26 Jul 2014

Mamaku Tersayang

Air peluh itu menetes dari dahi seorang wanita berusia sekitar empatpuluh enam tahun. Dengan penuh rasa semangat, dia melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Membersihkan rumah, memasak—semua itu dilakukan hanya karena untuk menyambut kedatangan sang suami terkasih.

Ya, wanita itu adalah mamaku. Mama yang telah susah payah melahirkanku, yang telah memelihara dan merawatku hingga sebesar ini, mendidikku dengan baik. Mama yang tak pernah mengeluh dan selalu bijaksana dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupannya.

Aku memperhatikan mama yang sedang memasak di dapur. Terkadang, hatiku merasa terharu melihat pengorbanan mama kepada keluarga selama ini—terutama kepada papa—suaminya. Namun sayangnya, papa sama sekali tidak pernah menghargai pengorbanan mama tersebut.

Kulangkahkan kaki secara perlahan mendekati mama yang saat itu tengah sibuk memasak—lalu aku memeluknya dari belakang. Mama terperanjat kaget akan kehadiranku yang tiba-tiba itu.

“Ira, bikin kaget saja,” celetuk mama kaget. “Baru datang, Nak?,” tanyanya kemudian.

“Udah, Ma, barusan,” jawabku seraya mencium tangan mama sebagai tanda hormatku—dan mama mencium kedua pipiku dengan hangat.

“Bagaimana sekolah hari ini?”

“Seperti biasa, Ma. Matematika membuatku pusing…”

Mama tertawa. “Tapi kamu harus tetap rajin belajar, biar ujian kamu lancar nanti.” Suaranya yang khas sebagai seorang ibu membawakan ketenangan dalam hatiku.

Aku tersenyum. “Masak apa, Ma?”

“Oh, ini, mama masak sayur lodeh kesukaan papa kamu. Dia pulang malam ini,” jawab mama sambil melanjutkan aktivitas memasaknya.

Aku mengerenyitkan alis. “Memangnya papa pulang hari ini, Ma?”

“Bilangnya sih begitu, maka dari itu mama kerja keras bersihin rumah sama masak, deh.”

Aku terdiam. Memangnya benar papa akan pulang hari ini? Aku sangat ragu saat itu. Aku rasa papa nggak mungkin pulang, karena dia memang jarang di rumah. Dari hari Senin kemarin hingga hari Jumat saat ini—papa bilang bahwa ada banyak urusan di kantor—namun aku kurang yakin akan hal itu.

“Tapi, Ma, apa Mama…”

“Kita positive thinking saja, Nak,” potong mama sebelum aku selesai melanjutkan perkataanku. “Mama tahu papa seperti apa, mama sangat tahu itu. Tapi, apa salah kalau kita mempersiapkan diri untuk kepulangan papa?”

“Tapi, Ma…” Aku berhenti saat melihat kedua mata bulat mama yang penuh dengan sinar keyakinan dan harapan seketika itu. Aku tidak ingin membuat mama terluka, sekalipun itu harapannya yang terluka. Aku tidak ingin melihat airmata mama menetes lagi karena hal itu membuat hatiku merasa sakit sekali.

“Nak…?”

“Eh, iya, Ma…”

“Tapi apa?”

Aku tersenyum. “Nggak, Ma, nggak apa-apa,” telakku.

“Oh iya, Ma, sini Ira bantuin masaknya, ya?” Aku melihat beberapa irisan tempe mentah yang belum digoreng. “Ini Ira yang goreng, Ma, ya…”

“Kamu nggak istirahat dulu, Nak? Kan kamu capek baru pulang sekolah, mandi dulu sana.”

“Nggak apa-apa, Ma, lebih capek Mama dari pagi tadi kerja sendiri. Adik nggak mau bantuin juga.” Aku menuangkan minyak goreng secukupnya di atas penggorengan.

Mama tersenyum menatapku. Dengan perlahan, dia mendekatiku—kemudian mengecup keningku dengan penuh kasih sayang.

“Mama sayang sama kamu, Nak…,” ucapnya dengan lembut. “Mama sayang kalian semua, Anak-anakku.”

# # # #

Jika ada yang bertanya kepadaku—siapakah orang terhebat dalam hidupku—pastinya satu jawabanku—“Mama”.

Ya, mama adalah orang yang sangat hebat yang pernah ada dalam hidupku. Mama seorang wanita yang kuat dan sabar. Kesabarannya sangat melebihi batas normal kesabaran wanita pada umumnya—terutama untuk seorang istri—kesabaran mamaku luar biasa besarnya. Entah terbuat dari apa hati mamaku itu sehingga beliau bisa menjadi kuat dalam menghadapi masalah apapun. Wanita lain belum tentu menjadi sekuat dan sesabar mama jika mereka melihat suami mereka sedang “terbelenggu cinta” oleh pihak ketiga—bahkan sampai tepat di depan mata—aku rasa mereka tidak akan sekuat mama dalam menahan emosi.

Sebenarnya jika kalian menelusuri lebih ke dalam hati mamaku, kalian akan tahu dan mengerti bahwa mamaku juga hanyalah seorang wanita biasa, yang mempunyai rasa sakit dan kecewa jika dilukai hatinya. Namun, mama tetap bertahan menghadapi semua itu. Beliau tidak ingin nampak lemah di depan papa, meskipun terkadang sering juga mama menitikkan airmata tiap kali menumpahkan uneg-unegnya tentang papa kepadaku.

Dan hatiku kerap kali merasa sakit saat melihat airmata mama terjatuh.

# # # #

Nada tergopoh-gopoh menghampiriku yang sedang membaca buku pelajaran di ruang tamu. Adik perempuanku yang satu ini masih duduk di bangku kelas satu SMP ketika aku masih duduk di bangku akhir SMA.

“Ada apa, Dik?”

“Mbak, mama nangis tuh, di kamarnya!”

Aku terperanjat. Buku yang aku pegang tadinya, jatuh di atas lantai.

“Hah?! Kenapa sama mama?,” tanyaku sedikit cemas.

Nada mengangkat bahu. “Nggak tahu, Mbak. Tadi kayaknya abis nerima telepon, mama langsung nangis gitu.”

Aku pun langsung berlari menuju kamar mama. Ternyata benar, mama sedang tersimpuh di samping tempat tidurnya sambil terisak keras. Jarang sekali aku melihat isakan tangis mama yang sebegitu keras dan histerisnya.

Aku berjalan menghampiri mama. “Ada apa, Ma? Mama kenapa?,” tanyaku semakin cemas. Isakan mama semakin menjadi. Kemudian beliau memelukku dengan erat.

“Papa kamu, Nak…,” jawab mama sedikit kurang lancar. Nafasnya masih tersengal-sengal akibat dari isakan tangisnya.

“Papa kenapa, Ma?,” tanyaku penasaran. Perasaanku mulai tidak enak.

“Dia…” Mama menundukkan kepala. Airmata itu terus menetes membasahi lantai kamar.

“Jahat sekali papamu itu… Mama hubungi nggak bisa… Telepon nggak diangkat, pesan nggak dibalas…,” cerita mama sedikit terbata-bata. Aku mengelus-elus bahu mama, berusaha untuk menenangkannya.

“Katanya hari ini dia pulang, mana? Dasar pembohong!!!,” jerit mama semakin histeris. Aku sangat takut sekali melihat keadaan mama seperti itu, tapi aku masih berusaha menenangkannya dalam pelukanku.

“Sabar, Ma, tenang… Apa perlu Ira yang telepon papa?”

Mama masih terisak. Aku mengerti. Kemudian aku menyuruh Nada untuk mengambil handphoneku yang tergeletak di atas meja ruang tamu.

“Ini, Mbak.”

“Thanks.”

Aku segera memasuki daftar buku telepon dalam handphoneku itu untuk mencari nomor telepon papa. Beberapa detik kemudian, aku berusaha menghubungi papa.

“Dik, tolong jagain mama,” pintaku kepada Nada. Adikku itu hanya mengangguk. Aku sedikit menjauh dari kamar mama untuk menelepon papa.

Sekali aku telepon, tidak ada jawaban Aku telepon lagi, masih tetap tidak ada jawaban. Aku telepon terus, hasilnya pun sama saja. Aku mulai merasa jengkel dalam hati. Akhirnya aku mengirim pesan kepada papa.

“Papa ada dmn? Katanya plg? Kok gak ada balasan telp? Mama nungguin Papa tuh, tp Papa kyk gak peduli!”

Pesan terkirim. Aku segera kembali ke kamar untuk melihat keadaan mama—dan, syukurlah, mama sudah kelihatan agak tenang—meskipun isakan tangisnya masih sedikit terdengar.

“Mama…,” kataku sambil mendekati mama pelan-pelan. “Maafin Ira, Ma. Ira berusaha menghubungi papa tapi juga nggak ada jawaban.”

Kedua mata mama yang basah dan sembab, menatap tajam ke arah luar pintu kamarnya.

“Biarkan saja, Nak, papa kamu berkelakuan seperti itu kepada mama, kepada kita. Mama tahu, papamu sekarang nggak lagi di kantor. Mama sangat yakin, pasti dia sekarang ada di rumah wanita itu,” ujar mama dengan suara tertahan karena emosi.

Aku hanya diam, membiarkan mama mengeluarkan uneg-unegnya terlebih dahulu, dan aku memperhatikannya dengan seksama

“Papamu memang benar-benar keterlaluan! Dia nggak pernah melihat pengorbanan mama sampai sejauh ini, dia nggak pernah tahu dan nggak mau tahu bagaimana keadaan keluarganya di rumah selama ini. Papamu itu, dia hanya mementingkan diri sendiri saja!” Mata mama menyorot emosi saat menumpahkan uneg-unegnya itu.

“Iya, Ma, Ira tahu…”

“Dia itu! Mama jengkel sama dia! Mana pernah papamu menyerahkan keuangan sepenuhnya kepada mama? Sama sekali nggak! Ngasih uang buat kebutuhan keluarga seperti ngasih uang saku buat anak sekolah! Papamu nggak pernah tahu kesulitan kita di rumah, dia nggak pernah tahu! Yang dia tahu hanyalah dunia luar bersama wanita-wanitanya itu!!!” Airmata mama meledak kembali, mengalir membanjiri wajahnya.

Aku merasa sedih sekali melihat keadaan keluargaku yang seperti ini—terutama melihat keadaan mama jika sedang tersakiti. Ingin rasanya aku membawa mama pergi dari rumah ini dan tinggal bersamaku. Ingin rasanya aku membahagiakan mama, membuat mama melupakan segala tentang kesedihannya selama beliau hidup bersama papa, tapi apalah daya, aku masih belum mampu untuk melakukannya. Aku masih duduk di bangku kelas tiga SMA dan tak dipungkiri juga bahwa aku masih membutuhkan bantuan orangtua—walaupun sebenarnya ingin sekali aku hidup mandiri.

“Mama, maafin Ira, ya… Ira masih belum bisa berbuat apa-apa untuk membantu ekonomi keluarga. Ira merasa sangat sedih melihat keadaan kelurga kita seperti ini. Maafin Ira, Ma…”

Tanpa terasa airmataku menetes. Mama memelukku dengan hangat, kemudian membelai rembut ikal panjangku dengan penuh kasih sayang.

“Jangan begitu, Nak. Justru mama yang minta maaf kepada kalian karena selama ini sebagai orangtua, mama belum bisa membahagiakan kalian, Anak-anakku. Mama sangat sayang kalian…”

Aku semakin menangis mendengar ucapan mama tersebut. Bukan Mama yang harus minta maaf, tapi aku, Ma. Aku sebagai seorang anak belum bisa membalas kasih sayang dan pengorbanan Mama selama ini.

Mama melihat adikku duduk di sampingnya. Tangannya yang lembut itu juga memeluk adikku dengan hangat. Adikku yang sedari tadi hanya diam memperhatikan keadaan kami—kini menjatuhkan airmata juga.

“Maafin Nada juga ya, Ma… Nada selama ini bikin Mama jengkel, bikin Mama marah. Nada hanya menyusahkan Mama saja. Maafin Nada, Ma…,” ucapnya semakin menangis—sama sepertiku.

Senyuman mama mengembang secara perlahan disela-sela airmatanya “Sebenarnya mama udah nggak kuat menghadapi kelakuan papamu yang seperti itu…” Mama melepaskan pelukannya. Tatapannya yang lembut itu memasuki mata kami berdua.

“Jika mama mau, mama bisa saja minta cerai kepada papamu itu.”

Aku tertegun mendengar apa yang mama katakan barusan. Begitu juga dengan Nada—adikku.

“Tapi mama nggak akan pernah melakukannya karena kalian.”

“Karena kita, Ma?,” tanyaku heran.

“Iya. Mama akan tetap bertahan hidup dengan papa hanya demi kalian. Kamu dan Nada. Mama tahu, kalian masih butuh banyak biaya. Meskipun seperti itu, kalian masih membutuhkan papa untuk hidup kalian, dan mama harap kalian jangan sampai berani kepada papa, karena kalau nggak ada papa, nggak akan ada kalian, anak-anak mama yang sangat mama cintai.”

Mataku kembali berkaca-kaca. “Mama…”

“Memang mama belum mendapatkan kebahagiaan sama sekali sejak awal mama menikah dengan papa, hidup mama selalu sengsara. Namun, ada satu hal yang membuat mama bahagia menikah dengan papa, yaitu kalian, Anak-anakku. Kalianlah anugrah terindah yang diberikan papa kepada mama. Bukan emas, ataupun harta benda lainnya, hanya kalian. Dan mama sangat bahagia mepunyai anak-anak seperti kalian.

Airmataku semakin mengalir deras mendengar ucapan mama tersebut. Demikian juga dengan Nada. Perasaan bahagia, haru, bahkan sedih, bercampur-aduk menjadi satu dalam dada kami—hingga kami tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Mama harap kalian, terutama Ira, jangan sampai mengecewakan mama, ya…”

“Iya, Ma, terima kasih…”

Mama kembali mendekap kami dengan penuh kasih sayang—sementara kami masih tetap menangis dalam dekapannya.

# # # #

Aku telah berjanji dalam hati, aku akan membahagiakan mama semampuku. Mungkin belum untuk saat ini, tapi aku yakin, suatu saat nanti aku pasti akan bisa membahagiakannya.

# # # #

Tiga bulan sebelum aku menghadapi ujian nasional—aku semakin sibuk dengan sekolahku, dengan pelajaran tambahanku setiap sore setelah pulang sekolah, dan tentunya semakin sibuk dengan buku-buku pelajaranku. Sebenarnya aku merasa jenuh dan lelah, tapi aku tidak menyerah. Aku harus terus belajar agar aku bisa lulus dengan nilai baik dan tidak mengecewakan orangtua, terutama mama.

Namun, akhir-akhir ini suasana di rumah sedang tidak baik. Mama dan papa selalu berseteru—mempermasalahkan kelanjutanku setelah tamat sekolah ini. Papa ingin aku masuk ke dunia pramugari karena saat itu ada koneksi dari anak wanita simpanannya yang juga bekerja sebagai pramugari di salah satu maskapai penerbangan swasta. Memang, pramugari merupakan cita-citaku sejak masih SMP, tapi apakah dengan cara seperti ini? Dengan cara menerima bantuan belas kasihan dari wanita itu? Aku rasa, tidak.

Tanpa diduga, ternyata mama sependapat denganku juga. Mama tidak ingin aku menjadi pramugari bukan karena tidak suka, tapi karena mama tidak menyukai caranya. Sebenarnya mama lebih ingin aku kuliah jika memang ada dananya. Sementara papa tidak menyetujui hal itu.

Pusing kepalaku mendengarkan perdebatan tersebut. Saat itu aku memang sedang dilema—antara menerima tawaran dari papa atau tidak. Aku sendiri juga tidak ingin menyakiti hati mama, karena dengan aku menerima tawaran itu, berarti keluarga kami mempunyai hutang budi kepada wanita tersebut. Aku tidak ingin menambah beban hati mama yang telah tersakiti akan hal itu.

“Mama nggak ingin jauh dari kamu, Nak. Karena kalau sudah jadi pramugari, kamu nggak akan pulang selama kontrak ikatan kerja, apalagi kamu harus ke Jakarta. Maaf, Sayang, mama nggak bisa,” jawab mama ketika aku bertanya “Kenapa?”. Aku tahu, mama hanya menutupi alasan yang sebenarnya dariku—walaupun sebenarnya aku telah mengetahuinya.

“Iya, Mama, Ira ngerti…”

# # # #

Mama menatap wajahku dengan air muka serius. Sepertinya beliau ingin membicarakan sesuatu yang penting kepadaku. Aku hanya duduk dengan kepala tertunduk di hadapannya.

“Ada apa, Ma,” tanyaku memberanikan diri.

“Ada yang ingin mama bicarakan sama kamu dan ini penting, jadi tolong dengarkan mama dengan seksama.”

Serius sekali. Aku hanya bisa mengangguk pelan—takut jika ada hal yang buruk menimpa kepadaku.

“Kemarin mama habis ditelepon sama nenekmu yang ada di Batam.” Mama terlihat sangat serius—membuatku semakin takut.

“Nenek bilang, kalau rumah yang ada di Surabaya udah terjual dan hasilnya udah dibagi,” ucapnya.

Aku menghela nafas lega. Aku kira ada sesuatu hal buruk yang terjadi, tapi ternyata hanya memberitahukan hal tersebut.

“Alhamdulillah, Ma. Jadi mama bisa nabung dong buat umroh nanti?”

Mama terdiam. Raut muka yang tadinya serius, kini berubah menjadi sayu. Aku jadi bingung dan heran melihatnya.

“Ma, ada apa?,” tanyaku.

Mama kembali menatapku dengan lembut. Beliau tersenyum kepadaku.

“Mama pending dulu umrohnya, Nak,” jawabnya begitu tenang.

“Kenapa begitu, Ma?” Aku mulai cemas. “Bukannya itu impian mama selama ini? Meskipun masih belum mampu untuk naik haji, tapi mama selalu berangan untuk pergi umroh. Sekarang ada kesempatan itu, kenapa malah dipending?”

Mama masih tetap bersikap tenang setelah mendengar pertanyaan-pertanyaanku itu. “Mama tahu, Nak. Tapi, bagaimanapun juga, tetap anak yang paling utama,” jawabnya penuh wibawa. Aku semakin bingung. Apa maksudnya?

Kemudian mama menjelaskan semuanya kepadaku. Rumah nenek—ibunya mama—yang ada di Surabaya telah laku terjual, itu berarti uang warisan mama telah keluar. Mama telah membicarakan ini kepada nenek, bahwa uang warisan bagian mama ingin digunakan untuk biaya kuliahku nanti setelah aku tamat SMA. Mama membujuk nenek agar beliau setuju dengan permintaan mama, dan alhamdulillah—nenek menyetujuinya.

Aku sangat sedih melihat pengorbanan mama yang satu ini. Mama rela mengorbankan keinginannya hanya demi masa depanku. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Saat itu, yang aku rasakan hanya sedih dan terharu. Aku berusaha membendung arimataku agar tidak jatuh, namun akhirnya jatuh juga. Aku menangis di depan mama.

“Kenapa begitu, Ma?,” tanyaku dengan suara lemas—bahkan hampir tak bersuara. Aku benar-benar tidak bisa membendung airmataku.

“Semua demi kamu, Nak, demi masa depan kamu. Umroh mama bisa dipending sampai nanti ada rejeki lagi.”

“Tapi, Ma, Ira bisa nggak kuliah dulu. Ira bisa bekerja setamat SMA nanti, kuliah bisa nanti, Ma.” Aku membenamkan wajahku ke dalam kedua telapak tanganku dan menangis di dalamnya.

Mama tersenyum. Tangannya yang lembut itu membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahku. Saat itu, wajahku benar-benar banjir oleh airmata.

“Jangan menangis, Sayang. Mama lakukan ini semua untuk masa depanmu nanti. Mama tidak suka kamu hanya lulusan SMA saja karena mama nggak mau kamu nanti menjadi seperti mama yang tidak bekerja dan hanya bergantung sama laki-laki saja. Pastinya kamu juga tidak ingin hidup seperti ini, bukan?,” jelas mama dengan sangat bijaksana. Aku menggeleng pelan sambil mengusap airmataku sendiri.

“Makanya, kamu harus bekerja, tapi sebelum itu kamu harus kuliah terlebih dahulu agar kamu mendapatkan pekerjaan yang layak.”

Aduh, airmataku masih belum berhenti mengalir juga? Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Hanya menangis yang bisa kulakukan saat itu.

“Mama, Ira nggak tahu harus berbuat apa untuk Mama. Maafin ira, Ma, selama ini selalu merepotkan Mama, hingga sekarang pun Mama harus mengorbankan keinginan Mama untuk Ira. Sebenarnya Mama nggak perlu repot-repot untuk seperti itu. Maafin Ira yang belum bisa membahagiakan Mama,” ucapku panjang lebar.

Mama hanya tersenyum lembut mendengarku. Kemudian aku rasakan mama memelukku dengan penuh kasih sayang.

“Mama tidak minta apa-apa, Nak. Kebahagiaanmu juga merupakan kebahagiaan Mama. Tapi, mama hanya minta satu hal dari kamu, tolong jangan mengecewakan Mama, ya? Mama selalu berdoa yang terbaik buat kamu. Kalaupun papamu merasa keberatan untuk membiayai kelanjutan pendidikanmu, nggak masalah, Nak, selalu ada mama yang mendukung kamu.”

Entah mengapa, mendengar ucapan mama barusan, airmataku tak kunjung berhenti juga—malah semakin mengalir deras. Aku merasa berdosa selama ini belum bisa membahagiakan mama. Rasa sedih dan haru bercampur jadi satu dalam dadaku.

Namun, rasa senang, bahagia, dan bangga juga melingkupi diriku. Aku senang mempunyai seorang ibu seperti mama. Aku merasa bangga dengan mamaku sendiri meskipun beliau hanya seorang ibu rumahtangga. Aku tidak akan malu dan takkan pernah malu untuk menyanding nama mama dalam dadaku.

Lihatlah, mamaku sangat cantik! Walaupun secara fisik nampak biasa saja, namun, telusurilah ke dalam hatinya—mamaku merupakan seorang wanita yang sangat istimewa. Seorang wanita yang sabar, setia, dan penuh pengorbanan.

Aku berjanji dalam hati kepadamu, Ma. Aku akan selalu membahagiakanmu dengan caraku sendiri. Aku akan membuatmu bangga, seperti aku bangga kepadamu, Mama. Hanya tunggu waktu, aku akan membawa kebahagiaan untukmu.

Mamaku tersayang…

-----
Source : Tulizanqu

22 Apr 2014

Hidupku Bahagia Bersama Lelaki Berbeda Dunia

Hidup…
Dalam kehidupan ini tidak ada yang pernah sempurna, selalu diselingi dengan masalah-masalah yang membuat semua orang hampir gila. Manusia memiliki sifat yang berbeda-beda, dan dari situlah kita dapat mengetahui sifat manusia yang baik dan yang buruk. Kehidupan yang aku miliki saat ini mungkin sudah pernah dialami oleh orang lain selain aku. Kehidupan bernuansa gelap dan kelam. Kehidupan yang mungkin setiap orang tidak ingin alami. Karena kehidupan yang aku jalani penuh dengan kesunyian dan ketidakadilan yang diberikan oleh kedua orangtuaku. Kehidupan kelam yang sudah mereka berikan kepadaku sejak aku berumur 13 tahun, dan saat itu aku masih duduk di bangku SMP.

Aku menjalani hidup diiringi dengan cercaan dan hinaan dari orang-orang yang ada di sekolahku. Tapi dengan cercaan dan hinaan itulah aku dapat menjalani hidup dengan kuat dan tegar, mengingat Ayah dan Ibuku bercerai karena kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Ya! Orangtuaku bercerai karena perbuatan mereka sendiri. Aku terlahir sebagai seorang anak dari pemilik perusahaan yang jaya dan besar. Tetapi bukan berarti keadaan tersebut membuatku bahagia. Aku tumbuh tanpa kasih sayang kedua orangtuaku. Ayahku selingkuh dengan perempuan lain sedangkan Ibuku menganut ilmu gelap yang aku tidak tahu untuk apa. Tapi hal itu tidak membuatku mundur untuk melanjutkan pendidikan, selama ada orang yang masih menanggungku. Dan ternyata dengan bersungguh-sungguh sekolah, aku mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku terkenal sebagai murid yang berprestasi, walaupun cercaan dan hinaan masih terus terdengar di telingaku. Dan pada saat aku mencicipi bangku kuliah, di situlah aku menemukan kebahagiaan yang diberikan oleh seseorang baik hati dan dermawan. Seseorang yang mungkin membuat orang-orang terkejut jika mengetahui asal-usulnya.

Semarang, 10 Mei 2009
Pagi itu, seperti pagi-pagi biasa yang telah aku jalani. Bersiap-siap untuk pergi kuliah. Mandi dan berpakaian, memasukkan buku-buku penting untuk bahan kuliahku. Aku telah bersiap-siap dan menuruni tangga rumahku. Menuju dapur dan mencemot sepotong roti berisi selai strawberry yang telah kusiapkan. Lalu aku mulai naik kembali ke lantai atas, menuju sebuah ruangan yang sering digunakan Ibuku untuk bersemedi. Ya! Hak asuh anak jatuh ke tangan Ibuku dengan tipu daya yang ia perbuat, sehingga perasaan Hakim terlena oleh tipu daya tersebut.

Kubuka pintu ruangan besar itu, di dalam aku melihat Ibuku duduk bersila dengan mata terpejam. Seluruh ruangan sangat gelap. Sesajen ada di mana-mana, bau kemenyan mengharumi seluruh ruangan dengan baunya yang sangat menyengat. Aku sudah terbiasa dengan bau ini sejak kecil. Aku berjalan mendekati Ibu, terlihat wajah tua Ibuku yang sudah mulai mengeriput.
“Bu, Ai pergi dulu. Assallamualaikum.”

Karena tidak ada respon, aku beranjak dari ruangan itu.

“Aisyah! Belajarlah untuk mengetok terlebih dahulu!” Bentak Ibuku.

Aku tidak menoleh ke arah Ibuku, aku hanya berdiri membelakanginya di ambang pintu. Aku sudah terlalu sering dimarahi oleh Ibuku. Bahkan jika Ibu kesal, dia tidak segan-segan mengguna-gunaku dengan ilmu hitam yang ia miliki.
“Baik, Bu. Assallammu…” Belum habis aku bicara, Ibu sudah memotong.
“Jangan sekali-kali kamu ucapkan salam seperti itu! Kamu mau membuat Ibu lekas mati?!” Bentak Ibuku, lagi.
Rasa kesal dan marah muncul dalam hatiku. Kelakuan Ibu yang sudah jauh dari nalar, membuat diriku hampir dibisiki oleh setan. Tapi aku langsung menutup pintu ruangan sesat yang sering di gunakan Ibuku itu. Aku berjalan cepat menuju garasi, memasuki mobil Suzuki Fortune. Beranjak pergi meninggalkan rumahku.

Universitas Hassanudin…
Aku memarkirkan mobilku di parkiran khusus untuk para mahasiswa. Orang-orang sudah banyak berlalu lalang di sekitar kampus. Ketika aku keluar dari mobil, orang-orang di sekitarku menatap ngeri terhadapku. Ya! Kehidupan yang diiringin dengan cercaan dan hinaan masih ada sampai aku mencicipi bangku kuliah. Seperti yang aku katakan, cercaan dan hinaan itu membuatku menjalani kehidupan dengan tegar dan kuat. Aku berjalan melewati orang-orang disertai dengan tatapan ngeri dari mereka. Mungkin karena raut wajahku ini dan penampilanku. Memang kulitku yang putih pucat dan rambutku yang panjang serta poni yang sudah mulai panjang tapi tetap kusisir ke arah depan sehingga memunculkan kesan seperti kuntilanak hidup yang sedang berjalan di hadapan mereka. Mungkin karena itulah mereka memberiku tatapan ngeri.

“Eh… eh. Lihat, itu Nur Aisyah. Hii… ngeri, ya? Kenapa sih, dia harus kuliah di sini? Seharusnya dia berkumpul dengan sebangsa setan.”
“Hush! Jangan bicara seenaknya, tidak baik. Kudengar dia itu anak seorang perusahaan besar. Tapi perusahaan itu sudah bangkrut dan keluarganya pun berantakan.”
“Oh… ternyata begitu, tapi seharusnya dia tidak perlu berkelakuan seperti itu. Tapi… mungkin karena kejadian itu dia berubah.”
“Mungkin.”
Aku mendengarnya. Tapi tanpa kusadari, masih ada orang yang mengerti denganku. Walaupun aku tidak pernah mengetahuinya, tapi aku sangat bersyukur.

Seperti biasa, kuliah di jurusan Ekonomi Marketing selalu banyak defenisi-defenisi dan hitungan. Aku yang sedang duduk manis memperhatikan Dosen Yuda yang tengah menjelaskan ‘Konsep Fisik Fundamental’. Kulihat di sekelilingku, wajah bosan terpampang dari sebagian orang-orang yang ada di dalam kelas ini. Dan aku heran.
“Hhh…” Kuhembuskan nafas berat.
Kenapa semua perempuan yang ada di kelas ini memberikan tatapan menawan kepada Dosen Yuda. Memang, Dosen Yuda adalah Dosen termuda yang ada di Universitas ini. Dan ia memiliki wajah yang dapat membuat setiap perempuan ingin menjadi pacarnya.

“Ya, Aisyah. Apakah kamu dapat menjelaskan tentang konsep yang satu ini?” Tanya Dosen Yuda.
Aku mulai berdiri, “Iya. Saya dapat menjelaskannya.”

Aku berjalan ke muka kelas, raut wajah semua perempuan yang tadinya sedang menikmati pesona Dosen Yuda berubah menjadi gersang.
“Haah… kenapa si kuntilanak ini yang menjelaskan?” Rengek salah satu perempuan.
“Iya. Pergi sana! Hush… hush…” Hina perempuan yang lain.
“Kalau kamu keberatan dengan keberadaan Aisyah, kamu dapat menggantikannya di depan sini. Bagaimana?” tanya Dosen Yuda sambil tersenyum.
“Errm… tidak usah, deh. Kamu saja yang menjelaskan, Aisyah.” Kata perempuan itu.
Aku hanya diam dan cuma mendengarkan hinaan yang mereka berikan. Tidak ada rasa kesal. Tapi aku malah tertawa geli dalam hati, melihat ekspresi perempuan tadi ketika dipersilahkan Dosen Yuda untuk menjelaskan.
“Ya, silahkan Aisyah.” Kata Dosen Yuda.
“Baiklah dalam konsep ini…”
Gelap…

Brrmm…
Suara mesin mobilku berderum keras memasuki halaman rumahku yang cukup besar. Ya! Rumah besar yang dulu kami huni kembali lagi ke tangan Ibuku setelah sekian lama disita. Aku tidak tahu, dengan cara apa Ibuku dapat merebut rumah ini kembali. Tapi aku tidak ingin menjadikan hal ini sebagai beban, lebih baik kusingkirkan terlebih dahulu. Aku berjalan menuju pintu besar rumahku, kubuka pintu bergaya mewah itu.
“Assallamualaikum…”
Tidak ada sahutan. Suara Ibuku tidak terdengar. Mungkin masih bersemedi. Pikirku.

Ketika masuk ke dalam rumah, aku terus merasakan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Suasana berbeda dari rumahku, susasana aneh yang berbeda ketika aku meninggalkan rumah untuk pergi ke kampus. Keadaan rumah sunyi, terlalu sunyi. Rasa panik dan khawatir mulai muncul di hatiku.
“Ibu…” Panggilku pada Ibu.
Tidak ada sahutan.
“Ibu…!” Panggilku lagi. Kali ini sedikit berteriak.
Masih tidak ada sahutan.
Refleks. Aku langsung berlari ke lantai atas, menuju pintu besar yang tak jauh dariku saat itu. Kuraih ganggang pintu. Dan cepat kubuka pintu besar itu. Terbuka!
“A… a…”
Mahluk apa itu?! Batinku.
Aku terkejut, tubuhku tak dapat kugerakkan. Berkali-kali aku bertanya dalam hati ‘Mahluk apa itu?!’. kulihat mahluk yang sedang mencekik leher Ibuku. Mata Ibu membelalak lebar. Mahluk bertubuh hitam dan besar itu sedang mencoba untuk membunuh Ibuku. Tubuhku beku, tidak dapat digerakkan. Makin tak dapat ku gerakkan lagi, ketika mahluk itu menoleh ke arahku. Aku melihat matanya! Mata berwarna merah darah yang melihat ke arahku seakan-akan ia akan membunuhku juga setelah ia membunuh Ibuku. Tapi, aku menepiskan rasa takutku kepada mahluk yang ada di depanku sekarang. Aku bertekad, yang aku takuti cuma Allah SWT. Bukan mahluk gaib yang sekarang ada di hadapanku ini. Aku berlari menerobos dan mendorong mahluk itu, tiba-tiba mahluk itu menghilang dengan sendirinya. Ketika mahluk itu menghilang, aku langsung marangkul Ibuku yang masih setengah pingsan.
“Ibu… Ibu… Ibu…!” Teriakku.
“Bu… sadar…” Desahku. Dengan terkejut, Ibu terbangun di pelukkanku.
Tapi, tanpa aba-aba Ibuku langsung melepaskan pelukanku dengan kasar. Dia berdiri, matanya masih terbelalak dan ia melangkah kesana kemari seperti orang kebingungan. Aku hanya duduk bersimpuh dan cuma melihat gelagat Ibuku. Pandangan Ibuku beralih kepadaku, kemarahan mulai terlihat di wajahnya.
“Kamu! Kenapa kamu di sini?!” Bentak Ibuku.
Aku diam.
“Kau tak seharusnya berada di sini!” Aku diam, sekali lagi.
“Keluar! Keluar! KELUAR!!!”

Akhirnya, setelah mendengar teriakan ibuku, aku berdiri dan beranjak meninggalkan tempat Ibuku bersemedi. Berjalan ke arah yang berlawanan dari ruangan besar itu di lantai atas. Menuju kamarku yang terletak tak jauh dari ruangan itu. Aku membuka pintu kamarku, masuk ke dalamnya. Sesampainya di dalam aku sembarang melempar tas ranselku, kemudian menghempaskan badanku yang lelah di atas tempat tidur. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi pada Ibu dan juga aku. Hal ini sudah terjadi ke-24 kalinya. Dulu Ibu hampir terbunuh oleh mahluk gaib yang kepalanya buntung. Dan setelah aku menyelamatkannya, seperti tadi, dia membentak dan memarahiku untuk segera keluar dari ruangannya. Aku memejamkan mata, menjernihkan pkiranku dan mengistirahatkan tubuhku. Dalam beberapa saat aku masuk ke dalam alam bawah sadarku.

Pukul 03.45 WIB. Dini hari.
Harum embun pada dini hari, membuat mataku kembali terbuka. Suara Azan berkumandang dari Mesjid kecil yang berada tak jauh dari rumahku. Aku bangkit dari tempat tidurku, menuju kamar mandi. Mencuci wajahku dan menggosok gigi. Aku kembali berjalan keluar dari kamar mandi. Seluruh rumah gelap. Penerangan lampu rumahku tak terlalu terang saat itu. Hanya ada sebagian tempat yang diterangi oleh lampu. Aku menuju tempat ber-wudhu, membuka selang dan mancuran air suci pun keluar. Aku mengusapkan air suci itu ke lengan dan bagian alat gerak yang lainnya. Membersihkan diri dari kotoran yang tak terlihat. Lalu aku kembali ke kamarku dan mulai menghadap sang Maha Kuasa.

Aku berangkat kuliah pagi-pagi sekali. Dikarenakan masih ada urusan penting yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Seperti biasa, aku memarkirkan mobilku di parkiran dan berjalan menyusuri koridor Universitas Hassanudin yang megah.

WHUUS…
Sekelebat angin kencang menerpa tubuhku. Aku hampir terjatuh oleh angin yang kencang itu. Aku menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa di kampus maupun di sekelilingku. Tapi ketika aku menoleh kembali.
“HAAH!!” Aku terkejut.
Sesosok perempuan berambut panjang tiba-tiba muncul di hadapanku. Dia berdiri dengan wajah tertunduk. Tapi aku tidak merasa takut sama sekali. Aku malah mengajukan pertanyaan kepada perempuan yang ada di depan mataku ini.
“Permisi, kamu kenapa? Ada perlu apa denganku?” Tanyaku.
“To… to… tolong… a… ku…”
“Hah? Apa? Maaf saya tidak mendengar. Bisa kamu ulangi lagi?”
GREEP…
“TOLONG AKU!”
Tiba-tiba perempuan itu memegang kedua pundakku. Kemudian mendekatkan wajahnya sambil berkata.
“Tolong aku… tolong aku… tolong aku… TOLONG AKU…”
Mataku terbelalak. Melihat mata perempuan itu. Warna merah darah. Warna yang sama dengan mata mahluk hitam yang menyerang Ibuku kemarin. Perempuan itu terus mengatakan hal yang sama. Dia terus melihatku dengan mata merah itu. Mataku masih terbelalak, tubuhku beku tidak dapat digerakkan seperti waktu itu. Tiba-tiba banyak suara-suara minta tolong terdengar dari berbagai arah. Lalu…
BUUKK!!
Sesuatu menghantam kepalaku dengan keras. Mataku berkunang-kunang. Pandanganku mulai tidak jelas. Rasa sakit sudah tak tertahankan lagi.
GEDEBUK!!
Aku jatuh. Terbaring di lantai koridor kampus, mataku masih berkunang-kunang. Aku melihat perempuan itu masih menatapku. Tersenyum. Perempuan itu tersenyum lebar melihatku terbaring lemah. Pandanganku semakin pudar. Lalu yang ada hanyalah… gelap.

1 Tahun Kemudian…
Suara ramai orang-orang berdengung di telingaku. Aku yang sedang duduk di bawah pohon beringin besar yang ada di halaman kampus, membuat pandangan semua orang mengarah kepadaku. Mereka terus memberikan tatapan ngeri karena aku berani duduk di bawah pohon beringin ini. Kata orang-orang yang ada di kampus, pohon beringin yang berposisi tepat di tengah halaman kampus terkenal angker. Tapi aku tidak merasa merinding sama sekali. Malah berbicara dengan orang-orang yang ada di sekitar pohon sungguh mengasyikkan. Walaupun bentuk mereka agak sedikit menakutkan.

Sejak kejadian satu tahun lalu, aku mendapatkan bakat dapat melihat orang-orang yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Kejadian tragis yang membuatku koma selama 3 minggu. Kejadian yang terjadi di koridor kampus ini. Perempuan yang telah melakukan sesuatu kepadaku. Bahkan ketika aku koma, Ibu sama sekali tidak pernah menjenguk maupun menjagaku. Cuma paman dan bibiku saja yang senantiasa menjaga dan merawatku.
“BISA DIAM GAK, DEK?!” Suara seseorang membentak.
Aku menoleh ke arah suara itu, yang berada tak jauh dari hadapanku. Oh iya, aku baru ingat kalau Ospek penerimaan mahasiswa baru dilaksanakan hari ini. Kulihat para Senior membentak-bentak para angkatan baru. Mereka disuruh baris-berbaris, scotjump, push up, sit up, dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan fisik dan mental. Sampai-sampai ada salah satu Junior yang pingsan karena tidak kuat, ada juga yang menangis dan sebagainya. Sepertinya Ospek yang diadakan tahun ini sangat berat, dan aku yakin para Senior sangat senang menyiksa Juniornya. Tapi tanpa kusadari ada salah satu angkatan baru yang sangat aku salut kepadanya. Laki-laki muda berperawakan sedang dan berwajah cukup tampan. Tapi… sebenarnya… ehm, tampan sedikit saja. Aku sangat salut kepada bocah itu, ia terus berusaha dan tekun sekali mengikuti perintah yang dikatakan oleh Seniornya. Walaupun kentara jelas di wajahnya bahwa ia sangat lelah, tetapi ia sangat pintar menyembunyikannya. Aku harus memperhatikannya dengan teliti terlebih dahulu baru aku tahu ternyata dia sangat lelah. Anak yang pantang menyerah. Ternyata masih ada orang yang seperti itu. batinku. Karena terus memperhatikan gerak-geriknya dalam mengikuti kegiatan Ospek, ternyata aku ketahuan. Tapi memangnya tidak boleh melihat kegiatan Ospek Juniorku. Ia menatapku ketika sedang istirahat. Aku langsung membuang muka, dan kembali membaca buku untuk bahan penjelasanku selanjutnya yang disuruh oleh Dosen Yuda.

Tak beberapa saat aku membaca buku, terdengar suara teriakan centil seorang perempuan. Aku menoleh, dan tak beberapa centimeter dari hadapanku segerombolan Senior yang perempuan sedang mengerumuni sesuatu. Aku yang masih mempunyai rasa penasaran ini, melirik apa yang sedang mereka kerumuni. Aku mencari celah di antara perempuan itu. Ketika aku menemukannya, kulihat laki-laki yang aku salut kepada kerja kerasnya. Ketika melihatnya aku langsung kembali membaca buku lagi. Ternyata bocah itu cepat terkenal. Batinku.

“Hai…”
Sebuah suara membuyarkan konsetrasiku ketika membaca buku. Aku menoleh, sesosok lelaki berdiri di hadapanku dengan tersenyum. Hhh… ternyata dia. Pikirku. Aku hanya menunjukkan ekspresi dingin dan memcoba kembali membaca bukuku lagi.
“Anu… permisi. Kamu…” Tanyanya.
“Bisakah kau bicara lebih sopan sedikit. Aku ini Seniormu,”
“Aduh maaf, kak. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya cuma mau bertanya.”
Aku menatap bingung pada Junior yang tak kutahu namanya ini. Tanpa pikir panjang aku langsung memperbolehkan dia bertanya.
“Boleh. Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Ehm… kenapa kakak duduk sendirian di sini? Di bawah pohon beringin lagi. Apa tidak apa-apa? Orang-orang ngeliatin kakak dari tadi, terutama teman-temanku.” Katanya panjang lebar.
“Itu namanya bukan bertanya. Terus kenapa? Memangnya salah kalau aku duduk di sini? Aku tidak mengusik pikiran mereka, kan?” Kataku, dingin.
“Bukan begitu…”
“AKHMAD…” Panggil seseorang.
Laki-laki yang ada di hadapanku menoleh ke asal suara itu.
“Maaf ya, kak. Teman saya memanggil. Lain kali kita ngobrol-ngobrol, ya.” Katanya, sambil tersenyum lebar.
Aku menghembuskan nafas berat. Aku merasa senyum kecil terlukis di bibirku. Cuma dia satu-satunya orang yang berani berbicara denganku. Selain pantang menyerah, dia juga sangat baik hati dan pandai bergaul.

Malam itu menjadi malam yang sangat suram ketika aku berada di rumah. Akhir-akhir ini aku sering mendengar suara Ibuku sedang berbicara dengan seseorang. Padahal selama beberapa tahun ini tidak ada satu orang pun yang berkunjung ke rumah kami. Tetangga kami pun tak pernah berkunjung. Tapi aku yakin, orang yang berbicara dengan Ibuku bukanlah manusia. Aku merebahkan kepalaku di atas bantal, dan mulai memejamkan mataku.

Keesokan harinya aku kembali menjalani hari-hariku di kampus. Aku dipanggil Dosen dan di suruh untuk segera menyiapkan bahan untuk Proposal, mengingat bahwa tahun ini adalah tahun terakhirku dalam kuliah. Ketika aku keluar dari ruang Dosen, dari kejauhan kulihat laki-laki yang kemarin yang mengajakku berbicara berjalan ke arahku dengan melambaikan tangannya. Dan aku langsung membelokkan arah tujuanku kembali ke arah sebaliknya.
“Eh… eh… kak, tunggu…!” Teriaknya.
Aku tak memperdulikan panggilannya dan terus berjalan cepat, berusaha menjauh darinya.
“KAK…! TUNGGU…!” Teriaknya lagi.
Aku berjalan berakhir di pohon beringin di tengah halaman kampus. Dan kulihat dari belakang dia masih mengikutiku. Dia berlari menujuku, dan dengan nafas terengah-engah ia menghampiriku.
“Haah… haah… haah… kakak cepat sekali jalannya. Aku sampai kelelahan.” Desahnya.
“Lalu… kenapa kau mengikutiku?” Kataku, jutek.
“Aku kan sudah bilang kemarin. Aku akan menemui kakak lagi. Memangnya tidak boleh kenalan dan berteman dengan Senior?” Tanyanya dengan nada lugu.

Aku melirik ke wajahnya. Ternyata ia memasang wajah yang polos, sehingga membuatku menjadi gemes melihat wajahnya. Andaikan aku mempunyai adik seperti dia, akan kupeluk setiap hari. Batinku.
“B… boleh saja. Tapi apa tidak apa-apa?” Tanyaku.
“Kenapa apanya, kak?”
“Aku kan dikenal sebagai orang yang aneh di sini. Apa tidak apa-apa kamu berteman dengan Senior yang aneh sepertiku ini? Nanti popularitasmu turun, lho.”
“Tidak apa-apa. Memangnya mereka yang mengatur aku dalam memilih teman. Aku tidak popular. Mereka saja yang mendekatiku.”
“Baiklah. Namaku Nur Aisyah, panggil saja Ai. Senang berkenalan denganmu.” Kataku mengulurkan tangan. Dan ia pun membalas jabatanku.
“Nama saya Muhammad Nur. Panggil saja Akhmad. Wah… nama kita hampir mirip ya, kak. Cuma beda belakang sama di mukanya saja.”
Aku tersenyum kecil. Akhirnya aku bisa merasakan yang namanya berteman. Sudah sekian lama aku tidak merasakannya. Tapi ada satu hal yang membuatku bingung, kenapa ia tidak mempunyai belahan bibir. Biasanya setiap orang memilikinya. Aku memandangnya, memperhatikan bibirnya. Siapa tahu saja aku salah.
“Ada apa, kak?”
Ternyata memang tidak ada belahannya. Mungkin karena faktor keturunan.
“Kak?”
“Ah… tidak. Tidak ada apa-apa.”

Selama aku berteman dengan Akhmad, aku mendapatkan hari-hari yang menyenangkan. Tidak ada lagi hari-hari suram yang aku rasakan, mungkin Akhmad dikirim oleh yang Maha Kuasa untuk memberikan kebahagiaan kepadaku dan aku sangat mensyukuri itu. Sekian lama kami berdua berteman, Akhmad pernah diolok-olok oleh teman-temannya pada tahun kedua kuliahnya. Dan aku pernah menyarankan untuk memperjauh hubungan pertemanan kami supaya ia tidak diolok-olok lagi, tapi ia tidak menyetujui saranku. Ia berkata ‘Bukan mereka yang mengatur aku untuk memilih teman. Kalau aku mau berteman dengan kakak, ya aku berteman denganmu’ hal indah yang dikatakan oleh Akhmad melalui mulutnya sangat menyentuh hatiku. Dan pada saat tahun terakhirku, aku disibukkan dengan pekerjaan dalam membuat Skripsi. Tentu saja aku sangat kesusahan dalam mencari bahan. Tapi dimana aku kesusahan, Akhmad selalu ada untuk membantuku. Walaupun saat itu dia masih semester ke-3, dia mengerti bahan yang bagus untuk Skripsiku. Dan itu sangat mengagumkan untuk laki-laki yang masih bergelut di semester ke-3. Aku sangat mengagumi laki-laki yang membantuku ini.

Hari itu adalah hari Ujian Skripsi. Dan aku diwawancarai mengenai topik skripsi yang aku buat. Di dalam aku melihat Dosen Yuda juga turut ikut mewawancaraiku. Di dalam ruangan yang berisi 5 orang Dosen pembimbing dan aku. Mereka menanyakan topik dan tujuanku memilih judul dalam Skripsiku. Aku menjelaskan kepada mereka dari awal hingga akhir mengapa aku memilih judul yang aku buat dalam Skripsiku. Hingga aku pun memberikan alasan dan kesimpulannya, dosen yang memperhatikan dan mendengarku, berangguk pelan. Setelah aku selesai mengatakan semua penjelasanku, aku pun melihat ke para Dosen. Reaksi mereka sangat tenang, kemudian mereka saling berpandang satu sama lain berkomunikasi lewat kontak mata. Dan dengan tersenyum mereka berkata,
“Penjelasan yang bagus Nona Ai. Tidak salah Yuda menyuruhmu untuk masuk ke dalam ruang lebih dahulu. Kami sangat puas. Kamu secara resmi dinyatakan LULUS,”

“Allhamdullillahirabbilallammin…” Aku mengusap dada, dan mengucapkan kata syukur.
Lalu aku pun keluar dengan rasa berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikanku ketegaran dan mempermudahkan aku dalam menghadapi ujian kali ini. Aku melangkahkan kaki ke luar dari ruangan itu, ketika aku sudah berada di luar kulihat Akhmad sudah menungguku dengan cemas.
“Bagaimana, kak?” Tanyanya dengan nada cemas.
“AKU LULUS, AKHMAD! KYAAA…” Aku bersorak riang dan menghamburkan pelukkanku ke Akhmad.
“Selamat ya, kak. Kakak sudah berusaha.”
“Ini semua juga berkat kamu, Akhmad. Terima kasih ya.”
“Sama-sama. Selebihnya kan kakak yang mengerjakannya. Oh iya, kak. Mau sampai kapan meluk aku?”
Mendengar pertanyaan Akhmad, aku langsung melepaskan pelukkanku. Dan aku merasakan pipiku panas.
“Oh… maaf ya,”
“Tidak apa-apa,”

Suasana menjadi hening.

“Kak…?” Tanyanya lagi.
“Iya? Ada apa?” Jawabku.
Akhmad menatapku dengan pandangan serius. Lalu dengan sigap ia langsung memegang tangaku.
“Kak! Baru kali ini aku melihat kakak sesenang ini. Aku ingin membuat kakak bahagia selamanya. Aku ingin di sisi kakak dan menghibur kakak,”
Aku tercengang. Serasa tidak percaya dengan yang baru saja Akhmad katakan. Apakah ini yang dinamakan pernyataan cinta.
“A… aku. Tapi Akhmad, umur kita berbeda jauh dan itu sangat tidak mungkin.”
“Tapi…”
“Akhmad aku tidak bermaksud untuk tidak menolak tawaranmu. Coba kamu pikir lagi. Apa kamu mau menerimaku yang seperti ini?”
“Tentu saja. Aku tidak pernah melihat perempuan tegar seperti kakak dan aku sangat menyukai sifat kakak yang seperti itu. Jadi mau kah kakak berada di sisiku selamanya?”
Aku mengangguk. Lalu dengan sekejap Akhmad langsung memelukku dan mengangkatku. Senyum gembira tertera di wajahnya yang polos. Aku memberikannya senyuman kecil. Sesuatu hal mengganjal pikiranku mengenai hubunganku dengan Akhmad. Masalahnya, dalam hukum Islam jika seorang lelaki dan perempuan telah mengetahui sifat satu sama lain, dan lelaki tersebut menyatakan perasaannya. Itu menyatakan bahwa lelaki itu sedang mempersunting perempuan tersebut. Sedangkan Akhmad tidak tahu asal usul keluargaku, dan keadaan Ibuku. Dan aku sangat bingung ketika aku menerima tawarannya, dia langsung ingin segera menemui orangtuaku. Dengan terpaksa aku membawanya kepada Ibuku.

Sesampainya di rumah, aku mempersilahkannya duduk di ruang tengah. Aku naik ke atas dan memasuki ruangan itu lagi. Kubuka pintu itu, di dalam kutemui Ibuku yang sedang berdiri di depan cermin.
“Bu… ada seseorang yang ingin bertemu dengan ibu. Calon suami Ai, dia ingin meminta restu dengan Ibu,”
Ibu langsung berjalan melewatiku, keluar dari ruangan itu. Baru kali ini Ibu keluar dari ruangan semedinya setelah sekian lama. Ibuku dan aku menuruni tangga, Akhmad yang melihat langsung berdiri. Tapi ketika Ibuku melihat ke Akhmad, bola mata Ibu langsung membesar.
“HAH! Sedang apa kau disini?! Keluar kau! Kau tidak berhak berada disini! KELUAR!!!” Teriaknya.
Aku terkejut dengan kelakuan Ibu yang mendadak histeris.
“Ibu! Ibu kenapa?! Ini Akhmad calon suami Ai, bu.”
“TIDAK! KELUAR!!!”
Akhmad hanya memasang wajah serius ketika bertemu dengan Ibuku. Kami berdua pun keluar. Mengantar Akhmad ke depan pintu, jeritan histeris Ibu masih terdengar dari luar.
“Maaf ya, Akhmad.”
“Tidak apa-apa, kak. Kalau begitu aku pulang dulu. Assallammuallaikum.”
“Wallaikumsallam. Akhmad.” Panggilku.
Ia menoleh.
“Jangan panggil aku dengan sebutan ‘kakak’ lagi. Panggil saja aku Ai.”

Ia tersenyum dan pergi meninggalkan rumahku. Tapi pada keesokkan harinya aku meminta nasihat kepada paman dan bibiku mengenai lamaran Akhmad kepadaku. Dan aku masih memiliki kendala untuk mendapatkan restu. Akhirnya paman dan bibiku menyuruhku untuk membawa Akhmad dan memperkenalkannya kepada mereka. Dan tepat pada malam hari, aku memperkenalkan Akhmad kepada paman dan bibiku. Dan luar biasa, reaksi paman dan bibiku terhadap Akhmad sangat memukau. Dalam sekejap paman dan bibiku langsung menyukai Akhmad. Dan pada malam itu juga Akhmad mendapatkan restu dari paman dan bibiku, lebih baiknya lagi paman bersedia untuk menjadi waliku.
“Tolong jaga keponakan kami, nak Akhmad.” Ucap pamanku sembari tersenyum.

Pernikahan kami di selenggarakan pada Tanggal 05 Mei 2010. Aku duduk bersanding bersama Akhmad. Proses akad nikah berjalan lancar dan tidak ada kendala sama sekali. Aku dan Akhmad sangat bahagia pada saat itu, sayangnya orangtua Akhmad tidak dapat datang pada hari itu. Dikarenakan jarak yang sangat jauh dapat memungkinkan penyakit Ayahnya kambuh lagi. Dan yang dapat mewakilkannya hanya kakak dari Akhmad. Setelah proses akad nikah selesai, kami semua pergi ke rumah pamanku untuk acara pestanya. Tapi keesokkan harinya, Akhmad harus segera turun kuliah untuk mengajukan Skripsinya. Dan aku mulai merekomendasikan diriku kepada salah satu Perusahaan Marketing terbesar di Semarang, dan aku sangat bersyukur aku diterima dengan senang hati. Dan aku langsung diangkat menjadi Manejer Marketing karena nilai yang kuperoleh pada saat kuliah.

Hari-hari yang kulalui penuh dengan pekerjaan, dan Akhmad pun sibuk dalam menyelesaikan kuliahnya dan minggu depan ia akan Ujian Skripsi. Waktu untuk kami saling bertemu sangatlah sedikit, dan kami berdua belum mempunyai rumah. Dan masih belum terpikir untuk membeli rumah, mengingat Akhmad masih belum lulus. Dan pada minggu Akhmad Ujian Skripsi aku minta cuti dengan atasanku untuk mendampinginya. Seperti dia mendampingiku saat aku Ujian Skripsi pada waktu itu. Dengan gelisah aku menunggunya di luar ruangan. Beberapa menit kemudian aku melihat pintu ruangan itu pun terbuka, kulihat sosok Akhmad yang sedang berjalan. Lalu ia pun menghampiriku, wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi senang. Melainkan ekspresi datar, pada saat itu kukira ia tidak lulus. Tapi beberapa detik kemudian ia langsung berteriak memeluk dan mengangkatku.
“AKU LULUS, AI…” Soraknya.
Aku yang mendengarnya langsung meneteskan air mata bahagia. Dan juga mengucapkan syukur kepada Allah SWT karena telah memberikan kemudahan untuk Akhmad.

Malamnya Akhmad dan aku berencana mengundang paman dan bibiku untuk makan malam di luar dalam rangka kelulusan Akhmad. Paman dan bibi sangat bangga kepada Akhmad. Dan pada hari berikutnya Akhmad mulai membuka toko komputernya, dan menunjukkan keahliannya dalam Bidang Teknologi.
Bulan demi bulan kami isi dengan kesibukkan masing-masing dalam pekerjaan sampai pada suatu hari Akhmad mempertanyakan sesuatu ketika kami sedang makan siang di luar.
“Ai?” Tanyanya.
“Iya, mas?” Balasku.
“Begini, lusa kan aku mau cuti sebentar dan ingin pulang ke kampung halamanku.”
“Kenapa mendesak sekali, mas?”
“Penyakit Ayah kambuh lagi,” Tukasnya.
“Astagfirrullahallazim. Kenapa?” Kataku, terkejut.
“Mas juga tidak tahu, Ai. Makanya kalau mas pulang kamu mau tidak ikut sama mas?”
Aku mendongkakkan kepalaku.
“Tapi… apa tidak apa-apa, mas. Aku masih masih belum siap bertemu dengan orangtuamu. Malu. Bisa-bisa pas aku bertemu dengan orangtuamu, mereka langsung menyuruh kita cerai.”
“Ya Allah… Ai… Ai… pikiran kamu jauh sekali. Masa orangtuaku sekejam itu, ya tidak lah. Ikut saja sekalian bertemu dengan keluarga besarku di sana.”
“Aku mau saja, mas. Tapi apa tidak apa-apa?”
“Aduh ai… kamu ini segugup itu ketika ingin ku bawa ke mertuamu.”
“He… he…”
Aku menyeringai.
“Di mana kampung halaman kamu, mas.”
“Di Kalimantan Tengah.”
“Wah… jauh sekali. Pantas orangtuamu tidak bisa datang ke pernikahan kita.”
“Walaupun jauh pemandangan di sana sangat indah sekali, lho. Dan kampungnya di pinggir pantai lagi.”
“Yang benar? Tapi mas, aku juga kebetulan ditugaskan atasanku untuk menjadi manajer di salah satu Perusahaan Sawit yang ada di Kalimantan Tengah. Dan minggu depan aku berangkat.”
“Nah… sekalian saja. Tapi di kota mana?”
“Di kota Sampit. Tapi harus pulang pergi lagi menggunakan travel ke kilometer 21.”
“Nah… kalau begitu kita berangkatnya minggu depan saja.”
Aku pun mengangguk tanda setuju.
“Tapi sebelum berangkat, kita berpamitan dengan Ibumu dulu. Sudah lama kamu tidak menjenguk Ibumu.” Kata mas Akhmad.
Aku pun menundukkan kepalaku. Iya sudah lama aku tidak menjenguk Ibu. Aku tak tahu keadaannya saat ini semenjak aku tinggal di rumah paman dan bibi.
“Iya. Baiklah, mas.”

Aku dan mas Akhmad sudah menentukan hari kapan kami berangkat. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu mertuaku. Mereka seperti apa ya? Pasti mereka orangnya baik sama seperti mas Akhmad.

Hari demi hari terus berlalu. Waktu untuk berpamitan dengan Ibuku pun telah tiba, aku berdua mas Akhmad mengendarai mobil menuju rumah Ibu. Kami memasuki rumah megah, tapi keadaan rumah saat itu sangat berantakkan seakan tidak ada sama sekali orang yang mengurusnya. Aku memandang rumah yang dulunya kutinggali, keadaannya sangat jauh berbeda ketika aku meninggalkan rumah ini. Aku dan mas Akhmad memandang tak percaya dengan apa yang kami lihat. Rumah yang dulu sangat megah dan indah, kini terlihat seperti rumah kosong dan bernuansa angker.

“AAARRRGGGHHH!!!”
Aku terkejut mendengar jeritan keras yang berasal dari rumah. IBU! Aku pun langsung berlari masuk ke dalam rumah dan tak menghiraukan panggilan mas Akhmad. Aku menaiki tangga dengan cepat, menuju ke ruangan yang dulunya sangat kubenci. Ruangan berpintu besar berada di hadapanku, langsung kubuka pintunya. Ketika kubuka, kulihat Ibuku telah terkapar di atas lantai. Lalu aku serasa tak percaya dengan apa yang telah kulihat di depan mata kepalaku. Perempuan yang membuatku koma selama 3 minggu berdiri di samping Ibuku. Ia melihatku dengan mata merahnya, lalu menghilang meninggalkan asap hitam pekat.
Aku langsung memeluk Ibuku yang tergeletak diam di lantai dengan mata membelalak lebar dan mulut ternganga serta mengeluarkan lidahnya.
“Ibu! Ibu! Ibu!”
Aku meraih pergelangan tangan Ibuku, dan merasakan denyut nadinya. Tidak ada!
“Ibu…! Ibu…! IBU…! MAS…! MAS AKHMAD…!” Teriakku. Memanggil mas Akhmad.
Mas Akhmad muncul di balik pintu dengan wajah cemas. Aku langsung menangis dengan Ibu dalam pelukkanku.
“Mas… Ibu mas…”
Mas Akhmad mendekat dan merasakan denyut nadi Ibuku sekali lagi.
“Innallillahhi Wainnallillahhiroziun. Ai, Ibu telah berpulang kepada yang maha kuasa.” Tukas mas Akhmad.

Aku langsung menangis dengan keras dan memeluk erat mayat Ibuku. Dan mas Akhmad pun ikut memelukku, menenangkanku.
“Kita harus hubungi keluargamu, Ai.”

Hari pemakaman Ibuku penuh dengan haru. Aku sangat sedih dengan kepergian Ibuku yang sangat aku sayangi walaupun ia sering tidak terlalu memperhatikanku. Tapi aku sangat menyayanginya, kenapa Ibu meninggal dengan cara yang sangat tragis. Mas Akhmad selalu berada di sampingku, menenangkanku dan menjagaku. Dan aku sangat menghargai perbuatan suamiku. Ketika malam tahlilan, dan membaca Surah Yaasin mataku tak henti-hentinya mengeluarkan air mata sampai aku tak sanggup lagi dan beranjak masuk ke dalam kamar rumah paman dan bibiku. Orang-orang pun selesai mengirimkan Do’a untuk Ibuku, kudengar para wanita yang berada di dapur telah menyuguhkan makanan untuk semua orang yang datang dalam tahlilan malam itu. Pintu kamar yang aku masuki terbuka, sosok mas Akhmad yang menggunakan baju koko dan memakai kopiah menghampiriku.

“Ai… sudahlah. Ikhlaskan saja,” Kata mas Akhmad dengan suaranya yang lembut. Tangannya yang besar dan kokoh mengusap air mataku yang masih berjatuhan.
“Aku sudah merelakannya, mas. Tapi kondisi Ibu ketika meninggal sangat membuatku terpukul.”
Mas Akhmad diam.
“Ai… bagaimana kalau kita membangun rumah?”
“Hah… membangung rumah.”
“Iya. Bagaimana kita berkeluarga dan tinggal di kampung halamanku dan meninggalkan kehidupan kota. Kita akan membangunnya di dekat pantai, tapi agak jauh dari rumah Ayah dan Ibuku. Bahan-bahannya sudah disediakan disana biayanya pun menggunakan uang gajiku.”
Aku terdiam.
“Apakah engkau mau, Ai?” Tanyanya dengan nada sendu.
Aku berfikir sejenak. Menimbang-nimbang penawaran mas Akhmad yang sangat memungkinkan untukku. Aku mendongkakkan kepalaku, dan menatap mata mas Akhmad dengan tajam. Dan aku pun berkata.
“Baiklah. Aku mau, mas.”
“Allhamdullillah. Ternyata kamu setuju dengan penawaranku. Aku sudah minta izin dengan paman dan bibimu, dan mereka menyetujuinya.”
Aku tersenyum kecil. Wajah ceria mas Akhmad terpancar ketika aku berkata setuju kepadanya. Dan aku merasa aku sangat beruntung mempunyai suami yang bijaksana seperti mas Akhmad, walaupun ia lebih muda dariku. Dan ia tidak membandingi perbedaan umur kami.

Kami berdua akan berangkat pada hari senin. Aku dan mas Akhmad pamit pada hari senin itu. Perjalanan jauh dan melelahkan menunggu kami, perjalanan melalui udara dan darat. Setelah 16 jam perjalanan kami pun sampai di kampung halaman mas Akhmad. Memang benar apa kata mas Akhmad, kampung ini sangat indah tepat berada di dekat pantai. Pohon-pohon kelapa mengelilingi kampung ini, dan hebatnya lagi kampung ini sangat bersih dan asri.
“Nah… Ai. Selamat datang di Kampung Kalap. Ini adalah kampung yang sangat aku cintai dan sayangi,”
Aku melangkahkan kakiku di atas kampung yang aku tidak kenali ini, tapi kampung ini sangat membuatku takjub dengan pemandangan pantai yang sangat indah serta kampungnya.

Mas Akhmad membimbingku menuju sebuah rumah berpondasikan kayu ulin yang sangat kuat. Rumah itu agak besar tetapi lebar, dan desainnya ala Kalimantan Tengah sekali. Sekerumunan orang-orang yang berada di kampung menyambut kami berdua. Ternyata mas Akhmad sangat dikenal di kampungnya, dan orang-orang yang ada di kampung ini sangatlah ramah. Dan kulihat di muka rumah yang kusebutkan tadi berdiri dua orang wanita dan lelaki paruh baya dan aku juga melihat kakak Akhmad. Jangan-jangan wanita dan lelaki itu mertuaku, orangtua mas Akhmad. Ketika kami menghampiri orangtua mas Akhmad, mereka langsung memeluk mas Akhmad. Mas Akhmad mencium tangan kedua orangtuanya dan kakaknya. Keluarga yang sangat harmonis, aku selalu mendambakan keluarga seperti ini.

“Mai, jituh sawan kula,” (Bu, ini istri saya). Kata mas Akhmad dalam bahasa yang sama sekali tidak aku ketahui.
Lalu Ibu mas Akhmad tersenyum dan memegang pipiku, dengan refleks aku langsung mencium tangan Ibu mas Akhmad. Ibu mas Akhmad berkata sesuatu dan aku sama sekali tidak mengerti. Mas Akhmad menyadari raut wajahku yang sangat kebingungan, lalu membisikkan sesuatu di telinga Ibunya. Lalu Ibunya langsung seperti orang terkejut dan lupa.
“Jadi ini namanya nak Aisyah. Kamu cantik sekali, nak. Akhmad, Aisyah ayo masuk. Masa kita berdiri di sini, nanti kaki cepat lunglai.” Kata Ibu mas Akhmad dengan Bahasa Indonesia yang sangat lancar, sambil tertawa dan mempersilahkan masuk.
“Ah, ibu ini,” kata mas Akhmad.

Kami semua pun masuk ke dalam rumah orangtua mas Akhmad. Keadaan di dalam rumah sangat rapih dan terurus, dan sangat bersih serta tertata. Kami semua bercerita-cerita tentang kisah masing-masing. Sangat menyenangkan tinggal bersama keluargaku yang baru ini, terutama Ibu dan Ayah mas Akhmad yang sangat baik hati.

Malamnya kami makan malam, masakan yang dibuat Ibu mas Akhmad sangat enak. Aku sampai nambah dua kali. Dan aku langsung minta diajarkan resep masakan Ibu mas Akhmad yang namanya ‘Gangan asam’. Ternyata ‘Gangan Asam’ itu dalam Bahasa Indonesianya itu sayur asem, tapi yang di buat Ibu mas Akhmad sangat enak dan bisa diacungi jempol. Keharmonisan yang aku dapatkan bersama keluarga baruku sangatlah membuatku terharu. Pernah mas Akhmad mengatakan kepada Ibunya bahwa aku saat ini sebatang kara dan Ibuku telah meninggal. Dan Ibu mas Akhmad pun berkata “Kamu telah mempunyai keluarga baru disini. Dan Ibu sangat senang jika kamu memanggil Ibu dengan panggilan ‘Ibu’” saat itu aku langsung meneteskan air mataku, seumur-umur Ibuku tidak pernah berkata seperti itu. baru kali ini ada seseorang yang berkata dengan ikhlas seperti itu. Lalu pada suatu hari aku minta izin kepada mas Akhmad untuk berjalan-jalan di tepi pantai, selagi mas Akhmad sedang membangun rumah untuk kami.

Ketika aku berjalan-jalan di pinggir pantai, dari kejauhan terlihat seorang nenek berjubah hitam berjalan menghampiriku. Kulitnya sangat mengeriput, matanya yang memutih sangat membuatku ketakutan. Lalu ia menunjukku dengan telunjuknya, dan berkata.
“Kau… kau tidak pantas berada disini.” Katanya dengan nada parau layaknya seorang nenek yang sudah memasuki usia senja.
“Memangnya kenapa, nek? Ini adalah kampung halaman suami saya dan kami akan tinggal di sini. Dan saya sangat menyukai penduduk kampung di sini.” Balasku.
“TIDAK! Kau harus pergi dari sini sesegera mungkin,”
Aku bingung dengan perkataan nenek yang sedang berada di depanku ini. Lalu ketika sesuatu luput dari mataku aku menoleh ke belakang. Dan ketika aku menoleh kembali, nenek yang berada di depanku sudah menghilang. Aku sangat terkejut. Secepat itukah nenek tersebut pergi. Lalu malamnya aku mengalami muntah-muntah hebat. Aku terus keluar dan memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutku, dan itu sangat menyakitkan. Mas Akhmad cemas melihat keadaanku dan mendampingiku.

Beberapa minggu kemudian, rumah dambaan kami pun jadi. Rumah yang dibangun dengan kayu sama seperti rumah Ayah dan Ibu mertuaku. Terbuat dari kayu ulin dan berada di dekat pantai dan agak jauh dari rumah Ibu dan Ayah mertuaku. Kami berdua pun kembali bekerja. Aku berkerja sebagai manejer di Perusahaan Sawit dan mas Akhmad membuka cabang toko komputernya di Kota Sampit. Kami pulang pergi dari rumah menggunakan travel. Sungguh hari-hari yang melelahkan membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan kami. Lalu malamnya aku muntah-muntah lagi, rasa sakit pada perut dan saluran nafasku tak tertahankan lagi. Mas Akhmad semakin cemas dengan keadaanku, dan ia pun menaruh curiga kepadaku.
“Ai, apa kamu tidak apa-apa. Ini minum air putih.” Katanya, sembari menyorongkan gelas berisi air putih.
“Makasih, mas.”
“Ai, dari semalam kamu terus muntah-muntah. Jangan-jangan kamu hamil.”
“Bisa saja, mas. Aku sudah telat 3 bulan. Tapi… tunggu. Aku ambil alat tes kehamilan dulu.”

Aku pun mengambil alat tes kehamilan di dalam lemari dan beranjak menuju kamar mandi. Ketika aku melihat hasilnya aku sangat terkejut. Lalu aku keluar mendatangi mas Akhmad.
“Mas…” Panggilku.
Mas Akhmad pun berdiri. Dengan pandangan cemas ia menatapku.
“Mas… aku… aku POSITIF HAMIL.” Sorakku. Dan menghamburkan pelukkan ke mas Akhmad.
“Akhirnya Aisyah. Kita akan segera memiliki anak.”

Kabar bahwa aku hamil pun di beritahukan kepada Ayah dan Ibu. Mereka sangat senang dan berkunjung ke rumah kami. Sungguh hari yang sangat menyenangkan. Buah hati yang selalu kami dambakan akan segera datang. Setiap hari aku mengelus-elus perutku dan menyanyikan Salawat Nabi untuk janin yang berada di dalam perutku ini. Mas Akhmad juga kegirangan dan sering menempelkan telinganya di perutku. Bulan demi bulan berlalu, aku cuti bekerja karena sedang mengandung. Perutku kian menjadi besar, menandakan bahwa kandunganku semakin tumbuh. Dan bayi yang berada dalam perutku ini sering kali menendang-nendang. Ketika ia menendang, aku selalu membacakan Salawat Nabi untuknya dan ia berhenti menendang. Kelak anak ini akan menjadi anak yang shaleh, berbakti kepada kedua orangtuanya dan menolong sesama. Mas Akhmad pun menunjukkan ekspresi aneh ketika bayi yang ada di dalam perutku ini menendang dan aku tertawa geli melihatnya. Aku sangat bersyukur karena Allah SWT telah mengirimkan buah hati yang akan selalu mengisi hari-hari kami.

Pada suatu sore, aku kembali berjalan-jalan di pinggir pantai agar anakku dapat merasakan angin sepoi-sepoi dan suara ombak yang berderu. Tapi ketika aku ingin beranjak pulang ke rumah, sosok nenek yang aku temui beberapa bulan lalu tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku langsung mundur beberapa langkah. Ia terus maju dan aku mundur beberapa langkah lagi.
“M, mau apa kau?” Tukasku.
Nenek itu cuma tersenyum. Dan mulai mendekatkan tangannya ke perutku. Aku langsung menepisnya.
“Apa yang kau lakukan?!” Kataku, kemudian menjauh dari nenek tersebut.
“Aku ingin sesuatu yang berada dalam perutmu.”
“Apa?! Tidak! Aku tidak akan memberikan anakku kepadamu. Lagipula apa salahku?”
“Salahmu…”
Lalu dalam sekejap nenek itu berubah menjadi perempuan dan bayangan hitam bermata merah darah yang membunuh Ibuku. Aku sangat terkejut melihatnya.
“Kau…”
“Iya. Aku lah yang membunuh Ibumu. Ibumu berjanji untuk memberikanmu kepadaku sebagai tumbal. Tapi saat ini yang aku mau adalah bayi yang ada di dalam perutmu itu.”
“TIDAK! Aku tidak akan memberikannya kepadamu!”
Nenek itu terus mendekat mencoba memegang perutku. Aku terus menjauh, berusaha untuk tidak menyerahkannya kepada nenek jahat yang berada di depanku.
“AISYAH! Menjauhlah dari nenek itu.”
Sebuah suara terdengar di telingaku, suara yang sangat familiar. Ketika kutoleh asal suara itu, kulihat mas Akhmad berdiri di pinggir dinding pasir disertai dengan seluruh penduduk dan keluargaku. Ayah dan Ibu mertuaku juga ikut. Lalu kulihat nenek itu sangat terdesak. Mas Akhmad pun mendekatiku merangkulku dan mencoba membawaku menjauh dari nenek itu. lalu seluruh penduduk yang ada di kampung kalap menyerang nenek itu.
“Kau tidak akan bahagia hidup bersama laki-laki itu Aisyah. Dia bukanlah laki-laki seperti yang kau kira. Kau akan menyesalinya.” lalu nenek itu akhirnya mati dan berubah menjadi abu yang ditiup angin laut.

Aku yang masih syok, dibawa mas Akhmad, Ayah dan Ibuku menuju rumah kami. Ketika kami berada di dalam, mas Akhmad meminta untuk membiarkanku berdua saja bersamanya. Mas Akhmad duduk di sampingku. Aku masih memikirkan kata-kata terakhir yang dikatakan nenek itu. lalu aku mulai bertanya kepada mas Akhmad.
“Mas, apa mas menyembunyikan sesuatu dariku?” Tanyaku.
Mas Akhmad terkejut dengan pertanyaanku. Lalu ia pun memegang tanganku.
“Ai, sebelumnya aku minta maaf. Kata-kata nenek itu benar. Aku bukanlah laki-laki seperti yang kau kira,”
“Sebenarnya aku bukanlah manusia sepertimu,”
Sudah kuduga. Batinku.
“Aku memang bisa dibilang manusia biasa karena menjalani kegiatan yang sama seperti manusia normal lainnya. Tapi aku beda, aku tidak memiliki raga. Dan aku sudah mengetahui bakatmu dalam melihat hal-hal aneh, makanya aku berani membawamu ke kampung ini. Apakah kau marah, Ai?”
Aku diam. Menatap wajah suamiku yang sangat polos ini. Tertera jelas rasa kecewa di wajahnya. Aku pun memegang tangannya.
“Mas, aku sudah tahu dari dulu.”
Mas Akhmad terkejut dengan perkataanku.
“Hah. Kamu sudah tahu. Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu tidak mengatakannya dari dulu?”
“Itu cuma tebakkan Ai saja, mas. Tapi ternyata tebakkan itu benar. Aku sudah merasakan hal yang berbeda padamu dan keluargamu yang sangat baik.”
Kulihat wajah mas Akhmad berubah jadi murung.
“Jadi… kamu mau kita cerai?”
“Ya Allah mas… mas… memang aku ada berkata seperti itu?”
“Ya tidak ada, sih. Tapi aku tahu kamu pasti mau minta cerai.”
“Ya tidaklah, mas. Aku sudah menerimamu apa adanya. Kamu tetap mas Akhmad milikku, aku menerimamu apa adanya. Aku menerima semua kekuranganmu. Bagiku kamu adalah orang satu-satunya yang memberikan kebahagiaan kepadaku. Dan kamu adalah suami yang hebat dan aku yakin kamu akan menjadi ayah yang hebat ketika buah hati kita nanti lahir.” Kataku, tulus. Mengeluarkan segala isi hatiku.
“Oh… Ai… aku sangat menyayangimu. Kamu adalah istri terbaik yang ada di dunia.”
Mas Akhmad memelukku dengan erat. Aku meneteskan air mataku di pelukkan mas Akhmad. Lalu tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa dari perut dan selangkanganku. Sesuatu ingin keluar.
“Aduh! Mas… perutku sakit!!” Teriakku. Mas Akhmad terkejut mendengar jeritanku.
“Jangan-jangan kamu mau melahirkan. Tunggu sebentar Ai, mas akan panggilkan Ibu dan dukun beranak.”
“Aaakkkhhh!!!”

Mas Akhmad pergi keluar sebentar untuk memanggilkan Ibu dan dukun beranak. Beberapa saat kemudian mas Akhmad datang membawa Ibu dan dukun beranak. Ibu langsung membaringkanku di atas kasur, dan dukun beranak langsung memberi instruksi kepadaku. Rasa sakit yang luar biasa menyiksaku, berusaha untuk membawa anakku melihat dunia baru bumi. Aku terus menjerit dan menyebut nama Allah SWT, berharap di berikan kemudahan dan tidak terjadi halangan apa pun. Aku terus mendorong dan mengikuti arahan dari dukun beranak tersebut. Rasa sakit sangat menyiksaku, kulihat mas Akhmad memegangi tanganku, besimpuh di sampingku.

OOEEKK!!!
Suara tangisan bayi terdengar di telingaku. Seluruh orang yang berada di sekitarku mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa begitu pula aku. Seorang anak manusia telah terlahir di muka bumi untuk mengisi hari-hariku bersama mas Akhmad. Seorang anak yang akan memberikan kebahagiaan kepada kami.
“Kamu sudah berusaha Aisyah,” Kata mas Akhmad, kemudian mengecup keningku.

Kulihat anakku sedang digendong ayahnya, kemudian ia memberikannya kepadaku. Anakku yang kutunggu-tunggu telah datang. Lalu mas Akhmad menyerukan Takbiratul Ilham sebagaimana ajaran Islam ketika bayi di lahirkan di bumi. Ketika mas Akhamd menyerukan Takbir, bayi yang berada dipelukkan aku tersenyum kecil dengan mata terpejamnya. Dan hal itu sangat memukau. Seluruh keluargaku menyaksikan pemandangan itu. Anak dari orangtua yang berbeda dunia. Tapi itulah kelebihannya, anak shaleh telah terlahir di dunia dan membawa kebahagiaan untuk semua orang.
“Mas, saatnya memberikan nama.” Ucapku.
“Menurutmu nama anak kita apa?”
“Aku tahu. Namanya adalah Muhammad Akbari.”
“Nama yang bagus Aisyah.” Sahut Ibu mertuaku.
“Iya. Nama yang bagus Ai. Akbari.”
“Ibu harap kamu akan menjadi anak yang Shaleh dan memberikan kebahagiaan kepada kami kelak. Akbar kecil.” Aku tersenyum.

Kehidupanku bersama seorang lelaki berbeda dunia tidak akan pernah kusesali. Karena lelaki itulah yang telah memeberikan kebahagiaan yang sama sekali tidak dapat kubayar dengan uang. Karena dialah orang yang dikirim Allah SWT untuk membahagiakanku. MUHAMMAD NUR

Cerpen Karangan: Meisy Pratiwi
Source:

-----

26 Mar 2014

Maher Zain - Sepanjang Hidup

Aku bersyukur kau di sini kasih
Di kalbuku mengiringi
Dan padamu ingin ku sampaikan

Kau cahaya hati
Dulu ku palingkan diri dari cinta
Hingga kau hadir membasuh segalanya
Oh inilah janjiku kepadamu

Reff:
Sepanjang hidup bersamamu
Kesetiaanku tulus untukmu
Hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
Sepanjang hidup seiring waktu
Aku bersyukur atas hadirmu
Kini dan selamanya aku milikmu

Yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
Semoga Allah berkahi kita
Kekasih penguat jiwaku
Berdoa kau dan aku di Jannah
Ku temukan kekuatanku di sisimu
Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
Oh inilah janjiku kepadamu

Repeat reff
Yakini hatiku bersamamu ku sadari inilah cinta
Tiada ragu dengarkanlah
Kidung cintaku yang abadi

Repeat reff

-----
Our Ordinary Family

25 Mar 2014

Surat Untuk Istriku

Wahai istriku, ku teringat sebuah kewajiban yang harus ku tunaikan sebagai seorang suami, sebagai seorang nahkoda dalam kapal kita, sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga kita, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah ayat dan hadist yang tak hanya sekali ku mendengarnya. Allah Ta’aala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
 “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (An Nisa :34)

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فالرَّجُلُ رَاعٍ فِي بَيْتِه وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ رَعِيَّتِهِا
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami pemimpin dirumahnya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai istriku, ku akan berusaha menjadi suami yang baik, yang menyayangimu yang berusaha untuk berta’awun (saling tolong menolong) dalam kebaikan. Semoga aku bisa merealisasikan sebuah ayat, dimana Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikkan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah:2)

atau ku bisa manjadi seperti seorang hamba yang Allah rahmati, karena membangungkan istriku untuk shalat malam. sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebuah hadist

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى ثُمَّ أَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ
“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu sholat kemudian membangunkan istrinya untuk shalat, apabila enggan bangun ia memercikinya dengan air diwajahnya” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i di hasankan oleh Syaikh al-Albani)

Wahai istriku, ku akan selalu berusaha membuat dirimu senang, sebagaimana  ku senang jika diperlakukan seperti itu. Diantaranya ku akan berusaha selalu tampil rapih, wangi dihadapan dirimu. Sebagaimana ku senang jika ku diperlakukan seperti itu.

 Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ
“dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (an-Nisa’:19)

Berkata Ibnu Abbas rahimahullah: “Aku senang berhias untuk istriku sebagaimana aku senang dia berhias untukku.” (silahkan lihat al-Jaami’ lil Ahkamil Qur’an)

Wahai istriku, jika engkau melihat dari diriku rasa cemburu itu bukti rasa cintaku padamu. Yang dengan itu, aku berusaha menjaga dan mencintaimu, semoga dengan sebab kecemburuanku yang syar’i menjadi sebab terjaganya dirimu, ku ingin seperti Sa’ad bin Ubadah bahkan ku ingin seperti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Berkata Sa’ad bin Ubadah : “Seandainya aku melihat seorang bersama istriku, niscaya aku akan menebasnya dengan pedang yang tajam”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu dari padanya, dan Allah lebih cemburu dari padaku” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai istriku, engkau dalam pandanganku seorang yang sangat berharga bagi diriku, sosok yang luar biasa, ketaatanmu yang membuat diriku tambah mencintai dirimu. Engkau diantara anugrah yang terbesar yang Allah berikan kepada diriku, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 3716)

Wahai istriku, kebaikanmu begitu besar kepada diriku, kasih sayang dan kelembutanmu, ketaatan dan kesetiaanmu, pelayanan dan pengorbananmu begitu terasa oleh diriku, wahai istriku, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan masukkanmu kedalam surga Nya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا ، وَصَامَتْ شَهْرَهَا ، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا ، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا : ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”  (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh syaikh al-Albani)

Wahai istriku, ingatkanlah jika suamimu keliru, jika ada hakmu yang terlalaikan, wahai istriku jangan engkau ragu untuk menasehati jika suamimu keliru, jika suamimu salah, wahai istriku  ku ingin rumah tangga kita dibangun diatas saling menasehati didalam ketaatan kepada Allah, karena atas dasar inilah agama kita dibangun. sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda

الدِّينُ النَّصِيحَةُ
Agama itu adalah nasehat” (HR Muslim)

Wahai istriku, ku ingin hubungan kita dibangun atas saling percaya dan saling berkhusnudzan (berberbaik sangka) satu dengan yang lainnya,  karena dengan sebab inilah akan menutup celah hal-hal yang akan menimbulkan hubungan kita tidak harmonis. Sebelum itu agama kita melarang kita untuk berburuk sangka. Allah Ta’aala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.” (al-Hujurat:12)

Wahai istriku, sebagai seorang suami ku ingin mengajarkan perkara agama kepada dirimu, tentang permasalahan tauhid, sholat, puasa dan permasalahan agama yang lainnya, atau mari kita bersama-sama pergi kemajelis ilmu yang membahas perkara agama dengan pemahaman yang benar, karena hal ini adalah diantara kewajibanku sebagai seorang suami, sebagaimana Allah Ta’aala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim:6)

Wahai istriku, ku akan melangkahkan kaki ini, mengerahkan tenaga mencari rezeki yang halal yang Allah tetapkan untuk diriku, sebagai tanggung jawab seorang suami untuk menafkahi anak dan istrinya, sebagaimana Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللهُ لا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (ath-Thalaq:7)

Wahai istriku, ku akan selalu berusaha bergaul dengan pergaulan yang baik dengan dirimu, dengan kelembutan dan kasih sayang, dengan tutur kata yang sopan dan etika yang baik, dengan mendengar dan menghargai pendapatmu, dengan membantu dan meringankan pekerjaanmu, dengan bersikap yang baik dan menjaga perasaanmu, wahai istriku maafkan suamimu jika masih jauh dari hal itu, ku ingin berusaha berbuat yang terbaik untuki dirmu.

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعْرُوفِ
“dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (an-Nisa’:19)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: “Perbaguslah ucapan kalian kepada mereka, perbaguslah perbuatan kalian dan penampilan kalian sesuai kemapuan kalian, sebagaimana kalian menyukai itu dari mereka. Maka lakukanlah untuk mereka yang serupa. Sebagaimana Allah berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالمَعْرُوفِ
“dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 228) (Tafsir Ibni Katsir)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dengan istrinya, dan aku orang yang paling baik dengan istriku.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih)

Wahai istriku, ku ingin engkau akrab dengan kedua orang tuaku. Ku ingin mereka menyayangimu seperti anaknya sendiri, wahai istriku mulailah dengan berlaku lemah lembut kepadanya, membantu pekerjaannya, niscaya engkau akan disayang seperti anaknya sendiri.

Wahai istriku semoga Allah menjaga dan melanggengkan rumah tangga kita diatas ketaatan kepada Allah hingga akhir hayat kita, dan memasukan kita kedalam surganya.

-----
Our Ordinary Family

Source : Ingin belajar islam

Surat Untuk Suamiku

Wahai suamiku…, kutulis surat ini dengan kehangatan cinta dan kasih sayang kepadamu. Semoga Allah senantiasa menjaga kita.
 
Wahai Suamiku, engkau adalah pemimpin rumah tangga kita, aturlah kami dengan aturan Allah, pimpinlah kami untuk taat kepada-Nya, bimbinglah kami terhadap apa yang maslahat (baik) untuk kami. Insya Allah engkau akan mendapatiku dan anak-anak menghormatimu, memuliakanmu dan taat kepadamu. Itulah kewajiban sebagai seorang yang dipimpin kepada yang memimpin.

Allah Ta’aalaa berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (an-Nisa’:34)


وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah : 228)

Wahai suamiku, engkau adalah anugerah dan kenikmatan yang besar yang Allah karuniakan kepadaku. Ketika banyak para wanita yang belum menikah, Allah mengaruniakanku seorang suami shalih -Insya Allah- seperti dirimu. Ketika banyak dari para wanita yang mempunyai suami yang tidak memperhatikan agama istrinya, Allah memberikanku seorang suami yang selalu menyemangatiku untuk hadir ke majelis-majelis ilmu. Ketika banyak suami yang acuh-tak-acuh dengan perbuatan-perbuatan istrinya yang salah, Allah memberikan kepadaku seorang suami yang selalu menasehatiku. Ketika banyak suami yang tak peduli halal dan haram ketika ia mencari rezeki, Allah memberikan kepadaku seorang suami yang merasa cukup dengan yang halal. Banyak lagi kebaikan dan keutamaanmu, apakah pantas  bagiku untuk tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat dirimu, apakah pantas bagiku untuk tidak berterima kasih  kepadamu dengan segala kebaikanmu, kasih sayangmu, perhatianmu, jerih payahmu untuk diriku…


Allah Ta’aala berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Allah mema’lumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sagat pedih.” (Ibrahim : 7)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Diperlihatkan kepadaku neraka, aku tidak pernah melihat pemandangan seperti hari ini sedikitpun. Dan aku melihat kebanyakkan penghuninya wanita. Para sahabat bertanya: “kenapa seperti itu wahai Rasulullah? Dikarenakan kekufuran mereka. Dikatakan kepada beliau, Mereka kufur kepada Allah?

Beliau bersabda:

“Mengkufuri suami (mendurhakai suami), mengingkari kebaikkannya. Kalau seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat darimu sesuatu (kesalahan). Dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikkan sedikitpun” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai suamiku, segala puji bagi Allah sematalah kemudian karena sebab pendidikan orang tuaku yang baik, yang telah mempersiapkan dan mendidikku untuk menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang baik, sehingga aku sadar bahwasanya pernikahan bukanlah surga yang tak ada problema, kesusahan dan kesulitan. Dan juga bukanlah neraka yang ada hanya kesusahan dan kesengsaraan. Semoga dengan sebab itu aku lebih siap dan tegar jika kesusahan, kesulitan datang menerpa. Wahai suamiku, Insya Allah engkau akan mendapatiku menjadi pendamping  yang kokoh dalam mengarungi kehidupan rumah tangga ini, hanya kepada Allahlah aku memohon pertolongan.

Allah Ta’aala berfirman :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Qs. al-Fatihah : 5)

Wahai suamiku, banyak hal yang tidak diperhatikan oleh sebagian istri tentang perkara-perkara yang membuat suaminya senang dan menghindari sesuatu yang membuat suaminya tidak suka. Di antaranya tampil apa adanya di depan suaminya, tidak mau berdandan dan mempercantik diri. Wahai suamiku, katakanlah kepadaku apa yang membuat dirimu senang sehingga aku berusaha untuk melakukannya dan katakanlah sesuatu yang membuatmu benci sehingga aku menjauhinya.

Dan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
“Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan suami apabila ia melihatnya, mentaati apabila suami menyuruhnya, dan tidak menyelisihi atas dirinya dan hartanya dengan apa yang tidak disukai suaminya.” (HR. An-Nasa’i, Hakim dan Ahmad. Berkata Al-Hakim “Shahih menurut syarat Muslim” dan disepakai Imam adz Dzahabi dan hasankan oleh Syaikh al-Albani didalam Silsilah Ash Shahihah 4/453)

Wahai suamiku, sungguh sebuah keburukan kalau aku tidak bisa menerima kekurangan dirimu di mana kelebihanmu tak sebanding dengan kekuranganmu. Padahal aku tahu tak ada seorang yang sempurna. Apakah pantas aku bersikap seperti itu, sedangkan engkau ridha dan bershabar dengan berbagai kekurangan diriku.

Wahai suamiku, ketika aku merasa lelah dalam mengurus pekerjaan rumah, aku teringat kisahnya seorang wanita yang mulia, pemimpin wanita di surga yang merasa keletihan ketika ia mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Seorang wanita shalihah yang memiliki jiwa yang mulia, hati yang bersih dan akal yang terbimbing oleh syari’at yang agung. Semoga aku bisa meneladani keshabaran Fathimah putrinya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bukan malah meneladani wanita yang akalnya menjadi tempat sampah pemikiran barat.

“Suatu ketika Fathimah mengeluh kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas kelelahan yang ia rasakan sebab ia menarik alat penggiling hingga berbekas di kedua tangannya, menimba air dengan qirbah (tempat air pada masa itu) hingga qirbah membekas di lehernya, dan menyalakan api di tungku hingga mengotori pakaiannya. Itu semua terasa berat baginya. Lalu apa tanggapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu? Beliau menasehati Fathimah dan Ali bin Abi Thalib agar bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid 33 kali dan bertakbir 33 kali setiap hendak tidur .  Beliau bersabda kepada keduanya bahwa itu semua lebih baik dari pembantu (yang Fathimah minta –ed).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai suamiku, seharusnya setiap istri sadar, termasuk diriku. Bahwa setiap suami mempunyai posisi dan status sosial yang berbeda. Ada di antara suami yang sangat dibutuhkan oleh keluarganya. Ada juga seorang suami yang memiliki kedudukan yang penting sehingga sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Ada juga seorang suami yang menjadi seorang da’i sehingga sangat dibutuhkan oleh ummat. Seharusnya setiap istri memperhatikan hal ini. Jika dia seorang suami yang sangat dibutuhkan keluarganya maka bantulah ia, dan relakanlah sendainya hak waktumu sedikit terkurangi. Bukan malah menghalangi dari keluarganya. Kalau dia seorang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat atau ummat, maka bantulah ia, semangatilah ia dan berilah nasehat untuk ikhlas dalam melayani ummat dan bershabar atas mereka. Bukan malah bertindak seperti anak kecil yang merongrong suaminya hanya karena dia tidak selalu berada di sisinya. Atau sesekali ketika lagi bersendau gurau denganmu ia mengangkat telpon untuk sekedar memberikan nasehat atau saran kepada ummat. Wahai suamiku, semoga aku bisa memperhatikan hal ini. Dan aku pun sadar hakku telah kau tunaikan dengan baik.

Wahai suamiku, aku teringat sebuah ayat yang seharusnya membuatku untuk berfikir dan merenungi sejauh mana aku merealisasikan ayat ini atau malah sebaliknya.

Allah Ta’aala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa.” (Qs. al-Maidah : 2)

Atau sebuah hadits dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ ثُمَّ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
“…Semoga Allah merahmati seorang wanita yang shalat malam, dan membangunkan suaminya kemudian suaminya shalat, jika suaminya enggan dia memerciki air pada wajahnya.” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i di hasankan oleh Syaikh al-Albani)

Ya Allah, jadikanlah aku istri shalihah yang membantu suamiku untuk taat kepada-Mu, berdakwah di jalan-Mu dan melakukan berbagai amalan kebaikan bukan malah sebaliknya menjadi fitnah baginya.

Allah Ta’aala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“ Wahai orang-orang yang beriman, ‘Sesungguhnya di antara istri-itrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.’” (at-Taghabun : 14)

Wahai suamiku, rezeki yang halal sudah sangat cukup bagiku. Nafkah yang kau berikan kepadaku sebagai bentuk tanggungjawabmu sebagai seorang suami sangatlah besar walaupun menurut sebagian orang dinilai kecil. Keindahan dan kebahagian hidup ini adalah ketika kita bisa bersyukur dan hidup dengan qana’ah. Ya Allah, aku berlindung kepadamu menjadi istri yang tidak pandai bersyukur yang bisanya hanya menuntut, terlebih lagi menjadi sebab suaminya mengambil yang haram.

Dan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ , وَرُزِقَ كَفَافًا , وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا أَتَاهُ
 “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, dan diberi rezeki yang cukup dan Allah memberikan kepuasan atas apa yang telah dikaruniakan kepadanya.“ (HR. Muslim)

Dan dalam hadits yang lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ
“Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah menjaga kehormatan dirinya dan barang siapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberi kecukupan baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

لَا يَنْظُر اللَّه إِلَى اِمْرَأَة لَا تَشْكُر لِزَوْجِهَا , وَهِيَ لَا تَسْتَغْنِي عَنْهُ
“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya dan dia  tidak merasa cukup darinya.” (HR. Nasa’i, al-Baihaqi, Haitsami, al-Bazzar, Ath-Thabrani dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani)

Wahai suamiku, perkenankanlah aku untuk meminta maaf atas kekurangan dalam melayanimu. Karena itulah adalah tugas dan kewajibanku.  Hanya kepada Allah-lah aku memohon pertolongan untuk taat dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada suamiku.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا ، وَصَامَتْ شَهْرَهَا ، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا ، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا : ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”  (HR. Ahmad, Ibnu Hibban di shahihkan oleh syaikh al-Albani)

Wahai suamiku, maklumilah kalau engkau melihat diriku cemburu kepadamu karena inilah tabiat seorang wanita, disamping aku sangat mencintaimu. Ibunya kaum mukminin pun merasakan cemburu di hatinya, Sebagaimana suatu  ketika Aisyah berkata:

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهَا وَقَدْ أُوحِيَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ لَهَا فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ
“Aku tidak pernah merasa cemburu kepada istri-istri Rasulullah sebagaimanna cemburuku kepada Khadijah, dikarenakan seringnya Rasulullah menyebutnya dan memujinya. Serta telah diwahyukan kepada Rasulullah untuk memberi khabar gembira untuk Khadijah berupa sebuah rumah disurga yang terbuat dari berlian” (HR. Bukhari no 5229)

Insya Allah, kecemburuanku adalah kecemburuan yang wajar yang merupakan tabiat seorang wanita, bukan kecemburuan yang menghalangi suaminya untuk taat kepada Allah, atau kecemburuan yang menjadi sebab suaminya terjatuh kepada yang haram, atau bukan kecemburuan yang menghalangi suaminya untuk mengambil haknya untuk berpoligami. Tidak wahai suamiku…!!. Sungguh aku bukan seorang istri yang merampas hak suaminya dengan menghalanginya untuk berpoligami, jika memang dia menginginkan dan mampu untuk hal itu. Tetapi, aku -Insya Allah- seorang istri yang berusaha meneladani para istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, istri  para istri shahabat dan para istri shalihah yang memegang teguh syari’at ini termasuk syari’at poligami. Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman :

فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
“Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.“ (an-Nisa’ : 3)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahdzab : 36)

Wahai suamiku, anak-anak kita adalah buah hati kita, buah cinta kita. Karunia yang Allah karuniakan kepada kita, sekaligus merupakan amanah yang Allah amanahkan kepada kita. Insya Allah, aku akan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Aku akan mendidiknya untuk mentauhidkan Allah, aku akan mendidiknya agar taat kepada Allah dan Rasul-Nya, aku akan mendidiknya agar berbakti kepada orangtuanya. Semoga Allah mengkaruniakan anak yang shalih dan shalihah kepada kita. Amiin.

Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a.” (Ali Imran : 38)

Wahai suamiku, tentu sebagai seorang muslimah aku mendambakan surga Allah dan khawatir terhadap neraka-Nya. Aku sering teringat sebuah hadits di mana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Perhatikanlah posisimu (hubunganmu –ed) terhadap suamimu sebab dia adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad no 19025 dan al-Hakim dan selainnya, ia menyatakan hadits shahih dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi)

Dan di antara jalan menuju surga adalah dengan mentaatimu.
Sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا ، وَصَامَتْ شَهْرَهَا ، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا ، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا : ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”  (HR. Ahmad, Ibnu Hibban di shahihkan oleh syaikh al-Albani)

Dan sebaliknya di antara jalan menuju neraka adalah bersikap nusyuz kepadamu, durhaka dan tidak taat kepadamu. Wahai suamiku, Insya Allah aku akan selalu taat dan berbuat baik kepadamu dengan menjaga kehormatanku, menjaga diriku dari menyakitimu, tidak lalai melayanimu, tidak menggambarkan sosok wanita di hadapanmu, tidak keluar rumah tanpa seizinmu, tidak menyebarkan problema rumah tangga kepada orang lain dan tidak menolak ketika engkau mengajakku berhubungan.

Sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُءُوسَهُمَا : عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ ، وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ
“Dua orang yang tidak lewat shalat mereka dari  kepala mereka: seorang budak  yang lari dari tuan (majikanya) sampai dia kembali, seorang istri yang bermaksiat (tidak taat) kepada suaminya sampai dia kembali (taat).” (HR Ath-Thabrani, al-Hakim dihasankan oleh syaikh al-Albani)

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu sang istri tidak mau mendatanginya, malaikat melaknat sang istri sampai datang waktu shubuh.” (HR. Bukhari)

Wahai suamiku, aku mencintai dan menyayangimu, dekaplah aku di kehangatan cinta dan kasih sayangmu, belailah aku di kelembutan perhatianmu, hiburlah  aku di canda dan tawamu semoga Allah melanggengkan rumah tangga kita dan mengumpulkan kita di dalam surga-Nya. Dari istri yang mencintai dan menyangimu.

-----