi satu
kalimatanya.
“Surabaya, 20 Januari 2003,Bismillahirrahmanirrahim, Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha PenyayangKu tulis surat ini ketika kau masih
menjadi calon istriku, dan insya Allah ketika kau baca, kau telah sah sebagai
istrikuBesok jum’at pagi, kan ku ucapkan ikrar suci itu untuk kedua kalinya.
Kepada mu Inayah Maghfirah, aku menaruh banyak harapan untuk masa depan kita
kelak.Meski engkau bukan yang pertama untukku, tapi aku sangat berharap kau
menjadi yang terakhir hingga ajal menjemputku nantinya. Menjadi seseorang yang
akan terus setia disampingku dalam setiap tawa dan tangisku.
Perkenalan kita di rumah yanti 6 bulan lalu, membuatku menaruh rasa suka kepada
mu. Aku juga tak tahu pasti, apa engkau benar-benar mempunyai rasa yang sama
denganku atau hanya sekedar kasihan kepadaku. Entahlah… Yang pasti aku masih
ingat betul kalimat yang pernah kau kirimkan lewat sms, ketika minggu 26
November 2002, ku minta kau untuk menikah denganku
“aku akan menikah dengan mu karena aku mencintai Nya”.
Ada rasa senang bercampur bingung, kenapa “karena aku mencintai Nya?” bukankah
seharusnya “karena aku mencintaimu mas…?”Jujur, sms mu saat itu membuatku tak
bisa tidur semalaman. Aku berfikir, mungkinkah aku menikah dengan seorang
wanita tanpa cinta? Sekasar dan sebrutalnya aku, tak pernah sedikitpun ada
keinginan untuk memaksa seorang wanita menikah denganku.Namun sedikit demi
sedikit aku mulai mengerti apa yang kau maksud Nay, maka dari itu aku tak
pernah ingin mengurungkan niatku untuk menikahimu, kecuali jika engkau yang
menolak. Bukan karena aku tak tahu diri dengan status dudaku, tapi karena aku
yakin, bersamamu… cintaku kepada Nya akan dapat lebih dalam lagi.
Nay… aku bukanlah laki-laki yang bisa lembut kepada wanita, tapi aku akan
berusaha untuk menjadi lembut kepadamu, aku juga tidak sebegitu paham dengan
agama yang aku anut, tapi aku akan berusaha untuk memahami agamaku, agar
kehidupan rumah tangga kita lebih baik kedepannya, aku juga tidak begitu
mengerti tentang mencintai Nya, tapi aku akan berusaha mencintai Nya lebih dari
apapun, bukan karena mu tapi “karena memang aku ingin lebih mencintai Nya
lagi”Inayah Maghfirah, kamu mau kan, mendekat kepada Nya bersama-sama denganku?
Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alamAkhirnya
lega juga, twlah ku tuliskan segala yang mengganjal di hati selama 2 bulan,
setelah kau kirimkan sms itu.Semoga setelah kau baca suratku ini, tak ada lagi
rasa ragu yang menyelimuti hati mu untuk menjadi teman hidup terbaikku. Kau tak
perlu berusaha untuk memaksakan diri mencintaiku, karena dengan semakin
cintanya engkau kepada Dia Sang Maha Berkuasa, sudah pasti ada cinta di hatimu
untukku.
Lewat rumah tangga yang mulai kita bina ini, kita sama-sama berusaha untuk
lebih mencintai Nya lagi ya sayang… hehehe. Maaf kalau ada kata-kata yang
terkesan berlebihan, sssst… aku ga bisa romantis “DEK”, untuk mengatakan semua
ini secara langsung saja aku tak punya nyali, makanya aku pilih media surat.
Terkesan jadul sich, tapi ga apalah dari pada sms, jempol mas pegel hehehe…
Semoga kejujuran ini menjadi salah satu jalan
untuk kebaikan kehidupan baru kita amin.
Yang kini menjadi teman hidupmu
Muhammad Rahmad
Kututup kertas surat itu dengan membasahinya, seperti biasa wanita tak pernah
luput dari air mata. Ada haru bercampur bahagia setelah ku membacanya, sisi
baik dari pribadiku mulai up kembali. Jika dia sudah percaya diri seperti itu
kenapa aku harus ragu?Tak ada lagi yang perlu aku khawatirkan, memang itulah
dia, mas rahmad tak pernah menjadi orang lain, dia menjadi dirinya sendiri, dan
aku tak perlu menuntutnya untuk menjadi orang lain. Yang pasti kita punya misi
dan visi yang sama dalam pernikahan baru kita ini, karena kita sama-sama ingin
lebih mencintai Nya.Kuletakkan surat itu di atas meja, matakupun mulai merasa
kelelahan. Sebelum ku pejamkan mata, ku kecup kening suamiku sambil ku bisikkan
kata “aku mencintaimu mas..”
Pernikahan seharusnya mendatangkan kebaikan, bukanlah sebuah keraguan. Jika
dengan menikah, membuatku semakin mudah untuk dekat kepada Nya, kenapa aku
harus ragu?
Heningnya malam semakin hening, saat denting jam
dinding seolah mengalun tanpa nada. Hembusan angin meniup sejuk, merayap
membangunkan sosok wanita yang terbaring pulas. Mila.
“Subhaanallah”, ucap Mila. Kemudian mengambil wudhu dan segera mengerjakan
shalat malam.Dengan kusyuk ia manghadap Allah, berdoa dan memohon kepada-Nya.
Menetes air mata seketika dari celah-celah mata yang penuh dengan harap.
Berkali-kali ia memohon ampun, meminta petunjuk serta hidayah dari-Nya.
“Ya Allah Yang Maha Pengampun, sudikah kiranya Engkau mengampuni segala dosa
yang telah ku buat? Berkali-kali hamba mendustai-Mu, mengingkari-Mu, juga
berpaling dari-Mu. Hamba hanyalah kecil di hadapan-Mu. Bahkan sekalipun hamba
beribu kali memohon ampun, tak lantas cukup untuk menebus segala dosa hamba.
Hanya saja hamba yakin bahwa Engkau menyayangi hamba-Mu tanpa terkecuali. Hamba
bukan hanya kecil ya Rabb, tapi juga lemah. Hamba tak berdaya tanpa-Mu. Apa
yang hamba lakukan rasanya percuma jika tanpa ridha dari-Mu. Ya Allah Yang Maha
Penentu Takdir, tempatkanlah hamba dalam ruang yang penuh oleh cahaya-Mu. Jika
hamba jatuh cinta, maka jangan biarkan hamba mencintai makhluk melebihi hamba
mencintai-Mu. Takdirkanlah hamba dengan jodoh yang benar-benar Engkau pilih.
Yang mampu membawa rumah tangga kami ke dalam bahagia dunia maupun akhirat
nanti. Aamiin.”
Keesokan harinya pertemuan dirinya dengan Ramlan pilihan kedua orang tuanya
berlangsung. Ini adalah kali pertama Mila menjalani ta’aruf. Setelah menyambut
kedatngan Ramlan dan keluarga, Mila bergegas ke dapur untuk menyiapkan jamuan,
kemudian disusul sang ibu.
“Gimana Ndok? Kamu cocok?” tanya ibu.“Apapun dan siapapun pilihan ibu dan ayah,
cocok cocok saja. Tapi jika ditanya benar-benar cocok atau tidak, Mila belum
tahu”, ucapnya
Sambil tersenyum.“Ya sudah ayo jangan lama-lama
di dapur!”“Iya Bu.”
Beberapa saat kemudian Milapun menuju ke ruang tamu dengan membawa makanan dan
minuman yang telah ia siapkan untuk menjamu Ramlan dan keluarga.
“Subhanallah cantik dan anggun sekali kamu Ndok!” ucap Umi Aminah (Ibunda
Ramlan) kepada Mila.“Terima kasih Umi”, jawab Mila dengan ramah, “Silahkan
diminum!” lanjut Mila.
Ramlan yang datang dengan ibu dan pamannya terlihat gugup. Sang paman yang
mewakili mendiang ayahnya menyampaikan maksud dari kedatangan mereka kepada
keluarga Mila.
“Nak Mila, perkenalkan ini Ramlan. Ramlan, ini Mila. Walaupun Ramlan sebelumnya
tidak pernah bertemu dan mengenal nak Mila. Tapi dengan niat karena Allah, kami
datang ke hadapan keluarga Pak Imran, selain semata-mata ingin bersilaturahim
juga bermaksud untuk melamar Nak Mila. Sudikah kiranya Bapak dan keluarga
menerima lamaran kami terhadap putri Bapak?”“Keputusan ada di tangan Mila.
Bagaimana Ndok?” ucap sang ayah kepada Mila.“Insya Allah, dengan niat ibadah
kepada Allah, Mila menerima lamaran Mas Ramlan dan keluarga”, jawabnya.
Rona bahagia pun tampak seketika di wajah mereka. Terutama ayah dan ibu Mila,
juga Umi Aminah. Umi Aminah kemudian memesangkan cincin pada jari manis Mila. Di
susul ucapan “Alhamdulillah” dari mereka.
Satu minggu kemudian akad nikah dan pesta pernikahanpun berlangsung. Acara
berlangsung dengan hikmat. Sanak saudara, kerabat dekat, majelis pengajian Umi
Aminah, menghadiri acara tersebut dan mengucapkan selamat kepada kedua
mempelai. Mempelai wanita tampak sangat cantik dengan terbalut gaun pengantin
warna putih dan jilbab yang menutup aurat kepalanya. Serasi dengan mempelai
pria yang juga berpakaian warna senada. Dalam hati Mila bergumam.
“Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mempertemukan hamba dengan
jodoh hamba. Dengan laki-laki soleh, baik, dan tampan yang saat ini sedang
duduk di samping hamba. Atas ridha-Mu, hamba jatuh cinta pada-Nya. Setelah
penantian yang panjang, kini Kau anugerahi hamba perasaan yang indah ini.
Semoga keindahan dari rasa ini akan senantiasa membawa berkah, bukan
sebaliknya. Puji syukur atas segala nikmat dan karunia-Mu ya Allah.”
Pada malam harinya, mereka ditempatkan pada ruang kamar yang sama. Kamar dimana
mereka akan mengalami kisah dan merajut cinta di dalamnya.
“Sebaiknya kamu tidur dulu saja Mila! Aku belum mengantuk.”“Bukankah Mas juga
capek?”“Iya, tapi aku belum ingin tidur.”“Ya sudah kalau begitu Mas berbaring
saja dulu!”“Tidak Mil, kamu tidur saja dulu ya! Aku mau menghirup udara di
luar”, Ramlan pun beranjak dari kamar.Sementara itu Mila tampak heran dengan
sikap suaminya. Karena begitu lelah, Milapun akhirnya tertidur pulas. Keheranan
Mila semakin besar saat mendapati suaminya hampir tiap malam tidak ingin tidur satu
ranjang dengannya, melainkan di sofa.
Satu bulan kemudian Ramlan membeli rumah yang letaknya tidak jauh dari kediaman
Umi Aminah.“Umi, kami pamit ya”, ucap Mila kepada Umi.“Iya Ndok, kalian
hati-hati ya di sana. Maafkan Umi tidak bisamengantar. Insya Allah setelah
pangajian selesai Umi sempatkan mampir.”“Iya Umi, tidak apa-apa. Umi hati-hati
ya.”“Oh iya sebentar! Umi ada sesuatu untuk kalian.”Umi pun beranjak dan datang
kembali dengan membawa bingkisan.“Terima kasih Umi!” ucap Mila.“Terima kasih
Umi. Kalau begitu kami pamit ya”, ucap Ramlan.“Asalamualaikum Umi”, Mila
berucap salam sambil mencium tangan Umi.“Waalaikumsalam”, jawab
Umi.“Asalamualaikum Umi”, Ramlan mencium tangan ibunya.“Waalaikumsalam”, jawab
Umi lagi.
Sesampainya di rumah baru mereka.“Alhamdulillah, akhirnya kita sudah tidak
bergantung pada Umi lagi yaMas? Semoga di rumah ini, apa yang kita sama-sama
kerjakan selalu dirahmati Allah SWT”, ucap Mila.“Aamiin. Oh iya Mila, ini kamar
kamu.”“Loh?” Mila terkejut dan heran, “Kok kamar Mila Mas? Bukannya kamar kita
berdua?” tukas Mila.“Tidak. Kamarku yang itu!” sambil menunjuk ke arah kamar
depan kamar Mila.“Ada apa sih Mas sebetulnyaa? Tolong jelaskan! Jangan seperti
ini!” lirih Mila.“Nanti akan ku jelaskan jika waktunya tepat ya. Lebih baik sekarang
kamu shalat asar dulu! Tadi belum shalat asar kan?” Ramlan kemudian beranjak
dari kamar Mila sambil mengucapkan, “Asalamualaikum.”“Waalaikumsalam”, jawab
Mila lirih.
Hingga pada suatu malam, Mila mendapati suaminya sedang ingin melaksanakan
shalat malam. Mila pun bergegas mengambil wudhu. Ramlan yang shalat di kamarnya
tak manyadari, bahwa pintu kamarnya tidak ia tutup kembali sekembalinya ia dari
wudhu. Sedangkan Mila yang baru saja selesai wudhu, sengaja membuka sedikit
pintu kamarnya agar ia bisa menjadi makmum suaminya. Sementara Ramlan tak
menyadari hal itu. Di sela-sela doa, terdengar isakkan tangis Ramlan yang
begitu meluap. Sehingga membuat Mila ikut larut dalam isakkan itu. Ramlan
berdoa di dalam hati.
“Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa hamba. Hamba bagai tak
tahu diri. Hamba bak mengotori jiwa dan raga hamba sendiri dengan kebodohan
hamba. Ya Allah tunjukkanlah jalan-Mu. Keputusan hamba untuk menikah bukanlah
langkah hamba untuk berbuat dosa. Tapi karena hamba ingin berbakti kepada kedua
orang tua hamba. Rasanya ilmu yang hamba miliki terbuang sia-sia, karena untuk
menjadi imam keluarga saja hamba tidak bisa. Hamba tahu bagaimana tersiksanya
istri hamba. Apa yang harus hamba lakukan Ya Allah? Hamba belum juga
memberikannya nafkah bathin yang mungkin telah lama dia tunggu. Hamba tidak
ingin terlalu larut menykiti hatinya yang lembut itu. Hamba telah keras
mencintainya, hamba telah lama menunggu anugerah rasa itu dari-Mu untuk aku
memberikannya kepada Mila, istri hamba. Tuntun hamba Ya Allah. Agar ibadahku
selama ini tidak sia-sia. Agar hamba tidak tersesat dalam kelabu hati hamba. Ya
Allah ajari hamba mencintai Mila. Mila yang baik, Mila yang soleha, yang pandai
harusnya mendapatkan pasangan yang benar-benar bisa membahagiakannya. Amnpuni
hamba Ya Allah, atas dusta hamba kepada orang-orang yang bahagia atas
pernikahanku dengan Mila. Atas ingkarku kepada-Mu Ya Rabb, ampuni hamba.
Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaa
ban naar. Aamin Ya Robbal ‘alamin.”
Mila berdoa agar apa yang suaminya panjatkan,
dikabulkan Allah SWT. Beningnya air mata turut membasahi pipinya. Yang ia
harapkan ialah agar air mata yang suaminya teteskan bukanlah air mata duka yang
disebabkan olehnya. Mila sangat mencintai Ramlan, sehingga ia selalu berusaha
untuk tidak menyakiti Ramlan. Hatinya memang berkecamuk, tapi cinta suci yang
ia miliki masih benar-benar tersimpan untuk sang suami. Lambat pagi seraya
menyentakkan bathinnya. Bathin yang selama ini telah mengeram, semakin tenggelam.
“Sarapan dlu Mas!” ucapnya kepada Ramlan, lembut.“Iya, terima kasih”, jawab
Ramlan.“Mas Ramlan sehat bukan?” tanyanya.“Alhamdulillah sehat.”“Lalu kenapa
wajahmu pucat Mas?”“Tak usah merisaukanku Mila! Mungkin hanya karena kurang
tidur saja.”Mila tersenyum.“Ada yang ingin ku katakan Mila”, seru Ramlan.“Apa
itu Mas?”“Minggu depan aku bertugas ke luar kota”“Boleh Mila tahu, berapa
lama?”“Delapan bulan Mil.”
Seketika itu juga Mila menangis. Setelah bathin yang menjerit sakit karena
belum tersentuh kasih suaminya, kini Mila harus menerima kenyataan suaminya
akan pergi dari pandangnya delapan bulan. Selama ini bathin yang terluka telah
terobati dengan keindahan mata yang mampu menatap suami tercinta, keindahan itu
tersapu kelu karena sang suami harus pergi untuk beberapa waktu.
“Kenapa kamu menangis Mil?”“Cukup berat beban bathin yang selama ini Mila
pendam Mas! Tapi bebanitu hilang seketika saat Mila mendapatimu setiap pagi dan
sepulangmu dari kerja. Untuk seorang istri tentunya berat melepaskan suaminya pergi,
walau untuk beberapa saat saja. Mila bahagia bisa bersuamikan kamu, Mas.
Sekalipun Mas belum pernah sedikitpun menyentuh Mila. Sekalipun Mila sering
bertanya-tanya akan perasaan Mas terhadap Mila. Tapi Mila selalu yakin bahwa
Mas mencintai Mila. Entah apa yang sebenarnya kau rencanakan Mas. Mila hanya
ingin selalu berada di sisimu. Mila tidak sanggup menahan sakitnya bathin yang
belum kau nafkahi dan kini Mila harus menanggungnya sendiri. Mila sudah terlalu
sering mendustai Ibu, Ayah, dan Umi. Memang Mila bahagia, tapi bahagia yang
seperti ini tak sedikitpun Mila harapkan. Jika pernikahan ini hanya melukain
hatimu Mas, kenapa tak kau sudahi saja? Mila hanya ingin kita sama-sama
bahagia”, ucap Mila dalam isak.“Maafkan aku Mil. Aku tak bermaksud melukaimu.
Hanya saja cinta yang selama ini ku tunggu belum juga hadir untukmu. Aku memang
telah melukaimu juga melukai kedua orang tua kita. Aku sudah berusaha keras
untuk bisa mencintaimu. Tapi… entahlah Mil, aku bingung. Aku tidak ingin
mengecewakan Umi dan mendiang Abi.”“Mas, kamu itu suamiku. Seorang suami bukan
hanya berkewajiban untuk mencintai istri. Tapi juga berkewajiban untuk
menafkahi istrinya lahir dan bathin. Beban apa yang memberatkanmu? Katakanlah!
Aku berhak tahu, kita bisa selesaikan bersama. Tidak seperti ini. Yang akhirnya
semakin memberatkan salah satu di antara kita. Ayo kita bawa rumah tangga ini
ke jalan-Nya.”“Aku tidak bisa memberiknmu nafkah bathin, karena aku takut
melukaimu Mila.”“Melukaiku? Maksud Mas apa?”“Aku takut, aku melakukannya hanya
karena nafsu semata, bukan atas dasar cinta.”“Kalau begitu lakukanlah dengan
niat karena Allah. Mas, semua sudah menanyakan kehamilanku.”“Maafkan aku Mila.”
Mila beranjak dengan kesedihan yang amat dalam. Di benaknya hanya kosong. Ia
benar-benar tidak ingin suaminya pergi. Di setiap doanya, ia selalu meminta
agar rumah tangganya bahagia. Agar cinta yang selama ini bertepuk sebelah
tangan segera terlangkapi. Senjanya seakan hilang entah kemana. Wanita solaha
itu kini benar-benar tiada daya. Pasrah dan iba selalu ia pasrahkan pada-Nya.
Tiga hari kemudian, malam yang cerah dengan keindahan bulan dan bintang. Bak
terpercik tetes embun di gunung Sahara, hati Mila dipenuhi kesejukan. Bagaimana
tidak, peluh penantian telah tertambatkan. Malam itu menjadi saksi peraduan
cintanya dengan sang suami. Subhanallah.
Pernikahan adalah komitmen seumur hidup untuk
mencintai seseorang meskipun mereka tidak layak dicintai, memaafkan seseorang
meskipun mereka mungkin tidak layak dimaafkan, untuk menghormati seseorang bahkan
ketika mereka berada dalam kondisi yang paling buruk dan untuk tidak pernah menyerah
terhadap satu sama lain.
Tepat pada dua hari sesudahnya, Mila harus merelakan kepergian suaminya
bertugas ke luar kota. “Hati-hati ya Mas. Kalau ada waktu luang, Mila mohon
sempatkan untuk memberi kabar. Doakan Mila agar Mila di sini kuat dan tabah
tanpamu Mas”, ucapnya lantas tersenyum.“Insya Allah Mila. Jangan lupa
mendoakanku ya. Semoga sepulangku nanti, aku bisa memperbaiki keadaan kita.
Selain urusan pekerjaan, akan ku jadikan perjalananku nanti sebagai waktu untuk
aku merenung. Aku pamit ya, asalamualaikum.”“Waalaikumsalam”, jawab Mila sambil
mencium tangan Ramlan.
Pagi itu ia tetap mempertahankan senyum simpul yang terpahat disudut bibirnya.
Ia tak ingin menampakkan kesedihan pada sang suami. Hatinya memang diburui
kehancuran, tapi ia pun tak ingin menjadi egois. Ia tau kepergian suaminya di
jalan yang baik. Untaian doa dan kasih sayang senantiasa ia curahkan untuk sang
suami. Cintanya mengikis sakit yang diembannya. Cinta yang hanya sebelah tangan
bertepuk, setidaknya telah sedikit merajuk. Malam indah yang telah lalu,
menjadi saksi bisu kebersamaan mereka di persinggahan cinta.
“Ya Allah, dalam derai air mata ini hamba mohon perbaiki iman dan akhlak hamba.
Teguhkan setiap langkah hamba untuk mencari ridha-Mu. Dalam setiap rintihan
taubatku, hamba mohon ampuni segala dosa-dosa hamba. Lindungilah suami hamba
dalam setiap langkah dan tuturnya Ya Rabb.”
Suatu pagi ia merasakan mual yang teramat kuat. Sehingga mengharuskannya
memeriksakan diri ke Dokter.
“Selamat ya Bu Mila. Anda tengah hamil. Usia kehamilan Anda hampir sudah
mencapai satu bulan”, ucap Dokter kepada Mila.“Alhamdulillah. Jadi saya tidak
sakit Dok?”“Tidak, yang penting Bu Mila banyak-banyak istirahat ya! Serta
menjaga pola makan yang baik, agar Bu Mila tetap sehat dan janin yang di
kandung pun ikut sehat.”“Baik Dok. Terimakasih! Kalau begitu saya permisi.
Asalamualaikum.”“Waalaikumsalam.”
Mila beranjak dengan sumringah. Mimpinya untuk menjadi seorang ibu akan
terwujud. Ucap syukur tak henti-hentinya ia panjatkan. Setelah kehamilannya
mencapai empat bulan, ia memberitahukan kabar bahagia itu kepada orang tua dan
mertuanya. Hanya saja sangat disayangkan ia belum bisa mengabari sang suami.
Sampai saat ini belum juga ada kabar dari Ramlan. Ia menunggu Ramlanlah yang
terlebih dahulu menghubunginya. Ia tak ingin mengganggu suaminya, sehingga ia
pun berkeras untuk menunggu telepon dari sang suami.Rindu yang berkalut semakin
membuatnya berada dalam sudut. Sudut jiwa yang seolah tanpa nyawa. Dalam simpuh
ia kembali mengadu.
“Ya Allah Yang Maha Pengasih, dalam lemah aku menengadah. Berharap Kau Sang
Maha Pemberi Hidup memberikan kami umur yang panjang. Agar kami memiliki
kesempatan untuk memperbaiki hilaf kami. Ampuni dosa-dosa kami Ya Rabb.
Sampaikan rindu ini menyentuh hatinya, siratkan kasih hamba membelai kalbunya.
Ya Allah, jadikanlah aku sebagai wanita terbaik di hatinya setelah ibunya, dan
jadikanlah aku ibu yang terbaik untuk anak ku di hatinya. Pada-Mu aku mengadu,
lindungilah kami di bawah naungan-Mu. Aamiin”
Setelah shalat, Mila beranjak ke tempat tidur. Namun raga yang ia baringkan,
tak kunjung terlelap. Hatinya terus digedor-gedor pucuk rindu. Tergelantung asa
dalam relung. Lantas ia mengambil secarik kertas. Jemarinya yang lentik begitu
lihai menari dengan pena yang menggores kertas putih.
Untuk Mas Ramlan yang Mila cintai.Asalamualaikum.Wr.Wb,dengan rindu dan
ketulusan kasih Mila kepada Mas Ramlan, Mila ajak pena ini mengisi kekosongan
hati Mila. Untuk sekedar mencurahkan segala apa yang Mila pendam dalam. Mas
Ramlan di sana apa kabar? Mila sungguh merindukanmu Mas. Ada banyak hal yang
bisa Mila sesali, tapi lebih banyak hal yang bisa Mila syukuri di sini. Ada
banyak hal yang tak sesuai dengan keinginan Mila, mungkin Allah ingin Mila
lebih banyak menengadahkan tangan. Mila belum sepat mengabarimu kalau Mila
sekarang sedang mengandung. Maafkan Mila. Bukannya Mila tidak ingin
memberitahumu, tapi Mila tidak ingin mengganggu konsentrasi kerjamu Mas. Hati
Mila sungguh berbunga-bunga ketika Mila tahu bahwa Mila sedang mengandung. Mila
tidak merasa begitu kesepian lagi. Setidaknya ada anak kita yang menemani Mila.
Walaupun dia belum terlahir di dunia, tapi Mila sudah merasakan kehadirannya.
Mila sungguh bahagia Mas. Dua minggu lagi tepat 7 bulan usia kandungan Mila.
Tidak terasa ya Mas? Sudah 7 bulan juga kamu meningalkanku. Mila tidak sabar
menunggu satu bulan lagi, untuk bisa melihatmu lagi Mas. Rencananya, Ayah, Ibu,
dan Umi akan mengadakan syukuran tujuh bulan kehamilan Mila. Alangkah lebih
bahagianya Mila jika Mas juga ada di sisi Mila. Tapi sekali lagi Allah
menginginkan Mila lebih banyak bersabar. Doakan saja ya Mas, agar acara
berjalan lancar doakan juga semoga anak kita kelak menjadi anak yang soleh, dan
berbakti kepada kedua orang tuanya. Mila sungguh mencintaimu Mas.
Bagai mimpi yang panjang, ingin sekali Mila
mendengarmu mengucapkan kata-kata itu padaku. Sekalipun hanya sekali saja
seumur hidup Mila Mas mengucapkannya, sudah cukup membuat hati Mila teduh
seteduh-teduhnya. Aku benar-benar mencintaimu Mas. Begitu indah anugerah ini
yang Dia beri untuk Mila. Sehingga Mila akan menjaganya hingga akhir hayat
Mila. Bahkan ingin sekali Mila abadikan rasa ini hingga ke Surga. Insya Allah.
Mila rasa sudah cukup Mila mengukir lembar kertas ini. Ingin sekali rasanya
saat ini juga sejenak berlabuh di bahumu.
Semoga rindu ini tersampaikan padamu. Mila pamit
Mas.Wassalamualaikum.Wr.Wb.Istri yang mencintaimu, yang lemah tiada daya,Mila
Milapun melipat secarik kertas itu kemudian menyimpannya di laci samping tempat
tidurnya.
Tepat delapan bulan sudah Ramlan di luar kota. “Alhamdulillah. Akhirnya hari
ini aku aku bisa kembali menemui istri dan keluargaku. Rasanya bagai terkurung
dalam penjara. Mila, maafkan aku tidak sempat menghubungimu. Tapi hari ini aku
janji akan meneleponmu, aku janji Mila”, gumam Ramlan.
Dengan semangat Ramlan mengambil ponsel yang selama ini ditahan perusahaan,
karena selama bekerja semua karyawan benar-benar tidak boleh memegang alat
komunikasi apapun. Akan tetapi berkali-kali Ramlan menelepon istrinya, tidak
satu kalipun ada jawaban.
“Mila, tolong angkat teleponku!” ucapnya tampak cemas, “Ah mungkin Mila tidak
di rumah dan lupa membawa ponselnya. Lebih baik sekarang aku kemas-kemas. Aku
sudah tidak sabar berjumpa dengannya”, gumam Ramlan lagi. Ramlan pun
menyempatkan diri membeli camilan kesukaan Mila sebagai buah tangan.
Sesampainya di rumah,
“Asalamualaikum!”
Berkali-kali Ramlan mengucap salam namun tidak ada satu kalipun jawaban salam
dari Mila. Dia melihat ke seluruh ruangan tak juga ia dapati keberadaan sang
istri. Lalu ia beranjak ke kamar Mila. Melihat-lihat keadaan di dalamnya. Ya,
sepi! Sepi dan senyap. Sampai akhirnya ia menemukan secarik kertas yang
dipenuhi tulisan Mila dalam laci. Ramlan tiba-tiba tenggelam dalam isak saat
membaca tulisan itu. Berkali-kali ia mengucap istighfar dan maaf kepada Mila.
“Astaghfirullahaladzim. Maafkan aku Mila, maafkan aku! Aku berjanji mulai detik
ini aku tidak akan lagi menyia-nyiakan cintamu. Maafkan aku Mila! Kamu di
mana?” Ramlan larut dalam sedu, kemudian bergegas menghubungi orang tua Mila.
Dari orang tua Mila, ia mendengar kabar bahwa istrinya sedang terbaring di
rumah sakit dan akan melahirkan. Ramlan segera beranjak ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit.
“Asalamualaikum”, salam Ramlam.“Waalaikumsalam”,
jawab Ayah, Ibu, dan Umi bersamaan.“Bagaimana keadaan Mila?” tanyanya.Tiba-tiba
keluarlah Dokter dari ruangan.“Selamat! Bayinya laki-laki”, ucap Dokter.“Alhamdulillah”,
kata mereka serentak.“Sebaiknya jika ingin mengadzankan, sekarang saja! Bayinya
sedang dibersihkan, lalu akan segera dibawa ke inkubator, karena bayi lahir
prematur.”“Lalu bagaimana keadaan istri saya Dok?”“Keadaan Bu Mila sangat
lemah. Beliau mengalami pendarahan berat.”
Di wajah mereka terpancar suka dan kedukaan. Ramlan segera mengadzani sang bayi
dan menghampiri Mila.
“Mila, kamu dengar aku? Aku pulang Mila. Sekarang aku ada di sisimu”, ucap
Ramlan lirih.
Sementara Mila hanya bisa sayup membuka mata. Pandangannya lemah ke arah
Ramlan. Sambil sesekali mencoba menegarkan diri dengan tersenyum.
“Mila, jangan kau khawatir dan bersedih. Sesungguhnya Allah jadi yang ketiga di
antara kita berdua”, Ramlan menggenggam erat tangan Mila,“Janganlah berhenti
bersabar Mila, sungguh Allah bersama yang bersabar. Allah tiada tidur dan
senantiasa mendengar segala pinta. Ia mengabulkan doa-doamu selalu, maka
banyaklah berdoa Mila! Aku di sampingmu. Aku sungguh mencintaimu”, Ramlan
semakin tak bisa membendung air mata,“Mila, aku mencintaimu.”
Namun ternyata kata-kata itu benar-benar sekali saja Mila dengar. Allah begitu
sayang kepadanya, sehingga Dia menginginkan Mila cepat-cepat kembali ke
sisi-Nya. “Inalillaahiwainailaihiraji’un. Mila, aku mencintaimu”, ucap ramlan
semakin mengisak.
Kedatangan tiada lepas dengan kepergian. Kutipan cinta Mila mengantarkannya
hingga ke akhir senja. Suasana seketika menjadi kelam. Kesedihan begitu
terpancar di wajah mereka. Mila yang lembut hati, yang solehah, yang cantik
jelita, yang berwibawa, sabar dan ramah telah pergi dengan damai. Ia membawa
dan meninggalkan cinta. Namun kepergiannya menggoreskan duka yang mendalam di
hati yang mencintainya. Sepenggal kisah dari wanita sejati yang mengaja dan
menanti cinta hingga akhir hayatnya. Subhanallah. Tidak ada yang sempurna. Jika
seseorang mengerti dan mencintai kita apa adanya, mengerti dan cintailah ia
seperti sebaliknya karena kita dan dia pantas bersama. Jangan mengumpat dari
seseorang yang sedang menunjukkan arti cinta, karena kita akan menyesal dan
merasa kehilangan ketika ia pergi meninggalkan kita