18 Apr 2015

LARANGAN MENYERUPAI BINATANG DALAM SHALAT

Allâh Azza wa Jalla telah memuliakan bani Adam dengan menciptakan mereka dalam rupa terbaik dan paling sempurna. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. [al-Isrâ`/17:70]

Juga firman-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [at-Tîn/95:4]

Maksudnya, manusia itu bisa berjalan tegak di atas dua kakinya, bisa makan dengan dua tangannya, sementara makhluk lain seperti binatang misalnya, mereka berjalan dengan empat kaki dan makan dengan mulut. Allâh Azza wa Jalla juga memberikan pendengaran, penglihatan dan hati. Dengan ketiga organ tersebut, manusia bisa memahami segala sesuatu, membedakan antara urusan duniawi dan ukhrawi, bisa mengetahui manfaatnya, kekhususannya dan bahayanya.

Seyogyanya, seorang manusia menyadari kemuliaan ini, yang hanya diberikan kepada manusia oleh Allâh Azza wa Jalla juga menjaga dirinya agar tidak meniru gaya-gaya binatang yang lebih rendah dibandingkan manusia. Terutama saat melaksanakan ibadah shalat yang merupakan kondisi termulia seorang hamba.

Dalam hadits disebutkan perintah agar manusia tidak menyerupai semua binatang dalam gerakan-gerakan shalat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum Muslimin menoleh sebagaimana gaya musang menoleh, melarang duduk sebagaimana duduknya binatang buas, sujud dengan cepat sebagaimana cepatnya burung saat mematuk dan lain sebagainya. Saat shalat, kaum Muslimin bermunajat kepada Rabb mereka disamping shalat juga sebagai penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya. Oleh karena itu, semestinya ketika melaksanakan shalat, ia menunaikannya dengan cara terbaik.[1] Terlebih lagi, gerakan-gerakan yang menyerupai gaya binatang itu memiliki hubungan erat dengan ketidakkhusyu'an pelaku. Bagaimana ia bisa khusyû', jika dalam melakukan shalat terburu-buru? Padahal, khusyû' dalam shalat termasuk perkara yang dituntut oleh agama. Khusyû' artinya tenang, tenteram, tidak terburu-buru, dan merendahkan diri.

Untuk meraih kekhusyû'an dibutuhkan berbagai usaha, antara lain dengan tidak menyerupai gerakan atau keadaan binatang saat menunaikan shalat. Bagaimanakah gerakan-gerakan yang menyerupai gerakan binatang tersebut ? Berikut perinciannya.

1. Larangan Turun Sujud Seperti Turunnya Onta.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Jika seseorang dari kamu sujud, maka janganlah ia turun sujud sebagaimana mendekamnya onta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya".[2]

Perintah turun sujud dengan mendahulukan kedua tangan ini merupakan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , juga perbuatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar Radhyallahu anhuma :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ: أَنَّهُ كَانَ يَضَعُ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ . وَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ ذَلِكَ

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa ia biasa meletakkan dua tangannya sebelum dua lututnya. Dan ia mengatakan, "Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya".[3]

Adapun hadits Wail bin Hujr Radhiyallahu anhu yang memberitakan bahwa ia melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun sujud dengan meletakkan dua lututnya sebelum dua tangannya, maka hadits ini dha'if (lemah). Demikian juga anggapan bahwa matan (isi) hadits Abu Hurairah di atas maqlub (terbalik) adalah tidak benar.[4]

2. Larangan Menghamparkan Tangan Seperti Binatang Buas.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ

Dari Anas bin Malik, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, "Seimbanglah di dalam sujud, dan janganlah seseorang dari kamu menghamparkan kedua lengannya sebagaimana terhamparnya (kaki) anjing". [HR al-Bukhâri, no. 822, dan Muslim, no. 493].

Hadits ini merupakan dalil larangan menghamparkan dua lengan pada waktu sujud, yaitu meletakkan dua lengan di tanah (lantai atau tempat sujud, Pen). Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk mengangkat dua lengan (ketika sujud), sedangkan yang diletakkan di tanah adalah dua tapak tangannya. Orang yang shalat dilarang melakukan itu, karena keadaan itu adalah keadaan atau sifat orang yang malas. Sementara orang yang sedang shalat dituntut berada dalam keadaan paling bersemangat dan menghindakan diri dari semua keadaan yang menimbulkan kemalasan dalam semua rukun-rukun shalat. Disamping juga, keadaan itu menyerupai binatang buas dan anjing. Adalah suatu yang tidak pantas bagi manusia yang telah dimuliakan dan diutamakan oleh Allâh Azza wa Jalla menyerupai binatang, apalagi dalam keadaan shalat.[5]

3. Larangan Menoleh Seperti Musang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَنَهَانِي عَنْ ثَلَاثٍ أَمَرَنِي بِرَكْعَتَيْ الضُّحَى كُلَّ يَوْمٍ وَالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَنَهَانِي عَنْ نَقْرَةٍ كَنَقْرَةِ الدِّيكِ وَإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاءِ الْكَلْبِ وَالْتِفَاتٍ كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku dengan tiga perkara dan melarangku dari tiga perkara. Memerintahkan aku untuk melakukan shalat dhuha dua raka'at setiap hari, witir sebelum tidur, dan puasa tiga hari dari setiap bulan. Melarangku dari mematuk seperti patukan ayam jantan, duduk iq'â seperti duduk iq'â anjing, dan menoleh sebagaimana musang menoleh".[6]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

لَا يَزَالُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ فِي صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ فَإِذَا الْتَفَتَ انْصَرَفَ عَنْهُ

Allâh senantiasa berada di hadapan seorang hamba ketika ia sedang shalat, selama ia tidak menoleh. Jika ia menoleh, maka Allâh berpaling darinya. [HR Abu Dawud, no. 909].

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, "Perumpamaan orang yang menoleh di dalam shalatnya dengan pandangan matanya atau hatinya (ialah) seperti seseorang yang dipanggil oleh seorang raja. Raja tersebut mendudukkan orang itu di hadapannya, mulai menyerunya, dan berbicara kepadanya. Namun pada saat itu orang tersebut menoleh ke arah kanan dan kiri dari sang raja. Hatinya juga berpaling dari sang raja, sehingga ia tidak memahami pembicaraan sang raja. Maka apakah perkiraan orang itu terhadap tindakan raja kepadanya. Bukankah tingkatan paling rendah, ia akan meninggalkan sang raja dalam keadaan dimurkai, dijauhkan darinya, dan jatuh martabatnya di hadapan sang raja?"[7]

Larangan menoleh ini dikecualikan dengan beberapa hal –jika dibutuhkan- seperti melirik dengan tanpa memutar leher, menolehnya imam kepada makmum karena suatu keperluan, dan meludah tiga kali ke arah kiri untuk menolak bisikan setan.[8]

4. Larangan Sujud Dengan Cepat Seperti Ayam Mematuk.

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الأَشْعَرِيِّ ، أَن ّرَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلا لا يُتِمَّ رُكُوعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ وَهُوَ يُصَلِّي ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَثَلُ الَّذِي لا يُتِمُّ رُكُوعَهُ ويَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ ، مَثَلُ الْجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لا يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا

Dari Abu ‘Abdullah al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku'nya dan mematuk di dalam sujudnya ketika ia sedang shalat, lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang ini mati dalam keadaannya ini, maka ia benar-benar mati tidak di atas agama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ," lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku'nya dan mematuk di dalam sujudnya, (ialah) seperti orang lapar makan satu biji kurma, padahal dua biji kurma saja tidak bisa mencukupinya”.

Abu Shâlih (seorang perawi di dalam sanad hadits ini) berkata, "Aku bertanya kepada Abu Abdullâh, 'Siapakah yang telah menceritakan hadits ini kepadamu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Dia menjawab, “Para komandan tentara, ‘Amru bin al-‘Ash, Khalid bin Walid, dan Syurahbil bin Hasanah; mereka semua telah mendengarnya dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”.[9]

5. Larangan Duduk Iq'a Seperti Binatang Buas.
Dalil larangan ini ialah hadits yang telah disebutkan di atas (point ke tiga), dan iq'a ini juga disebut dengan 'uqbatusy-syaithan.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ

Dari 'Aisyah, ia berkata, "Dan beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) melarang 'uqbatusy-syaithan, juga melarang seseorang menghamparkan kedua lengannya seperti terhamparnya kaki binatang buas". [HR Muslim, no. 498].

Duduk iq'â dalam shalat itu ada dua macam :
Pertama : iq'â yang terlarang. Yaitu cara duduk seperti binatang buas, kera atau anjing. Cara duduk ini ialah dengan menegakkan kedua betis, menempelkan pantat ke tanah (lantai) dan meletakkan kedua tangan di tanah (lantai).

Kedua : iq'a yang boleh. Yaitu meletakkan pantat di atas dua tumit pada waktu duduk di antara dua sujud. Hal ini disebutkan di dalam beberapa hadits.[10]

6. Larangan Menggerakkan Tangan Ketika Salam Seperti Ekor Kuda.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا سَلَّمْنَا قُلْنَا بِأَيْدِينَا السَّلَامُ عَلَيْكُمْ , السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَنَظَرَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ تُشِيرُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ إِذَا سَلَّمَ أَحَدُكُمْ فَلْيَلْتَفِتْ إِلَى صَاحِبِهِ وَلَا يُومِئْ بِيَدِهِ

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu anhu, ia berkata, "Aku shalat bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kami dahulu jika salam (dari shalat), kami mengisyaratkan dengan tangan kami 'as-salaamu 'alaikum, as-salaamu 'alaikum,' kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kami, lalu beliau bersabda, 'Mengapa engkau memberi isyarat dengan tanganmu, seolah-olah ekor-ekor kuda yang tidak tenang ? Jika seseorang dari kamu salam (dari shalatnya), hendaklah ia menoleh kepada saudaranya, dan janganlah ia memberikan isyarat dengan tangannya'." [HR Muslim, no. 431, dan lain-lain].

Kami sering melihat ada sebagian orang melakukan shalat, ketika salam, ia membuka telapak tangannya ke arah kanan dan kiri. Perbuatan seperti ini termasuk di dalam larangan hadits ini. Sepantasnya mereka mempelajari tata cara shalat dengan baik supaya dapat melakuan shalat itu sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Demikian ini sedikit keterangan tentang larangan menyerupai keadaan atau gerakan binatang di dalam shalat. Semoga bermanfaat bagi kita. Wallâhu a'lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_____
Footnote
[1]. Lihat Ta'zhîmush-Shalât, 79.
[2]. HR Abu Dawud, no. 840; Nasa-i, juz 2 hlm. 207; Ahmad, 2/381; dan lain-lain. Dishahîhkan oleh Imam Nawawi, Zarqani, 'Abdul-Haq al-Isbili, Syaikh Ahmad Syakir, al-Albani, dan Salim al-Hilali, dan lain-lain. Lihat Mausû'ah al-Manâhi asy-Syar'iyyah, 1/517.
[3]. HR Bukhari secara mu'allaq, dan diwashalkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, al-Baihaqi, dan lainnya. Syaikh Salim al-Hilali berkata, "Sanadnya shahîh". Lihat Mausu'ah al-Manahi asy-Syar'iyyah, juz 1 hlm. 517.
[4]. Lihat pembahasan masalah ini dalam Irwaul-Ghalil, karya Syaikh al-Albani, no. 357; Nahyu Shuhbah, karya Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini, dan Mausu'ah al-Manahi asy-Syar'iyyah, juz 1 hlm. 516-520 karya Syaikh Salim al-Hilali.
[5]. Lihat Minhatul-‘Allâm fi Syarh Bulughil-Maram, Ilahyah, 1/30-31, karya Syaikh Dr. Abdullâh al-Fauzan.
[6]. HR Ahmad, juz 2 hlm. 311, no. 8044; Abu Ya'la, 2619; al-Baihaqi, juz 2, no. 120. Syaikh Salim berkata, "Hasan dengan jalan-jalannya", 527-528.
[7]. Al-Wabilush-Shayyib, Darul-Bayan, hlm. 36. Dinukil dari 33 Sabab lil-Khusyu' fish-Shalat, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Munajjid, hlm. 52.
[8]. Lihat Mausu'ah al-Manahi asy-Syar'iyyah, 1/528-529.
[9]. HR Thabrani dalam Mu'jamul-Kabir, juz 4 hlm. 158, no. 3748. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jami', no. 5492.
[10]. Lihat Mausu'ah al-Manahi asy-Syar'iyyah, 1/529-532.


15 Apr 2015

Anda yang Laki Laki Akan Menangis Melihat Video Ini

 

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke MASJID.

Betapa banyak orang yg kaya raya tidak sanggup utk mengerjakannya. Jangankan sehari lima waktu, seminggu sekali pun terlupa. Tidak jarang pula seumur hidup, tidak pernah singgah ke sana.

Orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu melkukannya. Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitasdi Eropa,Australia ataupun Amerika.

Mampu melangkahkan kaki ke Jepang,cina dan Korea dgn semangat yg membara,namun ke masjid, tetap saja perjalanan yg tidak mampu mereka tempuh, walaupun telah bergelar Dr. Filsafat

Pemuda yg kuat dan bertubuh sehat yg mampu menakluki puncak Gunung Guntur Garut dan Cikuray garut juga Everest pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid.

Alasan mereka pun beragam. Ada yg berkata sebentar lagi, ada yg berkata takut dikata alim.
Maka berbahagialah dirimu wahai anakku. Bila dari kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid.

Karena Bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yg paling kami banggakan selain daripada perjalananmu ke masjid.

Biar ku beritahu rahasianya kepadamu. Sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan utk menemui Rabmu. Itulah perjalanan yg diajarkan oleh nabi serta perjalanan yg akan membedakanmu dengan orang-orang yg lupa akan Rabnya.

Maka lakukanlah walaupun engkau harus merangkak dalam gelap subuh, demi mengenal Rabbmu.

4 Mar 2015

Gangguan Setan Ketika Shalat

"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (Taat)." (QS. Al A'raf: 16-17).

Seperti itulah janji setan atau iblis untuk selalu mencari cara agar dapat menyesatkan manusia, dan kira setan menggoda manusia hanya untuk urusan duniawi nya saja, karena setan kerap menggoda atau mengganggu orang-orang saat beribadah kepada Allah SWT.

Saat beribadah setan masih bisa masuk dengan cara merusak amal ibadah tersebut. Setan melakukannya dari awal sebelum ibadah dimulai dan dilanjutkan ketika ibadah berlangsung atau setelah ibadah itu ditunaikan. Contohnya ketika kita shalat, setan sering kali merusak konsentrasi kita agar pikiran kita tidak fokus dan tidak khusyu.

Berikut 10 gangguan ketika Shalat :


1. Ketika kita melaksanakan shalat dan membaca Takbiratul Ihram berlangsung.

Allahu Akbar, kadang kala kita merasa ragu, apakah takbir yang kita lakukan itu sah ataupun belum sah, sehingga kita mengulanginya lagi membaca takbir dan kadang-kadang perasaan itu terus muncul hingga hampir imam rukuk.

Maka dalam hal ini Ibu Khaidir bahwa yang termasuk tipu daya setan yang banyak menganggu adalah was-was dalam bersuci atau berwudhu dan niat pada saat takbiratul ikhram dalam shalat sehingga perasaan was-was tersebut membuat perasaan kita terus tersiksa.

2. Hadirnya pikiran yang memalingkan Fokus.

Ketika kita Shalat adalah dengan menghadirkan pikiran yang memalingkan pikiran fokus kita. Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Apabila dikumandangkan adzan Shalat, setan akan berlari seraya terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar suara adzan. Ketika muazin selesai adzan, ia kembali lagi dan jika iqamat dikumandangkan dia berlai. Ketika selesai iqamat, dia kembai. Ia akan selalu bersama orang yang Shalat seraya berkata kepadanya: 'Ingatlah apa yang tadinya kamu ingat...." (HR. Bukhari).

3. Tidak fokus ketika membaca bacaan dalam shalat.

Ketika kita membaca bacaan shalat, setan kerap kali mengganggu pikiran kita sehingga kita terkadang lupa bacaan Shalat yang kita baca.

Utsman bin Abdul Aziz datang kepada Rasulullah dan mengadu, "Wahai Rasulullah sesungguhnya setan hadir dalam shalatku dan membuat bacaan ku salah", kemudian Rasulullah menjawab, "Itulah setan yang di anggap Kinzip".

Maka Rasulullah SAW bersabda: "Ketika kamu merasakan kehadirannya, ludahlah kekiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah. Akupun melakukan hal itu dan Allah SWT menghilangkan gangguan itu dariku".(HR. Muslim).

4. Lupa jumlah rakaat shalat yang dikerjakan.

Setan membuat kita lupa jumlah rakaat shalat yang sedang kita kerjakan. Abu Hurairah Huanhu bersabda: "Jika seorang dari kalian Shalat, setan akan datang kepadanya untuk menggoda sampai mereka tahu berapa rakaat yang dikerjakan. Apabila seorang dari kalian mengalami hal itu, hendaklah ia sujud dua kali (Sujud Sahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru mengucapkan salam." (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Melakukan gerakan yang tidak perlu.

Setan juga mengganggu saat kita shalat dengan melakukan gerakan yang tidak perlu. Seperti jaman dahulu dikisahkan bahwa, ada seorang sahabat yang sedang bermain kerikil ketika sedang tasyahud kemudian ia membolak-balikan nya.

Melihat Ibu Umar segera menegurnya setelah selepas Shalat dengan berkata: "Jangan bermain kerikil ketika Shalat, karena perbuatan tersebut berasal dari Setan, tapi kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW", kemudian orang itu bertanya: "Apa yang dilakukan Rasulullah ?" kemudian Ibu Umar menjawab: "Meletakkan tangan kanan nya di atas paha dengan jari telunjuk yang menunjuk ke arah kiblat atau tempat Sujud" demikianlah apa yang saya lihat Rasulullah SAW, diriwayatkan dalam hadist At Tirmidzi.

6. Melihat ke kiri atau ke kanan ketika Shalat.

Sadar atau tidak, kita seseorang melihat ke kiri atau ke kanan ketika shalat, padahal ia sedang melaksanakan Shalat. Itu akibat dari godaan Setan, karena itu setelah Takbiratul Ikhram pusatkan pandangan kita pada satu titik yaitu tempat sujud sehingga kita tetap fokus dan pikiran kita tidak dicuri setan.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah dia berkata : "Saya bertanya kepada Rasulullah hukum melihat ketika Shalat", Rasululah menjawab: "Itu adalah curian setan pada shalat kepada seorang hamba".(HR. Bukhari)

7. Setan membuat kita Menguap dan mengantuk ketika Shalat.

Rasulullah SAW bersabda: "Menguap ketika Shalat itu dari setan. Karena itu, ketika kamu ingin menguap, tahanlah" (HR. Thabrani). dan dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda: "Adapun menguap itu datangnya dari setan, hendaklah seseorang mencegahnya (menahannya) selagi bisa. Ketika ia berkata 'ha...' berarti setan tertawa dalam mulutnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Bersin berulang kali ketika Shalat.

Bersin setiap shalat merupakan gangguan setan, setan ingin menganggu kekhusyuan shalat kita dengan membuat bersin berulang-ulang. Seperti yang dikatakan Abdullah bin Mas'ud dalam Hadist riwayat Tabrani bahwa : "Bersin ketika shalat itu datangnya dari Setan", kemudian Ibnu Mas'ud berkata: "Bersin yang tidak disenangi Allah adalah ketika terjadi dalam Shalat, sedangkan bersin diluar Shalat itu tetap disenangi Allah".

9. Terasa ingin buang angin atau buang air.


Setan mengganggu Shalat seseorang dengan cara ingin membuang angin atau buang air. Rasulullah bersabda: "Apabila seorang dari kalian khawatir apa yang dirasakan di perutnya apakah keluar sesuatu darinya atau tidak, janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia yakin mendengar suara (keluarnya angin) atau mencium baunya". (HR. Muslim).

10. Terburu-buru menyelesaikan Shalat.


Membuat seseorang terburu-buru untuk menyelesaikan shalatnya. Dalam hal ini Ibu Khair berkata: "Sesungguhnya terburu-buru dalam shalat itu datangnya dari setan, karena sifat tergesah-gesah adalah sifat gegabah seseorang yang mengahalangi seseorang berhati-hati, tenang, dan santun.

Kejadian ini terjadi pada jaman Rasulullah, saat itu ada seseorang melaksanakan shalatnya dengan tergesa-gesa, akhirnya Rasulullah memerintahkan nya untuk mengulangi, karena shalat yang ia kerjakan belum Sah.

Kemudian Rasulullah bersabda: "Apabila kamu shalat, bertakbirlah (takbiratul ihram). Lalu bacalah dari Al-Qur'an yang mudah bagimu, lalu ruku'lah sampai kamu benar-benar ruku '(thuma'ninah), lalu bangkitlah dari ruku' sampai kamu tegak berdiri. Kemudian sujudlah sampai kamu benar-benar sujud (thuma'ninah) dan lakukanlah hal itu dalam setiap rakaat shalatmu". (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal itu tidak lain karena setan memang ingin menaggu Shalat seseorang dengan berbagai cara sehingga kita menjadi tidak fokus dan tidak khusyu dan membuat kita batal Shalat.

Hukum Bersumpah selain nama Allah dan Rasulullah


Sering kali tanpa kita sering bersumpah dengan nama Allah dan ada juga bersumpah dengan nama Rasulullah agar dapat meyakinkan kepada lawan bicara kita.

Apakah hal tersebut diperbolehkan ? berikut penjelasan yang saya dapatkan dari berbagai sumber yang saya cari.

Bersumpah dengan nama Selain Allah merupakan perbuatan syirik. Agar lebih kuat, berikut hadist nya :

"Barang siapa yang bersumpah dengan nama selain Allah maka sesungguhnya ia telah berbuat syirik". (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Al hakim, Shahih).
Dan ada juga hadist lain yang menerangkan bahwa:

Sesungguhnya, Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan nama-nama Bapak kalian. Siapa yang bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau diam". (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hal ini, Imam Ash Shan'ani rahimahullah berkata: "Dua hadist tersebut menunjukan larangan bersumpah dengan nama selain Allah. Maka larangan ini bersifat haram". (Subulussalam Syarah Balughul Maram, 2/545).

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah juga bersependapat bahwa: "Tidak boleh bersumpah selain nama Allah dalam semua perkara dan dalam keadaan apapun, ini adalah perkata yang sudah disepakati oleh semua kalangan ulama. Dijelaskan dalam Attam'i 14/366.

Dari Hadist-hadist tersebut maka dapat disimpulkan adalah tidak diperbolehkan. Kita sebagai umat muslim, hendaknya kita juga tidak mudah bersumpah dengan menyebut nama Allah, karena akan semakin kuat janji kita dihadapan Allah dan Allah lebih dekat di antara denyut nadi kita. Dan bila kita bersumpah dengan menyebut nama selain Allah dengan keyakinan bahwa ia sama agungnya dengan Allah, maka ini akan menjadi Syirik besar yang dapat mengeluarkan pelaku nya dalam Islam.

3 Mar 2015

Hal-hal Kecil Yang Mengantarkan Kita Ke Surga


Memberi minum hewan yang kehausan, walau hewan yang dianggap paling najis seperti anjing sekalipun.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah SAW, bahwa ada seorang laki-laki yang kehausan lalu turun kebawah untuk minum, lalu dia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya ke tanah karena kehausan, lalu dia berkata "anjing ini tengah mengalami apa yang kualami". lalu dipenuhi nya sepatu nya dengan air yang dibawa dengan menggunakan mulutnya lalu memanjat sumur tersebut dengan air, lalu dibawa nya air tersebut kepada anjing. Maka allah berterima kasih kepadanya dan diampuni dosanya untuk masuk ke dalam surga. (HR. Bukhari:168)  


Berucap baik yang selalu kita anggap sepele.

Hal ini sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan kedalam api neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seperti mengajak orang lain berbuat baik atau mengajarkan anak-anak kita mengajarkan makan yang baik hingga anak kita dewasa 


Bersedekah walau sebutir kurma.

Hal ini sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, " Tidaklah seseorang bersedekah dari harta yang baik dan halal, dan Allah tak menerima kecuali dari harta yang baik (halal), kecuali Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya walaupun berupa satu biji kurma dan dia akan berkembang di telapak tangan Ar Rahman hingga menjadi lebih besar dari gunung sebagaimana seseorang diantara kalian membesarkan anak kudanya." (HR. Tirmidzi No. 597). Dalam hadist ini di anjurkan kita perbanyak sedekah meski hanya sebutir kurma, namun kita harus bersedekah dari harta yang halal.

Seorang sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya menyakiti tetangganya. Lalu Rasulullah bersabda: 'Tidak ada kebaikan padanya ia di neraka.' Ia berkata lagi: "Dan si Fulanah hanya shalat lima waktu, dan sekedahnya sedikit tapi tidak pernah menyakiti siapapun." Kemudian Beliau bersabda: 'ia di dalam surga.' (HR. Ahmad dan Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam shahih Adabil Mufrad 88).

Dalam hadist ini dijelaskan bahwa apabila kita rajin kepada Allah SWT, namun pernah menyakiti hati orang lain, maka neraka lah ancamannya, dan sebaliknya apabila ibadah kita kurang sempurna namun tidak pernah menyakiti hati orang lain, maka Surga menjadi tempat terakhir kita 


Berdzikir setelah kita berwudhu.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa: 'aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki." (HR. Muslim)  .


Mengucapkan salam.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian tidak beriman secara sempurna sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara bila kalian lakukan akan saling mencinta? Biasakanlah mengucapkan salam di antara kalian (apabila berjumpa)." (HR. Muslim).

Jadi biasakanlah kita mengucapkan salam kepada teman, sanak saudara atau siapapun yang kita temui, karena selain mengantarkan kita ke surga, mengucapkan salam merupakan do'a kepada Allah SWT dan kepada orang yang kita beri salam.  


Membaca dan mencintai surat Al-Ikhlas.

Dari Abu Sahid Al Hudri, bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca berulang-ulang Qul huwa allaahu ahad, tatkala pagi hari orang yang mendengar tadi mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan kejadian tersebut dengan nada seakan-akan merendahkan Surat Al Ikhlas.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an." (HR. Bukhari no. 6643).

Selain itu Rasulullah SAW juga telah menjelaskan apabila kita sungguh-sungguh mencintai Surat Al Ikhlas, niscaya Allah SWT akan memasukkan kita kedalam surga. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Cintamu kepadanya (surat Al Ikhlas) memasukkanmu ke surga." (HR. Bukhari, Ahmad dan At Tirmidzi).

Maka kita sebagai hamba Allah SWT dan umat Nabi Muhammad SAW, ada baiknya kita melakukan hal kecil tersebut, disamping menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa dan ingatlah akan janji Allah SWT kepada hamba-Nya dan keindahan surga yang abadi.